Tuesday, September 9, 2025

Bahasa Inggris dan Keterbukaan Pikiran

*Bahasa Inggris dan Keterbukaan Pikiran*

Sekitar tahun 2010an Bappenas pernah menyelenggarakan diskusi terbatas membahas mengapa kebanyakan SDM Indonesia memiliki mutu yang rendah. Ada beberapa faktor, namun salah satu faktornya adalah rendahnya kemampuan berbahasa Inggris rakyat Indonesia. Kalau kita membandingkan diri dengan tetangga terdekat, Singapura memiliki kemampuan bahasa Inggris terbaik ke-5 di dunia, Malaysia di peringkat 30 dan Indonesia ada di peringkat ke 83. Sejak Singapura memisahkan diri dari Malaysia tahun 1965, mereka langsung memutuskan bahasa Inggris menjadi bahasa utama menggantikan bahasa Melayu.

Lalu, apa hubungannya keterbukaan pikiran dengan kefasihan berbahasa Inggris? Bahasa Inggris saat ini adalah bahasa internasional sehingga berbagai informasi dan ilmu, ada lebih banyak dalam bahasa Inggris. Mau itu ilmu akuntansi, ekonomi, filsafat, bahkan terkadang ilmu agama, pun lebih banyak tersedia dalam informasi bahasa Inggris. 

Jika kita banker dan ingin mengetahui perkembangan sistem perbankan tentu informasi lebih banyak dal bahasa Inggris, sama halnya dengan perkembangan medis, maupun teknik bertukang bangunan. Bahkan hal paling sepele sekalipun, konten² game pun lebih banyak dalam bahasa Inggris. Tak mengherankan mengapa gamer² terbaik di Indonesia, biasanya bisa berbahasa Inggris. Sekurang²nya, orang yang pandai berbahasa Inggris bisa main game lebih baik daripada mereka yang tidak berbahasa Inggris.

Apa akibat dari lemahnya kemampuan bahasa Inggris Indonesia? Salah satunya adalah keterlambatan mencerna ilmu. Sederhananya begini, tahun 1989 ada buku luarbiasa berjudul "7 Habits Of Highly Effective People" oleh Stephen R. Covey, komunitas internasional yang fasih dengan bahasa Inggris sudah menikmati pencerahannya, sedangkan rakyat Indonesia kebanyakan baru mencerna buku tersebut bertahun-tahun kemudian setelah menunggu terjemahan bahasa Indonesianya. 

Itu dalam hal buku, kita bisa bayangkan dalam hal perbankan, medis, ilmu bangunan, kita serba terlambat. Bahkan dalam hal komedi pun kita terlambat. Istilah _meme_ yang sekarang populer; gambar singkat yang biasanya berisikan tulisan lucu. _Meme_ sudah menjadi fenomena setidaknya tahun 2011, namun rakyat Indonesia secara luas mengenal _meme_ mungkin baru sekitar tahun 2019?

Menurut saya: Rendahnya kemampuan berbahasa Inggris kita, berbanding lurus dengan tertutupnya pikiran kita. Rendahnya kita mengkonsumsi konten dari luar, mencerminkan sebenarnya kita ini keras kepala. Betapa kita hanya mengkonsumsi artikel, video youtube, buku, film, hanya dalam bahasa kita menunjukkan sempitnya pengetahuan kita. Dan tertutupnya pikiran, kerasnya kepala kita dan sempitnya pengetahuan kita menunjukkan betapa kita sebenarnya hanyalah katak dalam tempurung.

Jika kita ingin mencerna informasi yang lebih luas, memperluas sudut pandang kita dan tidak dikotak-kotakkan oleh pemahaman yang sempit, memang kita harus melatih diri berbahasa Inggris, bukan untuk komunikasi bahasa Inggris, tapi sekedar untuk mampu memahami tontonan dan bacaan dalam bahasa Inggris. Sebenarnya saya tidak fanatik berbahasa Inggris, 10 tahun lalu saya sangat benci mendengar orang berbahasa Inggris, karena saya merasa mereka _sok inggris²an._

Sekarang saya tidak benci melihat orang berbahasa Inggris, dan tidak juga benci melihat orang berbahasa Indonesia. Sekarang saya hanya melihat bahasa Inggris adalah tuntutan bagi saya untuk memahami dunia lebih mendalam. Mau itu dalam hal agama, politik, budaya, asal usul suatu suku, medis, kesehatan, musik, seni, bahkan hal paling sepele sampai informasi film ataupun game, menuntut kemampuan berbahasa Inggris.

Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi luaskanlah pikiran. Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi kurangilah keras kepala. Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi luaskanlah cakrawala ilmu. Bagaimana cara meluaskan pikiran, mengurangi keras kepala dan memperluas cakrawala ilmu? Pahamilah bahasa Inggris! Bukan untuk berkomunikasi, tapi untuk menyerap informasi dan ilmu.
Inilah tuntutan kalau kita mau belajar di tahun 2025 dimana manusia antarbangsa berkomunikasi dalam bahasa Inggris; mungkin kalau kita hidup tahun 1100 di zaman dominasi Dinasti Abbasiyah tuntutan memahami ilmu internasional adalah belajar Arab, atau Persia.

YM. Ustadz 
08/09/2025
19.09 WIB

Monday, August 18, 2025

Falsafah Kebahagiaan.

Falsafah Kebahagiaan.

Dengan mengatakan seseorang sesuatu sebagai sumber kebahagiaan kita. 
Karena seseorang/sesuatu hanyalah pemicu/trigger kebahagiaan. 
Sedangkan penyebab kebahagiaan itu adalah hati yang bersyukur dan ridha, Ketika kita mengatakan seseorang/sesuatu sebagai sumber kebahagiaan, kita akan bersedih jika seseorang/sesuatu itu berubah sifat dan keadaannya.

