Ada seorang wanita yang telah 4x kawin-cerai ditanyai, dari seluruh suami yang anda nikahi, mana yang paling anda cintai? Si wanita tidak memberikan 1 nama tapi ia memberikan 2 nama. Untuk sosok yang paling dia kagumi, hormati, segani dan ingat tiap ada masalah adalah suami nomor 2, karena suami nomor 2 adalah seseorang yang religius, bertanggungjawab dan bermanfaat pada orang banyak.
Tapi suami yang paling dia "senangi" adalah suami nomor 4 karena dia yang paling "seru" atau "asyik," misalnya mau mengajak si wanita ini bersama-sama keluar mandi hujan dan bernyanyi-nyanyi di tengah hujan, atau suka membawanya keliling kota sambil menggunakan pakaian aneh dan berteriak-teriak sambil tertawa lepas. Menariknya? Dengan suami nomor 4 pun dia cerai.
Mari membedah perempuan ini, ada apa dengan dirinya? Suami nomor 2 sesungguhnya sudah manusia sempurna; bertanggungjawab, bermanfaat untuk banyak orang, dan religius pula, mengapa ia harus bercerai dengan manusia baik-baik? Karena ia "belum selesai dengan dirinya sendiri," ia masih mencari sesuatu yang lain yaitu keseruan, keasyikan dan ia ingin diperlakukan bagaikan "putri di drama Korea."
"Ingin dimanjakan, ingin dibawa jalan-jalan ke Hong Kong, dan ingin dipamerkan kepada keluarga besarnya lengkap dengan pakaian seragam, kalau ini belum tercapai, apa kata orang?" Itulah dalam benak si wanita ini, akhirnya ia "berpetualang" di pernikahan² barunya demi pencariannya pada "suami sempurna" yang mau menjadikan dirinya "putri drama Korea," dan ia tak pernah menemukannya karena setiap pernikahannya berakhir dengan perceraian, bahkan dengan suami nomor 4 yang ia gelari sebagai "suami paling asyik."
Kita beralih cerita; di sisi lain ada seorang wanita yang mempertahankan pernikahannya dengan seorang lelaki _toxic._ Lelaki ini biasa memarahi tanpa sebab, mengancam dan memanipulasi perasaannya. Ketika ia marah, ia marah habis²an, tapi ketika ia tersudut ia akan menangis sejadi-jadinya seraya berkata bahwa dirinya lah yang tersedia untuk si wanita, bukan keluarga si wanita. Mereka sering berkelahi hebat, tapi mereka tak kunjung pisah.
Semua orang menanyai si perempuan, mengapa kau tak berpisah dari pasangan yang _toxic_ itu? Rupa²nya karena *insecurity* atau minder. Wanita ini memang diperlakukan buruk, tapi si lelaki itu memberinya "kehadiran" yang tidak diperoleh si wanita dari keluarganya yang broken home. Ayahnya pemabuk, ibunya sibuk menjadi influencer, adiknya asyik dengan dunianya sendiri, wanita ini merasa kesepian dan suami toxic-nya ini memberikan si wanita "kehadiran" yang sudah lama ia inginkan dari keluarganya.
Apa persamaan wanita yang selalu cerai tadi, dengan wanita yang mempertahankan suami _toxic_ ini? Keduanya sama-sama "belum selesai dengan dirinya sendiri," keduanya sama-sama minder alias insecure! Insecurity atau rasa minder mereka menyesatkan pikiran mereka, mendorong mereka mengambil keputusan² tak masuk akal!
Insecurity mendorong wanita 1 selalu mengkhawatirkan apa kata orang lain, merasa dirinya selalu diintai dan dihakimi masyarakat sehingga ia selalu berpetualang mencari "lelaki sempurna" yang ironisnya, sudah ia temukan di suami ke-2 tapi malah ia ceraikan. Wanita 2 sedemikian kesepian dan sedihnya sehingga ia merelakan dirinya disiksa dalam rumah tangga yang manipulatif dan menyiksa.
Wanita 1 sebenarnya sudah menemukan apa yang dicarinya pada suami ke-2, tapi insecurity alias minder memperdayanya, meniup-niupkan waswas di kepalanya bahwa ia perlu suami lain. Wanita 2 sebenarnya harus menceraikan suaminya, tapi insecurity alias minder menyesatkannya, meniup-niupkan bisikan ke kepalanya bahwa si suami selalu ada untuknya di kala ia kesepian; tidak ada manusia sempurna, jadi tahankanlah lelaki manipulatif ini, pikirnya.
Mereka ini seperti pecandu narkobah (penagih dadah dalam bahasa Malaysia). Mereka tau narkoba itu buruk, tapi mereka tak tahan dengan kesenangan sesaat, _fly_ atau _high_ sesaat yang diberikan narkoba. Wanita 2 tau suaminya buruk tapi ia pertahankan karena suaminya bagaikan pemberi narkoba yang selalu memarahinya tapi selalu memberinya narkoba di saat yang bersamaan. Wanita 1 tidak ridha dengan suami ke-2 karena suami ke-2-nya itu tak mau memberinya narkoba; sehingga ia mencari di tempat lain, di lelaki lain!
Jika saya ditanya apa masalah dan solusi kepada kedua wanita di atas: Tuhan. Mereka berdua insecure, minder dan "belum selesai dengan dirinya sendiri" adalah karena mereka belum menemukan atau belum memiliki Tuhan. Sebenarnya jiwa mereka kosong; wanita 1 mencoba mengisi kekosongannya dengan kawin-cerai dan wanita 2 mencoba mengisi kekosongan jiwanya dengan bertahan di rumah tangga manipulatif.
Bisa saja mereka salat, umrah, baca Alquran dan mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, tapi mereka belum benar² "menemukan dan "memiliki" Allah. Jika wanita 1 telah "menemukan dan memiliki" Tuhan, seharusnya ia berkata: "Aku bersyukur memiliki Tuhan Yang Maha Baik, oleh karenanya aku puas dengan apa yang aku miliki, aku tidak lagi mempedulikan apa kata orang, dan aku sangat bersyukur dipertemukan dengan suamiku ini (suami nomor 2) dan aku akan berusaha mematuhinya!"
Sedangkan wanita 2 jika ia telah "menemukan dan memiliki" Tuhan seharusnya ia berkata: "Aku memiliki Tuhan Yang Maha Hadir sehingga aku tidak merasa kesepian walau aku hanya sendirian, dan karena Tuhanku adalah Allah Yang Maha Bijaksana, aku tidak takut untuk melangkah keluar dari hubungan yang buruk ini, karena aku tau Allah akan memberikan aku ganti yang lebih baik."
Kecanduan narkoba (ketagih dadah), selalu mencari pasangan baru dan bertahan dalam hubungan buruk memiliki persamaan: Jiwanya kosong. Maka jiwa yang kosong itu hendaknya diisi dengan "Tuhan" sehingga ia bisa menjadi bersyukur dan merasa benar² cukup, yang kemudian kesyukuran dan rasa cukup itu akan membebaskan pikiran mereka dari insecurity dan minder, lalu kemudian menghantarkan mereka "selesai dengan dirinya sendiri!" Wallahua'lam.
Tulisan ini sudah lengkap, tapi tak sesuai dengan judulnya: "Menemukan dan memiliki Tuhan," tidak dibahas di sini bagaimana "cara menemukan dan memiliki Tuhan?" Tidak akan kita bahas di sini, karena tulisan ini sudah terlalu panjang dan saya tidak mau kasih tau caranya. (karena saya pun sebenarnya tidak tau caranya) 😃
YM. Ustadz
01/07/25
17.13 WIB