Hikmah sistem pemerintahan (pentadbidan negara) dengan pola demokrasi ialah adanya sistem pengingat ketika pemimpin (penguasa incumbent/petahana) melakukan penyelewengan. Hal ini sulit terjadi jika pemerintahan dikelola secara oligarki (sistem pemerintahan yang diatur sekelompok orang kaya), apalagi monarki (sistem pemerintahan yang diwariskan berdasarkan darah). Masalahnya, terkadang dalam sistem demokrasi pun kita terjerumus menjadi bagaikan penguasa oligarki/monarki, sehingga kita tak menyadari bahwa kita telah menyeleweng. Masalahnya? Overconfident (kepedean).
Umpamanya dalam rumah tangga. Islam memang memberikan dominasi kekuasaan yang absolut kepada suami. Sangat banyak ayat dan hadis yang secara tegas menyatakan suami itu pemimpin dan istri itu pengikut. Hanya, tak jarang suami mengambil keputusan yang salah, bahkan menyelewengkan fungsi kepemimpinannya. Umpamanya, hanya karena ingin menunjukkan dirinya pemimpin, ia sengaja mengambil keputusan yang berbeda dari usulan istri/anak, padahal usulan tersebut bagus dan rasional. Atau misalnya, suami marah, membentak, atau bahkan memukul/menampar istri/anak untuk menegaskan kepemimpinannya. Hal² ini semua sejatinya adalah penyelewengan fungsi kepemimpinan suami, yang jelas² tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw. Penyebabnya? Overconfident (kepedean).
Bagaimana mencegah overconfident (kepedean)? Belajarlah menerima masukan yang bagus dan rasional, walau ia datang dari orang yang tak kita sukai. Kemudian, belajarlah untuk tidak menegaskan posisi kepemimpinan lewat upaya represif (amarah dan kekerasan fisik). Justru, tegaskanlah posisi kepemimpinan itu dengan cara yang kreatif dan berkualitas; umpamanya dengan diskusi yang tidak menyudutkan, yang disampaikan dengan senyuman. Juga, belajarlah untuk menghadapi masalah dengan senyuman. Merenung + wajah serius dan ketat memang mampu menghasilkan solusi. Namun, merenung + wajah ceria dan santai pun akan mendatangkan solusi juga. Pilihlah yang lebih santai. Dan kita tidak akan mampu memilih yang nyantai bila kita overconfident.
Overconfident (kepedean), sebenarnya seringkali datang dari overthinking (hiperbola) alias prasangka. Suami-suami yang suka merasa posisi kepemimpinannya hendak dikudeta oleh istri dan oleh anaknya, akan cenderung menjadi pemimpin yang overconfident (kepedean). Pemimpin, presiden, perdana menteri, yang sering overthinking; berprasangka bahwa ia akan digulingkan, atau memiliki saingan/tandingan, akan sering terjerumus menjadi kepedean atau overconfident. Itu sebabnya, kadang kita fanatik, dan cemas bila bukan teman kita yang menjadi penguasa. Sering kita merasa akan terjadi kiamat jika penguasa itu bukan teman kita atau bukan orang yang kita sukai. Mari melihat secara jujur: Seringkali prasangka kita itu salah. Betapa sering presiden/walikota/menteri/wakil rakyat pilihan kita kalah dalam pemilihan, negara ini masih baik-baik saja?
Cara lain untuk selamat dari overconfident (kepedean) ialah membaca-mendengar sesuatu yang bertolak-belakang dengan prinsip hidup dan pemikiran kita. Walau terasa menyebalkan, bertahanlah. Teruslah dengarkan. Seringkali kita akan menemukan kebenaran di sana. Demikianlah Rasulullah saw itu; beliau adalah pemimpin multi-sosio-ekomomis. Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan muslim mengatakan: Sejatinya masyarakat Madinah itu terbagi 3 secara sosio-ekonomi: 1. Kaum Moderat yang pemukanya adalah Abu Bakar dan Umar, 2. Kaum Aristokrat (Kaya) yang pemukanya adalah Usman dan Mu'awiyah, 3. Kaum Grassroot (Arus Bawah) yang pemukanya adalah Ali dan Abu Dzar al Ghifari. Rasulullah saw itu pemimpin masyarakat yang multidimensional dan multikultural. Kalau kita terlalu elitist (suka orang kaya), kita tak ubahnya Usman, dan bahkan kalau kita terlalu grassroot (secara berlebihan suka orang miskin dan terjerumus anti-kemapanan/benci orang kaya), mohon ampun, kita akan menjadi bagai Ali, atau bahkan Abu Dzar. Pertanyaannya: Bukan kah Rasulullah saw itu rujukan? Dan jelas, beliau, tidak overconfident.
YM Ustadz
20/04/2022
06:47 WIB
No comments:
Post a Comment