Yang mengatakan anak sebagai sumber kebahagiaannya akan sedih ketika melihat anaknya tak menyetujuinya. Yang mengatakan cucu sebagai sumber kebahagiaannya akan sedih ketika melihat cucunya membesar dan tak lagi manja kepadanya. Yang mengatakan minuman coklat panas sumber kebahagiaannya akan bersedih ketika pabrik/kilang minuman coklat panas itu tutup

Sadarilah bahwa kita sudah utuh, lengkap, mampu dan layak bahagia walau tanpa anak, cucu ataupun coklat panas. Ketika kita mensyukuri segala sesuatu kita akan mampu menemukan pemicu-pemicu dan trigger-higger kebahagiaan lainnya. Ketika kita meridhai segala sesuatu kita akan sadar betapa kita sudah utuh, bisa dan layak berbahagia walau tanpa anak, cucu, coklat panas atau apapun

Manusia yang mengatakan anak, cucu dan coklat panas sumber kebahagiaannya adalah manusia yang sakit jiwanya dan/atau akan sakit jiwanya, Katergantungan pada seseorang/sesuatu apapun adalah akar dari banyak penyakit kejiwaan, itu sebabnya, ridha akan takdir, menyadari semuanya bukan miliknya melainkan hanya titipan adalah obat sakit jiwa yang paling kuat dosisnya. Lebih lagi jika dilengkapi dengan hati yang bersyukur, yang selalu berusaha mencari hikmah.

Tuesday, July 1, 2025

Menemukan dan Memiliki Tuhan

*Menemukan dan Memiliki Tuhan*

Ada seorang wanita yang telah 4x kawin-cerai ditanyai, dari seluruh suami yang anda nikahi, mana yang paling anda cintai? Si wanita tidak memberikan 1 nama tapi ia memberikan 2 nama. Untuk sosok yang paling dia kagumi, hormati, segani dan ingat tiap ada masalah adalah suami nomor 2, karena suami nomor 2 adalah seseorang yang religius, bertanggungjawab dan bermanfaat pada orang banyak.

Tapi suami yang paling dia "senangi" adalah suami nomor 4 karena dia yang paling "seru" atau "asyik," misalnya mau mengajak si wanita ini bersama-sama keluar mandi hujan dan bernyanyi-nyanyi di tengah hujan, atau suka membawanya keliling kota sambil menggunakan pakaian aneh dan berteriak-teriak sambil tertawa lepas. Menariknya? Dengan suami nomor 4 pun dia cerai.

Mari membedah perempuan ini, ada apa dengan dirinya? Suami nomor 2 sesungguhnya sudah manusia sempurna; bertanggungjawab, bermanfaat untuk banyak orang, dan religius pula, mengapa ia harus bercerai dengan manusia baik-baik? Karena ia "belum selesai dengan dirinya sendiri," ia masih mencari sesuatu yang lain yaitu keseruan, keasyikan dan ia ingin diperlakukan bagaikan "putri di drama Korea."

"Ingin dimanjakan, ingin dibawa jalan-jalan ke Hong Kong, dan ingin dipamerkan kepada keluarga besarnya lengkap dengan pakaian seragam, kalau ini belum tercapai, apa kata orang?" Itulah dalam benak si wanita ini, akhirnya ia "berpetualang" di pernikahan² barunya demi pencariannya pada "suami sempurna" yang mau menjadikan dirinya "putri drama Korea," dan ia tak pernah menemukannya karena setiap pernikahannya berakhir dengan perceraian, bahkan dengan suami nomor 4 yang ia gelari sebagai "suami paling asyik."

Kita beralih cerita; di sisi lain ada seorang wanita yang mempertahankan pernikahannya dengan seorang lelaki _toxic._ Lelaki ini biasa memarahi tanpa sebab, mengancam dan memanipulasi perasaannya. Ketika ia marah, ia marah habis²an, tapi ketika ia tersudut ia akan menangis sejadi-jadinya seraya berkata bahwa dirinya lah yang tersedia untuk si wanita, bukan keluarga si wanita. Mereka sering berkelahi hebat, tapi mereka tak kunjung pisah.

Semua orang menanyai si perempuan, mengapa kau tak berpisah dari pasangan yang _toxic_ itu? Rupa²nya karena *insecurity* atau minder. Wanita ini memang diperlakukan buruk, tapi si lelaki itu memberinya "kehadiran" yang tidak diperoleh si wanita dari keluarganya yang broken home. Ayahnya pemabuk, ibunya sibuk menjadi influencer, adiknya asyik dengan dunianya sendiri, wanita ini merasa kesepian dan suami toxic-nya ini memberikan si wanita "kehadiran" yang sudah lama ia inginkan dari keluarganya.

Apa persamaan wanita yang selalu cerai tadi, dengan wanita yang mempertahankan suami _toxic_ ini? Keduanya sama-sama "belum selesai dengan dirinya sendiri," keduanya sama-sama minder alias insecure! Insecurity atau rasa minder mereka menyesatkan pikiran mereka, mendorong mereka mengambil keputusan² tak masuk akal! 

Insecurity mendorong wanita 1 selalu mengkhawatirkan apa kata orang lain, merasa dirinya selalu diintai dan dihakimi masyarakat sehingga ia selalu berpetualang mencari "lelaki sempurna" yang ironisnya, sudah ia temukan di suami ke-2 tapi malah ia ceraikan. Wanita 2 sedemikian kesepian dan sedihnya sehingga ia merelakan dirinya disiksa dalam rumah tangga yang manipulatif dan menyiksa.

