Wednesday, April 20, 2022

Overconfident


*Overconfident*

Hikmah sistem pemerintahan (pentadbidan negara) dengan pola demokrasi ialah adanya sistem pengingat ketika pemimpin (penguasa incumbent/petahana) melakukan penyelewengan. Hal ini sulit terjadi jika pemerintahan dikelola secara oligarki (sistem pemerintahan yang diatur sekelompok orang kaya), apalagi monarki (sistem pemerintahan yang diwariskan berdasarkan darah). Masalahnya, terkadang dalam sistem demokrasi pun kita terjerumus menjadi bagaikan penguasa oligarki/monarki, sehingga kita tak menyadari bahwa kita telah menyeleweng. Masalahnya? Overconfident (kepedean).

Umpamanya dalam rumah tangga. Islam memang memberikan dominasi kekuasaan yang absolut kepada suami. Sangat banyak ayat dan hadis yang secara tegas menyatakan suami itu pemimpin dan istri itu pengikut. Hanya, tak jarang suami mengambil keputusan yang salah, bahkan menyelewengkan fungsi kepemimpinannya. Umpamanya, hanya karena ingin menunjukkan dirinya pemimpin, ia sengaja mengambil keputusan yang berbeda dari usulan istri/anak, padahal usulan tersebut bagus dan rasional. Atau misalnya, suami marah, membentak, atau bahkan memukul/menampar istri/anak untuk menegaskan kepemimpinannya. Hal² ini semua sejatinya adalah penyelewengan fungsi kepemimpinan suami, yang jelas² tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw. Penyebabnya? Overconfident (kepedean).

Bagaimana mencegah overconfident (kepedean)? Belajarlah menerima masukan yang bagus dan rasional, walau ia datang dari orang yang tak kita sukai. Kemudian, belajarlah untuk tidak menegaskan posisi kepemimpinan lewat upaya represif (amarah dan kekerasan fisik). Justru, tegaskanlah posisi kepemimpinan itu dengan cara yang kreatif dan berkualitas; umpamanya dengan diskusi yang tidak menyudutkan, yang disampaikan dengan senyuman. Juga, belajarlah untuk menghadapi masalah dengan senyuman. Merenung + wajah serius dan ketat memang mampu menghasilkan solusi. Namun, merenung + wajah ceria dan santai pun akan mendatangkan solusi juga. Pilihlah yang lebih santai. Dan kita tidak akan mampu memilih yang nyantai bila kita overconfident.

Overconfident (kepedean), sebenarnya seringkali datang dari overthinking (hiperbola) alias prasangka. Suami-suami yang suka merasa posisi kepemimpinannya hendak dikudeta oleh istri dan oleh anaknya, akan cenderung menjadi pemimpin yang overconfident (kepedean). Pemimpin, presiden, perdana menteri, yang sering overthinking; berprasangka bahwa ia akan digulingkan, atau memiliki saingan/tandingan, akan sering terjerumus menjadi kepedean atau overconfident. Itu sebabnya, kadang kita fanatik, dan cemas bila bukan teman kita yang menjadi penguasa. Sering kita merasa akan terjadi kiamat jika penguasa itu bukan teman kita atau bukan orang yang kita sukai. Mari melihat secara jujur: Seringkali prasangka kita itu salah. Betapa sering presiden/walikota/menteri/wakil rakyat pilihan kita kalah dalam pemilihan, negara ini masih baik-baik saja?

Cara lain untuk selamat dari overconfident (kepedean) ialah membaca-mendengar sesuatu yang bertolak-belakang dengan prinsip hidup dan pemikiran kita. Walau terasa menyebalkan, bertahanlah. Teruslah dengarkan. Seringkali kita akan menemukan kebenaran di sana. Demikianlah Rasulullah saw itu; beliau adalah pemimpin multi-sosio-ekomomis. Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan muslim mengatakan: Sejatinya masyarakat Madinah itu terbagi 3 secara sosio-ekonomi: 1. Kaum Moderat yang pemukanya adalah Abu Bakar dan Umar, 2. Kaum Aristokrat (Kaya) yang pemukanya adalah Usman dan Mu'awiyah, 3. Kaum Grassroot (Arus Bawah) yang pemukanya adalah Ali dan Abu Dzar al Ghifari. Rasulullah saw itu pemimpin masyarakat yang multidimensional dan multikultural. Kalau kita terlalu elitist (suka orang kaya), kita tak ubahnya Usman, dan bahkan kalau kita terlalu grassroot (secara berlebihan suka orang miskin dan terjerumus anti-kemapanan/benci orang kaya), mohon ampun, kita akan menjadi bagai Ali, atau bahkan Abu Dzar. Pertanyaannya: Bukan kah Rasulullah saw itu rujukan? Dan jelas, beliau, tidak overconfident.

