Sekitar tahun 2010an Bappenas pernah menyelenggarakan diskusi terbatas membahas mengapa kebanyakan SDM Indonesia memiliki mutu yang rendah. Ada beberapa faktor, namun salah satu faktornya adalah rendahnya kemampuan berbahasa Inggris rakyat Indonesia. Kalau kita membandingkan diri dengan tetangga terdekat, Singapura memiliki kemampuan bahasa Inggris terbaik ke-5 di dunia, Malaysia di peringkat 30 dan Indonesia ada di peringkat ke 83. Sejak Singapura memisahkan diri dari Malaysia tahun 1965, mereka langsung memutuskan bahasa Inggris menjadi bahasa utama menggantikan bahasa Melayu.
Lalu, apa hubungannya keterbukaan pikiran dengan kefasihan berbahasa Inggris? Bahasa Inggris saat ini adalah bahasa internasional sehingga berbagai informasi dan ilmu, ada lebih banyak dalam bahasa Inggris. Mau itu ilmu akuntansi, ekonomi, filsafat, bahkan terkadang ilmu agama, pun lebih banyak tersedia dalam informasi bahasa Inggris.
Jika kita banker dan ingin mengetahui perkembangan sistem perbankan tentu informasi lebih banyak dal bahasa Inggris, sama halnya dengan perkembangan medis, maupun teknik bertukang bangunan. Bahkan hal paling sepele sekalipun, konten² game pun lebih banyak dalam bahasa Inggris. Tak mengherankan mengapa gamer² terbaik di Indonesia, biasanya bisa berbahasa Inggris. Sekurang²nya, orang yang pandai berbahasa Inggris bisa main game lebih baik daripada mereka yang tidak berbahasa Inggris.
Apa akibat dari lemahnya kemampuan bahasa Inggris Indonesia? Salah satunya adalah keterlambatan mencerna ilmu. Sederhananya begini, tahun 1989 ada buku luarbiasa berjudul "7 Habits Of Highly Effective People" oleh Stephen R. Covey, komunitas internasional yang fasih dengan bahasa Inggris sudah menikmati pencerahannya, sedangkan rakyat Indonesia kebanyakan baru mencerna buku tersebut bertahun-tahun kemudian setelah menunggu terjemahan bahasa Indonesianya.
Itu dalam hal buku, kita bisa bayangkan dalam hal perbankan, medis, ilmu bangunan, kita serba terlambat. Bahkan dalam hal komedi pun kita terlambat. Istilah _meme_ yang sekarang populer; gambar singkat yang biasanya berisikan tulisan lucu. _Meme_ sudah menjadi fenomena setidaknya tahun 2011, namun rakyat Indonesia secara luas mengenal _meme_ mungkin baru sekitar tahun 2019?
Menurut saya: Rendahnya kemampuan berbahasa Inggris kita, berbanding lurus dengan tertutupnya pikiran kita. Rendahnya kita mengkonsumsi konten dari luar, mencerminkan sebenarnya kita ini keras kepala. Betapa kita hanya mengkonsumsi artikel, video youtube, buku, film, hanya dalam bahasa kita menunjukkan sempitnya pengetahuan kita. Dan tertutupnya pikiran, kerasnya kepala kita dan sempitnya pengetahuan kita menunjukkan betapa kita sebenarnya hanyalah katak dalam tempurung.
Jika kita ingin mencerna informasi yang lebih luas, memperluas sudut pandang kita dan tidak dikotak-kotakkan oleh pemahaman yang sempit, memang kita harus melatih diri berbahasa Inggris, bukan untuk komunikasi bahasa Inggris, tapi sekedar untuk mampu memahami tontonan dan bacaan dalam bahasa Inggris. Sebenarnya saya tidak fanatik berbahasa Inggris, 10 tahun lalu saya sangat benci mendengar orang berbahasa Inggris, karena saya merasa mereka _sok inggris²an._
Sekarang saya tidak benci melihat orang berbahasa Inggris, dan tidak juga benci melihat orang berbahasa Indonesia. Sekarang saya hanya melihat bahasa Inggris adalah tuntutan bagi saya untuk memahami dunia lebih mendalam. Mau itu dalam hal agama, politik, budaya, asal usul suatu suku, medis, kesehatan, musik, seni, bahkan hal paling sepele sampai informasi film ataupun game, menuntut kemampuan berbahasa Inggris.
Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi luaskanlah pikiran. Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi kurangilah keras kepala. Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi luaskanlah cakrawala ilmu. Bagaimana cara meluaskan pikiran, mengurangi keras kepala dan memperluas cakrawala ilmu? Pahamilah bahasa Inggris! Bukan untuk berkomunikasi, tapi untuk menyerap informasi dan ilmu.
Inilah tuntutan kalau kita mau belajar di tahun 2025 dimana manusia antarbangsa berkomunikasi dalam bahasa Inggris; mungkin kalau kita hidup tahun 1100 di zaman dominasi Dinasti Abbasiyah tuntutan memahami ilmu internasional adalah belajar Arab, atau Persia.
YM. Ustadz
08/09/2025
19.09 WIB