Wanita 1 sebenarnya sudah menemukan apa yang dicarinya pada suami ke-2, tapi insecurity alias minder memperdayanya, meniup-niupkan waswas di kepalanya bahwa ia perlu suami lain. Wanita 2 sebenarnya harus menceraikan suaminya, tapi insecurity alias minder menyesatkannya, meniup-niupkan bisikan ke kepalanya bahwa si suami selalu ada untuknya di kala ia kesepian; tidak ada manusia sempurna, jadi tahankanlah lelaki manipulatif ini, pikirnya.

Mereka ini seperti pecandu narkobah (penagih dadah dalam bahasa Malaysia). Mereka tau narkoba itu buruk, tapi mereka tak tahan dengan kesenangan sesaat, _fly_ atau _high_ sesaat yang diberikan narkoba. Wanita 2 tau suaminya buruk tapi ia pertahankan karena suaminya bagaikan pemberi narkoba yang selalu memarahinya tapi selalu memberinya narkoba di saat yang bersamaan. Wanita 1 tidak ridha dengan suami ke-2 karena suami ke-2-nya itu tak mau memberinya narkoba; sehingga ia mencari di tempat lain, di lelaki lain!

Jika saya ditanya apa masalah dan solusi kepada kedua wanita di atas: Tuhan. Mereka berdua insecure, minder dan "belum selesai dengan dirinya sendiri" adalah karena mereka belum menemukan atau belum memiliki Tuhan. Sebenarnya jiwa mereka kosong; wanita 1 mencoba mengisi kekosongannya dengan kawin-cerai dan wanita 2 mencoba mengisi kekosongan jiwanya dengan bertahan di rumah tangga manipulatif.

Bisa saja mereka salat, umrah, baca Alquran dan mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, tapi mereka belum benar² "menemukan dan "memiliki" Allah. Jika wanita 1 telah "menemukan dan memiliki" Tuhan, seharusnya ia berkata: "Aku bersyukur memiliki Tuhan Yang Maha Baik, oleh karenanya aku puas dengan apa yang aku miliki, aku tidak lagi mempedulikan apa kata orang, dan aku sangat bersyukur dipertemukan dengan suamiku ini (suami nomor 2) dan aku akan berusaha mematuhinya!"

Sedangkan wanita 2 jika ia telah "menemukan dan memiliki" Tuhan seharusnya ia berkata: "Aku memiliki Tuhan Yang Maha Hadir sehingga aku tidak merasa kesepian walau aku hanya sendirian, dan karena Tuhanku adalah Allah Yang Maha Bijaksana, aku tidak takut untuk melangkah keluar dari hubungan yang buruk ini, karena aku tau Allah akan memberikan aku ganti yang lebih baik."

Kecanduan narkoba (ketagih dadah), selalu mencari pasangan baru dan bertahan dalam hubungan buruk memiliki persamaan: Jiwanya kosong. Maka jiwa yang kosong itu hendaknya diisi dengan "Tuhan" sehingga ia bisa menjadi bersyukur dan merasa benar² cukup, yang kemudian kesyukuran dan rasa cukup itu akan membebaskan pikiran mereka dari insecurity dan minder, lalu kemudian menghantarkan mereka "selesai dengan dirinya sendiri!" Wallahua'lam.

Tulisan ini sudah lengkap, tapi tak sesuai dengan judulnya: "Menemukan dan memiliki Tuhan," tidak dibahas di sini bagaimana "cara menemukan dan memiliki Tuhan?" Tidak akan kita bahas di sini, karena tulisan ini sudah terlalu panjang dan saya tidak mau kasih tau caranya. (karena saya pun sebenarnya tidak tau caranya) 😃

YM. Ustadz 
01/07/25
17.13 WIB

Thursday, February 6, 2025

Bukan Sekedar Kebersihan

*Bukan Sekedar Kebersihan*

Mari merenung: Ada seorang tukang bangunan, ia selalu menyapu lokasi pembangunannya (_worksite_) setiap selesai bekerja, kemudian peralatan kerjanya seperti cangkul, palu (hammer), bor (drill), paku semuanya dia letakkan di 1 tempat dengan rapi agar besok ketika memulai bekerja ia bisa mudah menemukan peralatannya. Kemudian saat ia bekerja, ia kerjakan dengan cantik dan rapi, ia tak bisa menerima jika ada hasil kerja yang kurang bagus. Ia rela bongkar ulang lagi demi hasil yang terbaik. Mari renungkan: Apa akar atau dasar dari perilaku si tukang bangunan?

Contoh lain: Seorang tukang jahit, setiap selesai menjahit ia bersihkan mesin jahitnya, ia minyaki mesin jahitnya, lalu ia simpan peralatan jahit seperti gunting, meteran (pengukur badan) di satu tempat yang sama dengan rapi. Lalu saat ia menjahit, ia kerjakan dengan baik, jika ada yang kurang pas ia bongkar ulang, dan demi menepati janjinya kepada pelanggan ia rela lembur sampai malam agar memberikan jahitan terbaik kepada pelanggannya. Mari renungkan: Apa akar atau dasar dari perilaku si penjahit?

Contoh lain lagi: Ada orang yang tiap malam selalu patroli di rumahnya untuk check tiap pintu sudah kah dikunci, sanyo air sudah kah dimatikan, lampu sudah kah dimatikan. Kemudian kamarnya selalu ia ganti sprei maksimal tiap 5 hari. Kamarnya ia sapu, pel, dan vacuum bila perlu. Mobil dan sepeda motornya selalu ia service sesuai jadwal di dealer resmi. Ia tidak menumpahkan makanan dan minuman di mobilnya agar mobil tak berbau, bahkan ia menghindari banyak makan di mobil demi menjaga kebersihan mobilnya. Mari renungkan: Apa akar atau dasar dari perilaku si pemilik rumah dan kendaraan ini?