YM Ustadz
20/04/2022
06:47 WIB

Sunday, April 17, 2022

Samsung Galaxy M23 5G yang kemampuannya Gak Ada Matinya

Cek Samsung Galaxy M23 5G 6/128GB - Deep Green dengan harga Rp3.499.000. 

Dapatkan harga terbaik + cashback untuk Samsung Galaxy M23 5G yang kemampuannya #GakAdaMatinya. Beli sekarang!

Dapatkan di Shopee sekarang! 

Galaxy M23 5G hadir dengan RAM 6GB dan memori 128GB yang juga didukung dengan RAM Plus hingga 6GB, ditawarkan dengan harga retail Rp3.699.000. Untuk semua kegiatan yang nggak ada matinya, Samsung hadirkan Galaxy M23 5G yang dilengkapi dengan baterai 5.000mAh, prosesor Snapdragon 750G, dan layar 6,6 inci FHD+ dengan refresh rate 120Hz.

Galaxy M23 5G hadir dengan baterai besar 5.000mAh yang bisa tahan seharian, bahkan hingga 2 hari. Hal tersebut pun didukung dengan RAM 6GB, lengkap dengan RAM Plus hingga 6GB. Galaxy M23 5G dilengkapi triple camera di bagian belakang untuk hasil foto dan video yang detail dan jernih. Main camera 50MP menghasilkan foto dan video dengan resolusi tinggi.

Galaxy M23 5G juga sudah punya NFC, jadi kamu bisa melakukan transaksi cashless maupun pembayaran tanpa kartu ataupun isi kartu uang elektronik dengan lebih mudah, tanpa perlu repot ke ATM atau minimarket untuk mobilitas yang #GakAdaMatinya.

Friday, April 1, 2022

OBSESI

Obsesi Revolusi

Revolusi (revolution) adalah tindakan ekstrim yang mencetuskan perubahan radikal, contohnya melengserkan atau penggulingan pemerintahan/kerajaan resmi, demo anarkis, serta berbagai gerakan kemasyarakatan yang signifikan. Bila kita mempelajari revolusi; dia selalu menyisakan luka dan tak jarang pula, balas dendam. Bahkan, dari seluruh revolusi yang terjadi sepanjang sejarah, tidak semuanya sukses.

Para Nabi dan Rasul adalah tokoh revolusi; Misalnya Nabi Musa as memimpin exodus orang Israel keluar dari Mesir, Rasulullah saw memimpin exodus orang keluar dari Mekkah. Namun biasanya, para Nabi dan Rasul itu orangnya sangat lembut dan rendah hati, tidak seperti sosok lazim revolusioner yang suka mengkritik ataupun berbicara lantang. Bahkan menariknya, setelah sekitar 2-3 tahun Alquran diturunkanlah; Alquran baru mula mencela berhala sembahan orang kafir, tampak bahwa Alquran itu berupaya hadir mengubah ke tengah masyarakat secara perlahan. 

Apatah lagi kepribadian Nabi saw yang memang cinta damai, sebenarnya mulanya beliau sangat enggan mencela terang²an praktek penyembahan berhala walaupun beliau tak pernah menyukainya. Apalagi memimpin banyak orang keluar Mekkah, kita boleh menduga bahwa Nabi saw tak pernah mengkhayalkan akan melakukannya. Ringkasnya, beliau sebenarnya enggan melakukan revolusi dan perubahan radikal, sekali lagi karena biasanya revolusi menyisakan luka.

Perubahan yang mengakar itu biasanya bersifat evolusioner dan perlahan, makanya ada kaidah slow is fast dan fast is slow dalam pembangunan budaya/karakter; yakni perubahan yang tampaknya lambat dan perlahan di masyarakat itu sejatinya adalah perubahan yang mengakar; misalnya upaya membina masyarakat dengan CFM, diskusi, seminar, memang tampak lambat, tapi ia berkesan. Sebaliknya, perubahan yang tampak cepat; revolusi, gerakan radikal, pelengseran incumbent (petahana) dan kritik pedas, selalu tampak cepat dan menarik, tapi sejatinya ia lambat.

Kalau tak percaya, silahkan lihat bagaimana nasib negara² yang perubahannya diraih dengan demo anarkis, gerakan masyarakat ataupun pelengseran pemerintah resmi. Betapa banyak di antaranya yang sampai hari ini masih berjuang untuk menegakkan negaranya sendiri? Atau lihatlah bagaimana wilayah ataupun negara yang memisahkan diri, tampaknya tidak semuanya memperoleh hasil yang memuaskan (kemakmuran)?

