Obsesi Revolusi
Revolusi (revolution) adalah tindakan ekstrim yang mencetuskan perubahan radikal, contohnya melengserkan atau penggulingan pemerintahan/kerajaan resmi, demo anarkis, serta berbagai gerakan kemasyarakatan yang signifikan. Bila kita mempelajari revolusi; dia selalu menyisakan luka dan tak jarang pula, balas dendam. Bahkan, dari seluruh revolusi yang terjadi sepanjang sejarah, tidak semuanya sukses.
Para Nabi dan Rasul adalah tokoh revolusi; Misalnya Nabi Musa as memimpin exodus orang Israel keluar dari Mesir, Rasulullah saw memimpin exodus orang keluar dari Mekkah. Namun biasanya, para Nabi dan Rasul itu orangnya sangat lembut dan rendah hati, tidak seperti sosok lazim revolusioner yang suka mengkritik ataupun berbicara lantang. Bahkan menariknya, setelah sekitar 2-3 tahun Alquran diturunkanlah; Alquran baru mula mencela berhala sembahan orang kafir, tampak bahwa Alquran itu berupaya hadir mengubah ke tengah masyarakat secara perlahan.
Apatah lagi kepribadian Nabi saw yang memang cinta damai, sebenarnya mulanya beliau sangat enggan mencela terang²an praktek penyembahan berhala walaupun beliau tak pernah menyukainya. Apalagi memimpin banyak orang keluar Mekkah, kita boleh menduga bahwa Nabi saw tak pernah mengkhayalkan akan melakukannya. Ringkasnya, beliau sebenarnya enggan melakukan revolusi dan perubahan radikal, sekali lagi karena biasanya revolusi menyisakan luka.
Perubahan yang mengakar itu biasanya bersifat evolusioner dan perlahan, makanya ada kaidah slow is fast dan fast is slow dalam pembangunan budaya/karakter; yakni perubahan yang tampaknya lambat dan perlahan di masyarakat itu sejatinya adalah perubahan yang mengakar; misalnya upaya membina masyarakat dengan CFM, diskusi, seminar, memang tampak lambat, tapi ia berkesan. Sebaliknya, perubahan yang tampak cepat; revolusi, gerakan radikal, pelengseran incumbent (petahana) dan kritik pedas, selalu tampak cepat dan menarik, tapi sejatinya ia lambat.
Kalau tak percaya, silahkan lihat bagaimana nasib negara² yang perubahannya diraih dengan demo anarkis, gerakan masyarakat ataupun pelengseran pemerintah resmi. Betapa banyak di antaranya yang sampai hari ini masih berjuang untuk menegakkan negaranya sendiri? Atau lihatlah bagaimana wilayah ataupun negara yang memisahkan diri, tampaknya tidak semuanya memperoleh hasil yang memuaskan (kemakmuran)?
Revolusi bukan tak diperlukan, ia diperlukan, namun sesekali. Lihat saja Nabi saw; bukan setahun sekali, namun amat jarang beliau lakukan revolusi. Beliau hanya berhijrah sekali, dari total usia beliau 63 tahun, kalau tak salah hanya sekitar 200an hari beliau berperang, dan beliau pun benci perang! Melakukan hijrah pun sebenarnya beliau enggan, makanya beliau keluar dari Mekkah itu menangis, bukan dengan bangga dan dendam! Jadi, revolusi yang efektif tampaknya hanyalah jika itu pilihan terakhir, dan dipimpin oleh orang yang tak suka keributan. Umpamanya, Nabi saw kalau tak keluar Mekkah, pastilah beliau terbunuh dan penyebaran Islam terhenti, dan itu pun dipimpin oleh beliau yang amat rendah hati, lembut, dan pemalu!
Bagaimana dengan kita? Suka kah kita revolusi? Suka kah kita akan exodus? Suka kah kita menasehati orang untuk melakukan revolusi? Kalau suka, periksa hati kita; jangan² kita sombong. Dan sesuaikan karakter kita dengan tokoh² sukses revolusi, umpamanya Nabi saw yang amat pemalu, lembut, rendah hati tapi setia pada kebenaran di saat yang bersamaan. Apakah kita juga pemalu, lembut, rendah hati dan setia kebenaran pada saat yang bersamaan? Kalau karakter kita justru amat berbeda dari Nabi saw sang revolusioner tersukses, patut dicurigai kita adalah orang gagal, dan sebenarnya sombong atau memiliki dendam. Na'udzubillah.