Pembersih, peduli, menghormati barang, menghormati pekerjaan, amanah. *Akar atau dasar dari segala perilaku di atas adalah amanah, dan amanah itu adalah akhlak terpuji dalam Islam dan merupakan salah satu sifat utama Rasulullah saw.* Saking amanahnya ia digelari al-amin yang artinya jujur dan bisa dipercaya (amanah). Nabi saw itu menamai sisir rambutnya, pedangnya, untanya, dan berbagai benda mati yang ia miliki. Beliau tidak cinta dunia, tidak. Sisir rambut dan barang²nya adalah barang² sederhana dan tidak mewah. 

*Beliau tidak cinta dunia, beliau tidak mewah, tapi beliau amanah.* Dan karena amanahnya, segala barang pribadinya sampai ia beri nama, dan tentu rawat dengan baik. Saya punya keyakinan, sekiranya Rasulullah saw hadir hari ini dan menjadi seorang tukang bangunan; ia akan berperilaku seperti tukang di atas. Jika Rasulullah saw hadir hari ini dan menjadi seorang penjahit; dia akan menjadi seperti penjahit di atas. Dan jika Rasulullah saw hadir hari ini, memiliki rumah dan kendaraan, beliau akan merawat rumah dan kendaraannya seperti pemilik rumah di atas.

Itu sebabnya, ketika kita diminta untuk merawat dapur, menyempurnakan denah dapur kita, mengasah pisau dapur kita, menservice rutin kendaraan kita, atau membersihkan kamar mandi kita, kita bukan sekedar diminta untuk menjadi pembersih, kita sedang diminta menjadi amanah. Ketika kita berperilaku amanah, kita akan menjaga apa yang diamanahi dengan baik; peralatan bangunan, mesin jahit, rumah, kendaraan, tubuh, dan lain sebagainya. Kita akan rawat dengan baik bukan karena kita cinta dunia atau lupa akhirat. Tapi kita merawatnya karena mensyukuri pemberian dan kemurahan Allah Swt kepada kita.

Ketika sifat amanah hadir dalam kalbu seseorang, tiba² ia akan menjelma menjadi "alien," dalam pengertian positif. Ia menjadi "alien" atau "asing" karena unggulnya perilakunya. Ia akan menjadi pembersih, perawat, peduli, profesional, pekerja keras, bekerja tuntas, itqan, bahkan mendekati perfeksionis. Itu sebabnya, perilaku bersih, profesional dan perfeksionis dalam bekerja itu penting. Karena ia bukan sekedar kebersihan. Ia adalah tentang amanah. Dan amanah itu adalah perintah langsung dari Tuhan Semesta Alam! Wallahua'lam.

YM Ustaz
6/02/2025
06.59 WIB

Sunday, January 26, 2025

Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah

*Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah*

Setelah selesai menunaikan salat Jumat, coba tanya pada khatib yang tadi bertugas: "Mengapa anda berkhutbah?" Kira² apa jawaban yang akan kita dengar? Untuk memenuhi rukun salat Jumat, untuk menggugurkan kewajiban, karena ditugaskan pengurus masjid setempat, dan lain-lain. Adakah yang akan berkata: Karena saya ingin mengubah jamaah saya? Atau karena saya ingin mengurangi penderitaan hidup jamaah saya? Mungkin ada, tapi dari 100 orang seberapa banyak? Mungkin 5? Atau 3? Atau 1? Atau 0?

Tentu saja khutbah Jumat adalah ibadah wajib demi menunaikan perintah Allah, itu kita setuju. Tapi coba renungkan, apa alasan Allah Swt mensyariatkan wajibnya ada khutbah Jumat? Tentu saja untuk mengubah orang lain! Allah Swt menghendaki orang yang suka judi online berhenti, Allah Swt menghendaki orang yang biasa membelanjakan hartanya dengan boros berhenti, Allah Swt menghendaki seorang anak merasa damai di rumahnya karena kini ayahnya tidak pemarah lagi, dan seterusnya.

Pertanyaan berikutnya, coba tanyakan ustaz yang mengisi pengajian Isra Miraj, apa alasan dia berceramah? Apa jawaban yang mungkin akan kita terima? Pahala kah, mengharap berkah kah, atau jika jujur mungkin ada yang berkata karena dapat duit banyak kah. Yang pasti, akan kah kita mendengar jawaban seperti: Karena saya ingin mengubah? Mungkin sedikit. Atau tanyakan pada ustaz yang mengampu pengajian kitab kuning milik ulama zaman dulu; apa tujuan anda mengkaji kitab kuning? Apakah semata untuk mengaji, ataukah untuk mengubah orang lain?

Kita beralih ke kaum non-agama, tanyakan pada guru dan cikgu di sekolah, untuk apa anda mengajar? Untuk duit kah? Untuk mengisi waktu luang kah? Untuk menambah pengalaman kah? Tanyakan pada dosen dan pengajar di perkuliahan, untuk apa anda mengajar? Untuk gaji kah? Untuk mendapat rekomendasi pangkat lebih tinggi kah? Yang pasti: Nyaris tidak ada yang akan berkata saya mengajar untuk mengubah orang lain. Mengapa kita hanya memikirkan diri sendiri? Pahalaku, kewajibanku, ibadahku, uangku, duitku, gajiku, pangkatku, kenaikan pangkatku, hafalanku, kefasihan bahasa arabku, aku, aku dan aku. Kenapa ruang di kepala kita tidak banyak memikirkan kamu dan kita? 