Revolusi bukan tak diperlukan, ia diperlukan, namun sesekali. Lihat saja Nabi saw; bukan setahun sekali, namun amat jarang beliau lakukan revolusi. Beliau hanya berhijrah sekali, dari total usia beliau 63 tahun, kalau tak salah hanya sekitar 200an hari beliau berperang, dan beliau pun benci perang! Melakukan hijrah pun sebenarnya beliau enggan, makanya beliau keluar dari Mekkah itu menangis, bukan dengan bangga dan dendam! Jadi, revolusi yang efektif tampaknya hanyalah jika itu pilihan terakhir, dan dipimpin oleh orang yang tak suka keributan. Umpamanya, Nabi saw kalau tak keluar Mekkah, pastilah beliau terbunuh dan penyebaran Islam terhenti, dan itu pun dipimpin oleh beliau yang amat rendah hati, lembut, dan pemalu!

Bagaimana dengan kita? Suka kah kita revolusi? Suka kah kita akan exodus? Suka kah kita menasehati orang untuk melakukan revolusi? Kalau suka, periksa hati kita; jangan² kita sombong. Dan sesuaikan karakter kita dengan tokoh² sukses revolusi, umpamanya Nabi saw yang amat pemalu, lembut, rendah hati tapi setia pada kebenaran di saat yang bersamaan. Apakah kita juga pemalu, lembut, rendah hati dan setia kebenaran pada saat yang bersamaan? Kalau karakter kita justru amat berbeda dari Nabi saw sang revolusioner tersukses, patut dicurigai kita adalah orang gagal, dan sebenarnya sombong atau memiliki dendam. Na'udzubillah.

Mari menyederhanakan tulisan panjang ini dengan kalimat pendek: *Tolong, jangan prasangka, jangan suka bergunjing, jangan suka mengkritik. Tolong, jadilah orang solutif, jadilah rendah hati, jadilah lemah lembut, tapi setia pada kebenaran di saat yang bersamaan. Tolong.*

YM Ustaz
1/4/2022
06:38 WIB


Obsesi Spiritual

Orang Islam, apatah lagi orang tasawuf, pengamal tarekat, tak jarang sangat-sangat terobsesi memperoleh pengalaman spiritual sebagaimana para Nabi, Rasul dan Wali. Misalnya, mendapat mimpi luarbiasa, melihat pohon tunduk pada malam lailatul qadar, atau merasakan suatu pencerahan luarbiasa dalam aktivitas salat maupun zikirnya. Kalau terlalu ingin, bahkan setiap saat hal di atas membayangi kita; periksa hati kita, jangan² kita sudah dikuasai kesombongan! Ingin atau memiliki angan ringan terhadap pengalaman spiritual itu hal wajar; ia adalah konsekuensi iman. Tapi sangat terobsesi mendapat pengalaman spiritual, boleh saya pastikan ia adalah sebuah kesombongan!


Memangnya kenapa? Kalau kita menampak pohon tunduk dalam lailatul qadar? Kalau kita mendapat pencerahan luarbiasa dalam zikir? Kalau kita tak sadar ternyata sudah berjam-jam kita zikir? Kalau kita mendapat ilham? Kalau kita bahkan mendapat ilmu ladunni? Memangnya kenapa? So what? Apa yang istimewa di situ? Setelah mendapat itu semua kita tetap saja hambaNya yang terikat kewajiban salat 5 waktu. Mimpi berjumpa Nabi saw tak menggugurkan kewajiban zakat. Nampak pohon sujud tak menggugurkan kewajiban kita untuk memuliakan tamu. Pengalaman spiritual tak menjamin kita terbebas dari neraka. 

Oleh karenanya, jangan terobsesi pada pengalaman spiritual, tapi terobsesilah pada ridha Allah Swt. Dan ridha Allah Swt sangat mungkin, bahkan seringkali tak berhubungan dengan pengalaman spiritual. Betapa seringnya, orang yang tampaknya biasa saja, ternyata ia amat diridhai Allah Swt. Sebaliknya, betapa sering orang yang tampaknya sangat spiritual, sangat sering mimpi aneh, tapi nyatanya tak diridhai Allah Swt, sangat mungkin dan sangat sering juga terjadi. Itu sebabnya Nabi saw itu tampaknya bukan orang yang terobsesi pada pengalaman spiritual; terbukti saat menerima wahyu pertama, beliau tak bangga bercerita pada Khadijah, tapi justru bercerita dengan penuh heran bahkan takut!

Orang yang terobsesi dengan ridha Allah Swt, boleh diduga, lebih tertarik untuk mengamalkan perintahNya dan menjauhi laranganNya saja. Ketertarikannya hanya menjalankan ibadah, dan setelah diamalkannya ibadah itu ia pun puas tanpa ada ekspektasi atau pengharapan petunjuk atau wangsit khusus! Paradigma ini diwakili oleh doa Ilahi anta maqsudi waridhaka mathlubi (Tuhanku, hanya Engkau maksudku, hanya ridhaMu tuntutanku). Kalau kita terobsesi pada petunjuk, pada wangsit, pada mimpi, pada lailatul qadar, kita ini ingin Allah atau ingin keramat? Kita ini ingin ridhaNya atau diam² ingin pujian makhlukNya? Renungkanlah! Tolong!