Mari menyederhanakan tulisan panjang ini dengan kalimat pendek: *Tolong, jangan prasangka, jangan suka bergunjing, jangan suka mengkritik. Tolong, jadilah orang solutif, jadilah rendah hati, jadilah lemah lembut, tapi setia pada kebenaran di saat yang bersamaan. Tolong.*
YM Ustaz
1/4/2022
06:38 WIB
Obsesi Spiritual
Orang Islam, apatah lagi orang tasawuf, pengamal tarekat, tak jarang sangat-sangat terobsesi memperoleh pengalaman spiritual sebagaimana para Nabi, Rasul dan Wali. Misalnya, mendapat mimpi luarbiasa, melihat pohon tunduk pada malam lailatul qadar, atau merasakan suatu pencerahan luarbiasa dalam aktivitas salat maupun zikirnya. Kalau terlalu ingin, bahkan setiap saat hal di atas membayangi kita; periksa hati kita, jangan² kita sudah dikuasai kesombongan! Ingin atau memiliki angan ringan terhadap pengalaman spiritual itu hal wajar; ia adalah konsekuensi iman. Tapi sangat terobsesi mendapat pengalaman spiritual, boleh saya pastikan ia adalah sebuah kesombongan!
Memangnya kenapa? Kalau kita menampak pohon tunduk dalam lailatul qadar? Kalau kita mendapat pencerahan luarbiasa dalam zikir? Kalau kita tak sadar ternyata sudah berjam-jam kita zikir? Kalau kita mendapat ilham? Kalau kita bahkan mendapat ilmu ladunni? Memangnya kenapa? So what? Apa yang istimewa di situ? Setelah mendapat itu semua kita tetap saja hambaNya yang terikat kewajiban salat 5 waktu. Mimpi berjumpa Nabi saw tak menggugurkan kewajiban zakat. Nampak pohon sujud tak menggugurkan kewajiban kita untuk memuliakan tamu. Pengalaman spiritual tak menjamin kita terbebas dari neraka.
Oleh karenanya, jangan terobsesi pada pengalaman spiritual, tapi terobsesilah pada ridha Allah Swt. Dan ridha Allah Swt sangat mungkin, bahkan seringkali tak berhubungan dengan pengalaman spiritual. Betapa seringnya, orang yang tampaknya biasa saja, ternyata ia amat diridhai Allah Swt. Sebaliknya, betapa sering orang yang tampaknya sangat spiritual, sangat sering mimpi aneh, tapi nyatanya tak diridhai Allah Swt, sangat mungkin dan sangat sering juga terjadi. Itu sebabnya Nabi saw itu tampaknya bukan orang yang terobsesi pada pengalaman spiritual; terbukti saat menerima wahyu pertama, beliau tak bangga bercerita pada Khadijah, tapi justru bercerita dengan penuh heran bahkan takut!
Orang yang terobsesi dengan ridha Allah Swt, boleh diduga, lebih tertarik untuk mengamalkan perintahNya dan menjauhi laranganNya saja. Ketertarikannya hanya menjalankan ibadah, dan setelah diamalkannya ibadah itu ia pun puas tanpa ada ekspektasi atau pengharapan petunjuk atau wangsit khusus! Paradigma ini diwakili oleh doa Ilahi anta maqsudi waridhaka mathlubi (Tuhanku, hanya Engkau maksudku, hanya ridhaMu tuntutanku). Kalau kita terobsesi pada petunjuk, pada wangsit, pada mimpi, pada lailatul qadar, kita ini ingin Allah atau ingin keramat? Kita ini ingin ridhaNya atau diam² ingin pujian makhlukNya? Renungkanlah! Tolong!
Demikianlah halusnya ikhlas dalam menghadapi ibadah, yang memang sifatnya spiritual itu. Makanya, Nabi saw telah mencontohkan; alih-alih beliau terobsesi pada spiritual, beliau lebih terobsesi pada perbaikan umat. Beliau tak pernah menginginkan terjadinya Isra Miraj yang merupakan pengalaman spiritual terdahsyat sepanjang sejarah kemanusiaan. Justru, beliau hanya menginginkan jiran-tetangganya tidak kelaparan, beliau hanya menginginkan orang berhenti menghardik yatim dan peminta-minta, beliau hanya ingin semua orang diperlakukan sama bukan karena suku atau kekayaannya. Beliau hanya ingin semua orang dikasihi.