Seorang khatib saat ia berceramah, sadar kah ia bahwa salah satu jamaahnya terjerat judi online dan telah merugikan banyak uang orangtuanya dan saat ini orangtuanya sedang berdoa supaya anaknya berubah? Seorang ustaz ketika berceramah Isra Miraj, sadar kah ia bahwa salah seorang jamaahnya adalah seorang ayah yang sangat pemarah sehingga tak membuatnya betah di rumahnya dan saat ini anak itu berdoa sampai menangis agar ayahnya berubah? Seorang pengampu kitab Ihya 'Ulumuddin sadar kah ia bahwa di pengajiannya hadir seorang istri yang sangat membebani suaminya dan suaminya begitu mengharap perubahan sang istri?

Pertanyaannya: Apakah kita peduli dengan pendengar kita? Atau bahkan sadar kah kita bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja? Ataukah kita lebih asyik dengan: Pahalaku, ibadahku, hafalanku, bahasa arabku, pemahamanku, dan seterusnya? Kita perlu sadar bahwa Islam diturunkan Allah Swt dengan tujuan untuk mengubah manusia dan kemanusiaan. Kita perlu sadar bahwa Rasulullah saw memulai sunnah mengaji demi mengubah orang lain. Kita perlu sadar bahwa tujuan agama itu mengubah. Kita perlu sadar bahwa tujuan keberadaan Alquran itu untuk mengubah.

Tidak masalah, bagus bahkan jika kita suka menghafal dalil Alquran maupun hadis. Tidak masalah bahkan bagus jika kita sangat menyukai kajian mendalam kitab Ihya' atau sejarah hidup Imam al Ghazali. Tapi perlu kita sadari bahwa keberadaan agama itu sendiri adalah untuk mengubah orang lain. Itu sebabnya; keasyikan dengan ilmu jangan sampai membuat kita lupa akan tujuan ilmu itu sendiri. Keasyikan kita mengaji jangan membuat kita lupa tujuan akhir dari mengaji itu sendiri: Mengubah diri sendiri dan orang lain.

Benar bahwa perubahan itu di Tangan Allah, Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya dan kita tiada daya, benar. Tetapi itu bukanlah alasan untuk tidak mempedulikan orang lain. Bayangkan: Orang yang berniat mengubah orang lain saja bisa gagal dalam ceramahnya, apalagi yang memang tidak ada niat mengubah sama sekali? Rasulullah saw yang amat berat baginya penderitaan orang lain dan amat menginginkan keimanan bagi kita itu pun masih bisa ditolak dakwahnya? Lantas bagaimana kita yang membuka forum kajian semata untuk mengupas kitab atau teks tanpa peduli dengan keimanan dan penderitaan orang lain? Wallahua'lam.

YM Ustaz
26/01/2025
06.58 WIB

Thursday, January 23, 2025

Sakinah Sebelum Mawaddah Warahmah

Sakinah Sebelum Mawaddah Warahmah

Sebenarnya apa arti kalimat samawa (sakinah mawaddah warahmah) dan apa relevansinya dengan pernikahan? Sakinah itu ketenangan. Mawaddah itu cinta yang datang dari ketertarikan fisik pada lawan jenis. Rahmah itu artinya kasih sayang yang mendatangkan kemaafan. Soal mawaddah dan rahmah itu definisinya ada begitu banyak dan beda ulama beda pula definisinya; begitulah hasil pencarian saya di internet.

Tapi satu hal yang pasti semua sepakat, sakinah itu artinya ketenangan dan kedudukannya lebih awal (dan mungkin lebih utama) dibanding mawaddah dan rahmah. Apa tujuan pernikahan? Jangan tanyakan pada lajang yang belum menikah. Tanyakan pada yang sudah menjalani 10 tahun lebih. Tanyakan pada yang sudah menjalani 20an tahun lebih. Saya menduga mereka akan menjawab: "Mencari ketenangan." Masalahnya, apakah yang sudah 10 atau 20 tahun menikah itu mendapat ketenangan? 😀

Yang pasti: Sakinah atau ketenangan itu akibat. Sebabnya adalah akhlak mulia masing² suami dan istri. Suami atau istri yang kurang pemarah, kurang kasar, kurang cinta dunia, kurang panjang angan-angan, kurang suka uang, kurang mewah, dan seterusnya pasti lebih tenang hidupnya dan lebih menenangkan pasangannya. Sebaliknya, suami atau istri yang pemarah, kasar, cinta dunia, panjang angan-angan, suka uang, mewah, dan seterusnya pasti kurang tenang hidupnya dan kurang menenangkan pasangannya.

Betapa banyak suami² merasakan kegelisahan saat pulang ke rumah, atau saat istrinya hadir di dekatnya karena istrinya bukan main pemarah dan banyak angan. Sebaliknya betapa banyak istri² yang merasakan terancam di rumahnya karena suami yang pemarah dan kasar. Ini suasana dimana "sakinah" tidak hadir. Dan ketika "sakinah" tidak hadir, ketertarikan fisik hilang, rasa ingin bersama hilang. Ketika sakinah tiada, mawaddah warahmah mustahil hadir!