Demikianlah halusnya ikhlas dalam menghadapi ibadah, yang memang sifatnya spiritual itu. Makanya, Nabi saw telah mencontohkan; alih-alih beliau terobsesi pada spiritual, beliau lebih terobsesi pada perbaikan umat. Beliau tak pernah menginginkan terjadinya Isra Miraj yang merupakan pengalaman spiritual terdahsyat sepanjang sejarah kemanusiaan. Justru, beliau hanya menginginkan jiran-tetangganya tidak kelaparan, beliau hanya menginginkan orang berhenti menghardik yatim dan peminta-minta, beliau hanya ingin semua orang diperlakukan sama bukan karena suku atau kekayaannya. Beliau hanya ingin semua orang dikasihi.

Makanya, daripada berpikir kapan aku melihat pohon sujud pada lailatul qadar, lebih baik berpikir siapa orang yang perlu aku mintai maaf? Daripada berpikir kapan aku mendapat ilmu ladunni, lebih baik berpikir kepada siapa aku harus keluarkan sedekahku? Daripada berpikir kapan aku melihat sidratul muntaha, lebih baik berpikir kepada siapa harus aku ucapkan terima kasih hari ini? Daripada terobsesi terhadap pengalaman spiritual, terobsesilah pada kemanusiaan dan perbaikan manusia! Dengan cara itu, Islam, bahkan Tasawuf dan Tarekat akan lebih harum dan berkembang! Bukan kah Nabi saw telah mencontohkannya?

YM Ustaz
1/4/2022
06:56 WIB

Obsesi Klarifikasi

Kita sesekali memang perlu klarifikasi, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan publik. Jika kita dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita kerjakan; umpamanya mencuri, wajar kita untuk klarifikasi, menjelaskan, bahwa kita tidak melakukannya. Demikian pula bila ada teman kita dituduh melakukan sesuatu yang tak ia lakukan, wajar bila kita lakukan klarifikasi atas namanya untuk menolongnya. Namun, fungsi klarifikasi sebenarnya cukup untuk menyelamatkan nyawa, dan untuk menghindari chaos (kekacauan, huru-hara).

Sampai dengan hari ini, telah begitu banyak kita saksikan manusia yang terobsesi pada klarifikasi! Sangat ingin ia menjelaskan bahwa dirinya pahlawan bukan penjahat! Sangat ingin ia jelaskan anaknya atau orangtuanya suci bukan keji! Sangat ingin ia jelaskan partai politiknya atau golongannya yang terbaik! Dan tak jarang, sangat sering pula kita ingin mengklarifikasi orang yang telah meninggal ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, demi memenangkan pertengkaran dengan orang yang tak kita setujui! Perbedaan pendapat sering menjadi pemicu pertengkaran. Namun sebenarnya, tanpa perbedaan pun kita sering bertengkar.

Memangnya kenapa? Kalau kita dianggap jahat? Kalau kita dituduh melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan? Kalau nenek moyang kita dituduh sebagai penjahat? Memangnya kenapa? Apakah tuduhan manusia akan membuat kita sengsara dunia-akhirat? Perlu kita ingat selalu, yang menyengsarakan-menyelamatkan itu adalah tuduhan Allah. Oleh karenanya, jika kita terobsesi pada klarifikasi, sebenarnya kita tak ubahnya orang yang terobsesi akan revolusi atau terobsesi pada pengalaman spiritual; kita sama saja dengan mereka, sombong. Ketika kita mengemis pembersihan nama baik pada masyarakat, kita sedang mengemis pada manusia, bukan pada Tuhan. 

Pengemis klarifikasi tak ubahnya burung unta yang telah berkali-kali saya kisahkan; merupakan santapan empuk para predator. Burung unta memiliki mindset; bila sesuatu tak nampak maka ia tak wujud. Maka tak jarang jika ia nampak harimau, ia bukan berlari, tapi sembunyikan kepalanya ke semak-belukar, kenapa? Yang tak nampak berarti tak wujud. Akhirnya? Burung unta menjadi santapan lezat akhir pekan (weekend) sang harimau. Apa bedanya dengan kita yang sangat ingin mendengarkan orang mengatakan kebaikan kita? Sangat mungkin di depan wajah kita orang bermanis-mulut memuji kita dan keluarga kita, tapi di belakangnya ia cabik-cabik kita. Makanya, sampai batas mana perlu klarifikas itu?

Oleh karenanya, cukuplah klarifikasi itu untuk menyelamatkan nyawa dan atau untuk menghindarkan huru-hara. Bila lebih dari itu, periksa kesombongan kita.

YM Ustaz
1/4/2022
07:19 WIB