Makanya, daripada berpikir kapan aku melihat pohon sujud pada lailatul qadar, lebih baik berpikir siapa orang yang perlu aku mintai maaf? Daripada berpikir kapan aku mendapat ilmu ladunni, lebih baik berpikir kepada siapa aku harus keluarkan sedekahku? Daripada berpikir kapan aku melihat sidratul muntaha, lebih baik berpikir kepada siapa harus aku ucapkan terima kasih hari ini? Daripada terobsesi terhadap pengalaman spiritual, terobsesilah pada kemanusiaan dan perbaikan manusia! Dengan cara itu, Islam, bahkan Tasawuf dan Tarekat akan lebih harum dan berkembang! Bukan kah Nabi saw telah mencontohkannya?
YM Ustaz
1/4/2022
06:56 WIB
Obsesi Klarifikasi
Kita sesekali memang perlu klarifikasi, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan publik. Jika kita dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita kerjakan; umpamanya mencuri, wajar kita untuk klarifikasi, menjelaskan, bahwa kita tidak melakukannya. Demikian pula bila ada teman kita dituduh melakukan sesuatu yang tak ia lakukan, wajar bila kita lakukan klarifikasi atas namanya untuk menolongnya. Namun, fungsi klarifikasi sebenarnya cukup untuk menyelamatkan nyawa, dan untuk menghindari chaos (kekacauan, huru-hara).
Sampai dengan hari ini, telah begitu banyak kita saksikan manusia yang terobsesi pada klarifikasi! Sangat ingin ia menjelaskan bahwa dirinya pahlawan bukan penjahat! Sangat ingin ia jelaskan anaknya atau orangtuanya suci bukan keji! Sangat ingin ia jelaskan partai politiknya atau golongannya yang terbaik! Dan tak jarang, sangat sering pula kita ingin mengklarifikasi orang yang telah meninggal ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, demi memenangkan pertengkaran dengan orang yang tak kita setujui! Perbedaan pendapat sering menjadi pemicu pertengkaran. Namun sebenarnya, tanpa perbedaan pun kita sering bertengkar.
Memangnya kenapa? Kalau kita dianggap jahat? Kalau kita dituduh melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan? Kalau nenek moyang kita dituduh sebagai penjahat? Memangnya kenapa? Apakah tuduhan manusia akan membuat kita sengsara dunia-akhirat? Perlu kita ingat selalu, yang menyengsarakan-menyelamatkan itu adalah tuduhan Allah. Oleh karenanya, jika kita terobsesi pada klarifikasi, sebenarnya kita tak ubahnya orang yang terobsesi akan revolusi atau terobsesi pada pengalaman spiritual; kita sama saja dengan mereka, sombong. Ketika kita mengemis pembersihan nama baik pada masyarakat, kita sedang mengemis pada manusia, bukan pada Tuhan.
Pengemis klarifikasi tak ubahnya burung unta yang telah berkali-kali saya kisahkan; merupakan santapan empuk para predator. Burung unta memiliki mindset; bila sesuatu tak nampak maka ia tak wujud. Maka tak jarang jika ia nampak harimau, ia bukan berlari, tapi sembunyikan kepalanya ke semak-belukar, kenapa? Yang tak nampak berarti tak wujud. Akhirnya? Burung unta menjadi santapan lezat akhir pekan (weekend) sang harimau. Apa bedanya dengan kita yang sangat ingin mendengarkan orang mengatakan kebaikan kita? Sangat mungkin di depan wajah kita orang bermanis-mulut memuji kita dan keluarga kita, tapi di belakangnya ia cabik-cabik kita. Makanya, sampai batas mana perlu klarifikas itu?
Oleh karenanya, cukuplah klarifikasi itu untuk menyelamatkan nyawa dan atau untuk menghindarkan huru-hara. Bila lebih dari itu, periksa kesombongan kita.
YM Ustaz
1/4/2022
07:19 WIB