Namun rumah tangga tak sakinah itu dipertahan-tahankan karena anak sudah banyak, aset rumah atau rekening bank atas nama bersama, bisnis dirintis bersama, malu pada masyarakat, dan lain-lain sebagainya. Dalam rumah tangga yang tidak ada ketenangan; bahagia pasti tiada. Tak peduli seberapa cantik istrinya, seberapa ganteng suaminya, seberapa besar rumah mereka, seberapa banyak simpanan duit mereka, mereka tak akan bahagia. Orang lain mungkin melihat istrinya cantik bagai bidadari, tapi si suami melihatnya menyeramkan bagai kuntilanak. Orang lain melihat si suami gagah bagai hercules, tapi si istri melihat suaminya memuakkan bagai sandal jepit.

Itu sebabnya jangan sekedar berdoa agar rumah tangga dikekalkan. Berdoalah rumah tangga kekal dalam akhlak mulia. Persatuan itu akibat. Cinta kasih itu akibat. Rasa ingin bersama itu akibat. Penyebabnya adalah akhlak mulia. Penyebabnya adalah sedikitnya marah, sedikitnya angan-angan, kesederhanaan menjalani hidup, salat 5 waktu, kecintaan pada Allah dan RasulNya, sedikitnya membanding-bandingkan, tidak materialistik, tidak memboros, santun berkata-kata, dan seterusnya.

Kebersamaan tanpa akhlak mulia itu penderitaan. Jika pernikahan dijalani tanpa akhlak mulia dari kedua pihak, hanya akan ada 2 kemungkinan hasil: Menderita atau cerai. Kedua²nya tidak enak. Itu sebabnya betapa benarnya konsep "sakinah mawaddah warahmah" itu. Sakinah (ketenangan) itu mendahului rasa suka dan rasa cinta. Tanpa ketenangan, suka dan cinta tiada. Pernikahan, bahkan perkumpulan apapun akan punah jika tiada ketenangan. Dan azas dari ketenangan itu tak lain adalah kebaikan hati.

Akhirnya kita berkaca, betapa kelirunya cara kita mencari pasangan. Coba tanyakan kenapa dulu kita menikah? Kenapa dia yang kita pilih? Saya bertaruh hampir 100% menjawab karena suka, cinta, atau tertarik. Dengan perkataan lain; kita mencari pasangan dan memasuki pernikahan dengan "mawaddah warahmah" dan menomortigakan "sakinah." Orang memasuki pernikahan tanpa mempertimbangkan akan kah kita tenang jika menjalani dengannya nanti? Satu²nya yang dipikirkan ialah: "Aku akan gelisah kalau calonku ini direbut orang lain."

Akhirnya, pengabaian terhadap konsep sakinah dibayar dengan pernikahan tak bahagia atau perceraian. Penderitaan dan perceraian itu adalah denda (fine) yang dibayar karena kita tidak membayar pajak (tax) bernama sakinah. Di negara, jika tidak ingin kena denda (fine) bayarlah pajak (tax). Dalam rumah tangga jika tidak ingin mendapat denda penderitaan dan perceraian; pedulikanlah sakinah, wujudkanlah ketenangan, kerjakanlah akhlak mulia. Setelah itu, semuanya mengalir. Wallahua'lam.

Monday, October 21, 2024

Tauhid Di Akhir Hayat

*Tauhid Di Akhir Hayat*

Bayangkan: Sekiranya saat ini Tuhan memperkenankan untuk kita, mewujudkan apapun keinginan kita. Apa yang akan kita minta dariNya? Apakah cita-cita kita yang telah lama kita pendam? Apakah harta benda yang telah lama kita impikan? Ataukah istana megah di surga berisikan bidadari-bidadari nan jelita rupawan? Alangkah indahnya jika kita berkata pada Tuhan: "Wahai Tuhan, hanya Engkau yang ku maksud, dan hanya keridhaanMu yang hamba tuntut." (Ilahi anta maqsudi waridhaka matlubi).

Demikianlah sikap Rasulullah saw di akhir hayat beliau; ketika ditawarkan antara 2 pilihan; 1. Keabadian dunia-akhirat tanpa hilangnya keridhaanNya, 2. Segera menemuiNya, beliau memilih yang ke-2 sambil tersenyum, "Aku memilih yang Maha Hidup," kata Beliau. Sebenarnya, mindset, ucapan dan sikap Rasulullah saw itu lah hakikat dari meniadakan (menafikan) dan menetapkan (mengisbatkan) Tiada Tuhan selainNya; tiada yang dituju selainNya, tiada yang dicinta selainNya, itulah di antara esensi mengucap Laa Ilaha Illallah. Maka, untuk mengupayakan akhir hayat mengucap "Laa Ilaha Illallah," upayakanlah untuk menuju hanya kepadaNya, mencintai hanya Dia, dan mengharapkan hanya keridhaanNya.

YM Ustaz
24/5/2022
04:48 WIB

Sunday, July 28, 2024

Bisa Diajarin (Teachable)

*Repost Fatwa YM* 
-----------------------------
*Ustadz.*
-------------

*Bisa Diajarin (Teachable)*

Steve Jobs, mantan CEO Apple, yang dipandang sebagai salah satu tokoh teknologi terbesar di zamannya pernah mengungkapkan ungkapan yang begitu indah: "Stay Hungry, Stay Foolish." Yang kalau secara harfiah (literal) berarti "Tetaplah lapar dan tetaplah bodoh." Adapun konteks pernyataan tersebut ialah: Jangan berhenti belajar. Maulah diajarin. Jadilah bisa diajarin. Become teachable. 

