Wednesday, February 10, 2021

Penjara Psikologis

*Penjara Psikologis*

Tanggungjawab dalam bahasa inggris disebut Responsibility, yang terambil dari 2 kata: Response (Respon), Ability (Kemampuan). Sederhananya, tanggungjawab adalah kemampuan mengendalikan respon. Tanggungjawab adalah kemampuan khusus milik manusia, yang tak dimiliki hewan ataupun makhluk hidup lainnya. Hewan, tumbuhan hanya "bereaksi", namun tidak bisa memilih bagaimana caranya merespon. Sebagai contoh: Apabila seekor kucing memukul kucing lainnya, hampir dipastikan kucing lain tersebut akan membalasnya. Hewan tidak bisa memilih reaksinya, karena hewan tak mampu bertanggungjawab, karena mereka tak punya akal. Ketidakmampuan bertanggungjawab ini lah yang menyebabkan hewan memiliki nasib yang sama sejak dulu hingga sekarang. Monyet, rusa, kucing, dari zaman Nabi Adam as hingga sekarang, ya nasibnya gitu-gitu aja, karena mereka tidak bisa mengendalikan keputusannya, sehingga mereka tak bisa mengubah nasibnya!

Masalahnya, seringkali manusia meniadakan kemampuan bertanggungjawabnya, dengan membebankan tanggungjawab pada selain dirinya. Misalnya: Wajar saya pemarah/pemalas, karena pasangan saya menyebalkan, anak² saya bandel, boss saya pemaksa, anakbuah saya nakal, dunia sedang dilanda covid-19, dst dst. Kita seringkali mematikan kemampuan bertanggungjawab kita dengan menjadikan kita korban keadaan (mentality victim), kita memenjarakan diri kita dalam penjara psikologis yang kita buat sendiri; kita membiarkan diri kita bereaksi secara buruk; marah, ingkar janji, malas, dengan menyalahkan orang dan keadaan sekitar. Bahkan lebih parahnya lagi, kita terus bersikap buruk namun mengharapkan keajaiban terjadi atas diri kita! Kita malas namun mengharapkan keajaiban tiba² kita kaya, kita pemarah namun mengharapkan keajaiban tiba² semua orang memahami kita.

Pemenjaraan psikologis inilah yang disebut *pengeluh.* Dan sudah pasti, pengeluh tidak akan menyelesaikan masalahnya, karena masalah diselesaikan dengan tindakan, bukan keluhan. Kesukaan kita mengeluh, mematikan karunia Tuhan kepada kita; kemampuan mengubah nasib. Akhirnya, seringkali kita melihat seseorang memiliki nasib yang sama, bahkan terkadang lebih buruk dari pendahulunya. Sebenarnya, dalam Alquran, Tuhan sendiri mengancam perilaku ini dengan menyebutkan orang sejenis ini bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat. Mengapa bagai binatang ternak? Binatang ternak; sapi, lembu, kambing agaknya memiliki kemampuan bereaksi paling lemah di kalangan hewan. Mobil melintas 200Km/jam di samping seekor sapi, sapi tetap saja tenang makan rumput, kesadarannya lemah, dan ia hidup tak bertanggungjawab. Manusia memiliki kuasa mengubah sifat, sikap, keputusan dan nasibnya, namun seringkali kita mematikan kemampuan tsb dengan mengeluh. Na'udzubillah.

YM Ustaz
09/02/2021, 21:36 WIB

Tuesday, February 9, 2021

Warisan Sejati

*Warisan Sejati*

Orang hebat itu seperti apa? Yang membuat karya yang berdampak pada banyak orang, demikian pendapat hidup dunia modern berkata. Film Titanic amat membekas bagi orang yang sudah menonton bioskop pada tahun 97an, namun bagi kebanyakan generasi milenial, Titanic cenderung hanya nama, bukan kesan. *Seberapa besar, seberapa berpengaruh pun karya kita, manusia akan melupakannya.* Kalau begitu, siapa lagi yang lebih hebat? *Orang yang lebih hebat, mungkin yang paling hebat, adalah orang yang mencetak orang-orang yang terus membawa mimpinya.* Dan orang seperti itu banyak; banyak perusahaan yang sudah berusia ratusan tahun, namun mereka masih menjaga kualitasnya dan terus berinovasi, sebut saja Toyota, Seiko, dll. Di sini lah letak kehebatan Rasulullah saw, yang sampai hari ini masih dijunjung dan terus dipelajari sosok serta nilai-nilainya. Tak diragukan, beliau adalah orang tersukses dunia-akhirat.

Hal lain, ketika seorang da'i berhasil mengajak puluhan atau bahkan ratusan orang bertaubat, siapa yang dipuji? Tentunya Rasulullah saw, bukan si da'i. Apakah si da'i tidak sukses? Tentu sukses, namun jangan berkecil hati. *Karena semakin sering orang menyebutkan sumber asal kita, itu tanda semakin sukses pula kita.* Taubatnya ratusan orang di sebuah penjuru dunia saat ini adalah tanda kesuksesan Rasulullah saw, karena masih mencetak da'i yang sukses. Itu sekaligus merupakan tanda suksesnya sang da'i, yang berarti ia telah menghidupkan nilai-nilai sang Nabi. Oleh karenanya, siapapun tidak perlu berkecil hati ataupun merasa gagal, ketika namanya tidak disebut berjasa. Semakin sukses sebuah organisasi, semakin tak dikenal figur/sosok di baliknya. Mengapa? Karena organisasi tersebut telah menjelma menjadi sebuah budaya, kumpulan nilai-nilai, cara hidup, cara berpikir, dst. 

Sekali lagi, berbahagialah ketika nama kita tidak disebutkan, itu adalah tanda bahwa kerja kita benar-benar berhasil. Saya pernah menemukan sebuah hadis (yang saya tak menemukannya lagi) dimana Rasulullah saw bersabda lebih kurang; beliau iri pada orang yang tak dikenal, meninggal dunia tanpa meninggalkan warisan dan tetap tak dikenal. Alasannya? Agaknya karena keikhlasannya terjamin. Baru² ini pemilik duty free shop, Chuck Feeney, menyedekahkan nyaris semua hartanya utk kemanusiaan, secara diam-diam. Dia adalah manusia superkaya, yang mendedikasikan hartanya untuk kemanusiaan dan rela hidup jauh di bawah standard yang bisa ia capai. Mottonya dalam memberi: "Giving while living" atau jika kita terjemahkan: "Memberi mumpung masih hidup". Chuck Feeney tidak mau dikenal, dia mau berbuat baik. Yang penting baginya adalah perbaikan umat manusia, bukan dirinya.

Tentang diingat orang lain, ada sebuah fakta menarik: Yang diingat orang adalah performa kita bukan penampilan kita, seterusnya, yang diingat orang adalah hasil kerja kita bukan performa kita, seterusnya, yang diingat orang adalah kebaikan hati kita, bukan hasil kerja kita. Oleh karenanya, perbaiki saja kebaikan hati kita, sisanya akan memperbaiki dirinya sendiri. Dan sekali lagi, semakin kita tak disebut-sebut, bahkan tak diingat-ingat, semakin dekat kita dengan kesuksesan yang sejati, karena itu berarti hasil kerja dan kebaikan hati kita dirasakan orang. Dan bukan kah kebaikan hati/hasil kerja yang paling sempurna selalu kita sebut sebagai "Kerja Tuhan"? Maka, berbahagialah ketika kita tidak disebut, jangan-jangan itu pertanda Tuhan sendiri telah ikut campur dalam karya kita.

YM Ustaz
09/02/2021
01.27 WIB