Kalau saya ingin menambahkan ungkapan Steve Jobs: "Stay young. Stay Junior." Atau, "Tetaplah muda dan jadilah junior selamanya." Ketika kita masih muda, junior dan baru belajar; kita siap dimarahi, siap letih, siap bekerja keras, dan siap untuk belajar dari pengalaman. Itu sebabnya, jangan merasa senior, karena biasanya senior itu malas belajar dan nggak mau diajarin (unteachable)! Karena merasa dirinya serba tau dan serba cukup! Itu sebabnya biasanya orang gagal dalam kehidupan itu merasa senior padahal ilmu dan pengalamannya sedikit!

Salah satu ciri orang sukses adalah bisa diajarin, teachable. Karena, walau banyak pun pengalaman kita, selalu ada pengalaman baru menanti. Seberapa mendalam pun ilmu kita, tetap ada ilmu baru yang menanti. Seberapa lama pun kita hidup, tetap ada yang belum kita ketahui. Akhirnya, ciri orang mau belajar? Antusias, siap salah, siap belajar, siap mendengar. So, stay hungry, stay foolish, stay young, stay junior. Selalulah lapar, bodoh, muda, dan junior.

YM Ustaz
7/6/2022
23:05 WIB

Saturday, June 22, 2024

*Berani Tampil Sama*

*Berani Tampil Sama*

Berani tampil beda, adalah doktrin yang sangat mendunia di dunia 20 tahun belakangan ini (atau mungkin lebih). Di antara akibat dari cara berpikir ini adalah lahirnya orang-orang yang suka mencari sensasi; berpakaian, berbicara, berpikir dengan cara yang tidak lazim. Untuk apa? "Supaya beda", tidak jelas juga untuk apa sebenarnya. Perlu kah tampil beda? Bila kita hadapkan kepada Alquran, yang penting bukanlah menjadi berbeda, yang penting adalah *menjadi baik.*

Di Medan, ada istilah populer "Jangan Cuman Jago Kandang", yakni jangan hebat hanya di kandang. Pernah YM. Abu mengomentari statement ini, beliau bertutur, kira² seperti ini: "Memangnya kalau jago kandang kenapa rupanya? *Kita tidak ingin jago, kita hanya ingin bermanfaat.* Tidak penting apakah kita jago kandang, jago tandang, ataupun tidak jago keduanya, yang penting adalah menjadi orang baik."

Harus senantiasa dikumandangkan pertanyaan: "Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan menyakiti? Apakah ini tulus?" Bisa dipastikan, bila semua orang benar-benar bertanya akan hal ini sebelum melakukan apapun, populasi pencari sensasi, ataupun jumlah orang aneh di dunia akan menurun. Ketika diri hanya dibebani untuk menjadi orang berbakti pada Tuhan, kebutuhan akan pujian, hasrat tampil beda akan menurun drastis, dan dia tidak akan keberatan untuk menjadi tak berbeda.

Kalu kita lihat Nabi saw, sebenarnya demikian juga, disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa jika ada orang yang baru masuk Islam, orang tidak tau yang mana Nabi saw, karena Nabi saw tidak mencolok; duduknya bersama-sama, bergurau bersama, berpakaian dan makan yang sama, dst. Satu-satunya hal yang membuat Nabi saw mencolok dari orang lain pada zamannya adalah Keislaman beliau, yang itu sendiri pun merupakan tuntutan Tuhan untuk menyebarkan Islam. Bisa diperkirakan, Nabi saw adalah orang yang memilih untuk tidak mencolok, dengan perkataan lain, tidak ingin tampil beda, hanya ingin berbuat baik, memilih menjauh dari popularitas, *berani tampil sama.*

YM Ustaz
10/07/2020
20.43 WIB

WAG Diskusi AFAS

Sunday, June 2, 2024

Penghormatan Status

Penghormatan Status

You see the world as you are. Kita mempersepsikan dunia sebagaimana kita mempersepsikan diri kita sendiri; bila kita pemarah, kita pun akan menyangka orang pemarah pada kita. Kita menuduh orang sebagaimana kita menuduh diri kita sendiri; bila kita licik, kita akan mudah menduga orang lain licik pula pada kita. Dan kita menghormati orang lain berdasarkan apa yang kita hormati dari diri kita sendiri; bila kita memandang kekayaan, gelar dan piala itu penting, kita pun akan mengukur nilai orang lain berdasarkan kekayaan, gelar dan piala mereka. 

Itu sebabnya, bila ingin memperlakukan orang lain secara lebih baik, mulailah dengan memandang diri sendiri secara lebih benar. Bagaimana mungkin kita akan menghormati orang lain karena akhlak dan kebaikannya jika kita memandang gelar dan status itu penting? Sebaliknya; sudah pasti kita tidak mempedulikan status dan kekayaan orang lain, bila kita memandang karakter dan kebaikan hati itu yang utama. Maka, evaluasilah diri kita; adakah aku ingin memperkenalkan diri melalui pangkatku? Boss, jendral, professor, dan sebagainya? Ataukah aku lebih ingin memperkenalkan diriku sebagai si fulan saja? 

Satu hal yang pasti: Tuhan tidak memandang status kita, Tuhan itu jujur. Di dalam kubur bukan piala atau sertifikat kita yang ditanyai, tetapi kebeningan hati dan perbuatan baik kita yang ditanyai? Itu sebabnya, memandang status secara berlebihan pastilah merugi di akhirat, dan juga di dunia. Manusia yang terlalu memandang status adalah manusia yang tidak jujur dan hidup di dalam ilusi yang diciptakan masyarakat. Ia menjadi pengemis status dan hamba kekayaan; ia rela mengemis dan bersujud pada mereka yang lebih tinggi kedudukannya dan lebih tebal simpanan uangnya. Baginya kehidupan ini tak lebih dari transaksi demi eskalasi status. 

Kelak jika ia memiliki anak atau pasangan pun, akan ia perlakukan layaknya piala saja. "Nanti kalau jumpa dengan si fulan teman papa dahulu, kamu nyanyi ya!" Betapa banyak orangtua menuntut begitu pada anaknya, tanpa menanyakan apakah anaknya mau bernyanyi atau tidak, seakan-akan anak-anaknya hanya piala; gelas yang terbuat dari emas, tak berjiwa, yang fungsinya adalah untuk dipertontonkan kepada saudara/i-nya yang dari dulu sudah ia benci dan sudah ingin dia kalahkan. Apa akar dari situasi ini? Melihat segala sesuatu dari status, bukan substansi. 

Maka renungkanlah sekali lagi: "Apakah aku ingin dihormati karena status, gelar dan kekayaanku? Ataukah aku ingin dihormati karena aku adalah aku? Tanpa embel-embel dan status apapun yang melekat padaku?" Hendaknya, pandanglah diri sebagai seorang fulan, manusia biasa, sehingga kita optimal mempercantik akhlak, bukan memperpanjang gelar. Dan hanya dengan begitu lah; kita akan mampu menghargai orang lain (termasuk anak dan pasangan kita) sebagai sebuah jiwa, sebagai manusia, bukan sebagai status, gelar dan tebal-tipis rekening banknya. Wallahua'lam!


YM Ustaz
Kamis, 9 Mei 2024
22.09 WIB

Tuesday, March 12, 2024

Tidak Melakukan Apapun

*Tidak Melakukan Apapun*

Baru² ini di youtube saya mendapatkan nasehat luar biasa dari seorang pemain game profesional. Dia menuturkan, ada situasi dalam game, anda terasa buntu/stuck karena tidak tau apa yang dilakukan dan musuh begitu dominan. Dalam situasi buntu/stuck seperti ini, apa yang harus dilakukan? *Tidak melakukan apapun.*

Ada seorang gamer profesional, tiap mengalami kebuntuan, ia benar² tidak melakukan apapun. Dan itu bisa berlangsung selama 2 menit lamanya, dan itu adalah sangat lama menurut ukuran game tersebut. Apa yang ia lakukan dalam 2 menit itu? Menjauhi musuh, membaca rencana musuh, introspeksi kelemahan team; membaca permainan.

Nyaris dalam tiap permainan dia lakukan ini. Lalu apa yang sering terjadi setelah dia lakukan ini? Mereka melakukan serangan balik, kemudian membalikkan keadaan dan seringkali justru memenangkan pertandingan. Dia adalah salah satu gamer profesional kelas dunia yang sangat ditakuti lawan²nya. Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil?

Saya pernah bertanya pada YM. Abu, "Apa yang Papa lakukan jika sedang bingung menghadapi masalah besar?" Dengan ringan beliau menjawab, "Tidur." Saya tanya balik, "Kenapa tidur? Kan berbahaya jika masalah serius dibiar-biarkan begitu saja?" Beliau menjawab, "Ya Papa kan sudah pikirkan jalan keluarnya, tapi belum dapat, jadi ya tidur dulu. Dan biasanya nanti dapat sendiri jawabannya." Dan begitulah cara beliau menghadapi masalah seumur hidupnya.

Kadang-kadang, masalah menjadi semakin buruk bukan karena kita tidak melakukan apapun, tapi justru karena kita terlalu banyak melakukan hal-hal yang tidak perlu. Kadang-kadang, tidak melakukan apapun, belajar, menyimak, memahami lebih dalam, dan meminta pertolongan Tuhan itu lebih ampuh daripada melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berguna, atau latah melakukan hal-hal yang malah memperburuk keadaan.

Mari kita sederhanakan lagi: Jadilah orang sabar. Tidak semua masalah harus diatasi segera. Tidak semua misteri harus terungkap segera. Tidak semua pertanyaan harus dijawab segera. 

*"Bukan kah hidup ada perhentian? Tak harus kencang terus berlari? Kuhelakan nafas panjang, untuk siap berlari kembali, melangkahkan kaki, menuju cahaya."*
*(Padi - Sang Penghibur)*

YM Ustaz
29/09/2023
03.23 WIB

GPS TRACKER




GPS EV02
#ORIGINAL WANWAYTECH


 LUANGKAN WAKTU UNTUK MEMBACA SEBENTAR  

free aplikasi 1 tahun 





FREE SERVER PREMIUM 
1 AKUN BISA BANYAK DEVICE TANPA BATASAN (tidak di miliki server gratisan seperti ruh*nvik)
SERVER STABIL TIDAK PERNAH GANGGUAN 




OPEN RESELLER 
keuntungan menjadi reseller kami 
✓ mendapatkan akun disributor untuk mengolah semua pelanggan anda 
✓konsultasi gratis dengan admin kami 
✓bisa membuat akun untuk pelanggan sendiri 
dll 
✓harga kami kompetitif
✓ di ajari sampai sukses

FIKTUR
- LACAK 
-MATIKAN MESIN 
-PEMBATAS AREA
-HISTORY 100 HARI KEBELAKANG
-NOTIFIKASI AKI DI LEPAS
- NOTIFIKASI MESIN ON/OFF
- ALARM GETARAN 
unit super slim sehingga cocok di taruh di tempat yang sulit di jangkau
perangkat berteknologi tinggi sehingga cocok untuk mendukung usaha anda

GRATIS SERVER
garansi 1 tahun 

Info Pemasangan : 081311454536

Shopee Affiliate Program

Yuk, gabung Shopee Affiliates Program di tim-ku buat dapat komisi PULUHAN JUTA!
Daftar Shopee Affiliate
Kode Tim : 2L6HMLV