Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Apakah bisa belajar tanpa berguru...?
saya akan jawab, dan tidak bermaksud ingin menghakimi, tapi ingin menyentuh kesadaran, juga bukan mematahkan semangat para pencari , melainkan hanya ingin meluruskan arah agar selamat.
Saya akan Menyusunnya agar orang yang belajar tanpa guru merasa diajak, bukan disudutkan.
Di zaman keterbukaan informasi ini, jalan menuju pengetahuan spiritual terasa semakin mudah. Ceramah agama dapat diakses kapan saja, kitab-kitab tersedia di genggaman, dan praktik-praktik batin dapat dipelajari secara mandiri. Sehingga Banyak orang lalu menempuh perjalanan ruhani tanpa berguru secara langsung, dengan keyakinan bahwa kebenaran sejati berada di dalam diri.
Memang pandangan ini tidak sepenuhnya keliru. Islam sendiri juga mengakui bahwa manusia ada dianugerahi fitrah dan nurani.
Allah berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya:
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.”
(QS. Asy-Syams ayat : 8)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi untuk mengenali kebenaran.
Namun, potensi bukan berarti jaminan keselamatan. Fitrah tetap membutuhkan penjagaan, arahan, dan pemurnian.
Memang Guru Bukan Pengganti Tuhan, Tapi jadi Penunjuk Jalan. Dalam tradisi Islam, guru tidak pernah ditempatkan sebagai sumber kebenaran mutlak. Guru hanyalah sebagai wasilah, penunjuk arah agar seorang murid tidak tersesat oleh dirinya sendiri.
Allah sudah memperingatkan tentang hal ini
Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl ayat : 43)
Ayat ini sangat jelas dan tegas:
Bahwa ketidaktahuan tidak bisa disembuhkan dengan perasaan yakin saja , tetapi juga dengan harus bertanya kepada ahlinya.
Bahaya yang Halus adalah : Ketika Ego Menjadi Pembimbing.
Masalah utama belajar tanpa guru bukan pada ilmunya, tetapi pada siapa yang akan mengoreksi dirinya nanti.
Tanpa bimbingan seorang guru , seseorang bisa tanpa sadar hanya mengikuti ajaran yang terasa nyaman, sesuai selera dirinya , dan menguatkan citra dirinya sebagai “orang yang sudah sampai”.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الشِّرْكُ الْخَفِيُّ
Artinya:
“Yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah syirik yang tersembunyi.”
(HR. Ahmad)
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu bentuk syirik khafi adalah menjadikan hawa nafsu dan ego sebagai penentu kebenaran, juga termasuk dalam urusan spiritual.
Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ
Artinya:
“Maka apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya....?”
(QS. Al-Jatsiyah ayat : 23)
Tanpa guru, seseorang sangat mungkin merasa sedang mendekat kepada Allah, bahkan merasa sudah sampai, padahal yang sedang dipelihara adalah rasa istimewa dalam dirinya.
Hikmah Ulama:
Bukan mau Merendahkan, Tapi ingin Menjaga
Para ulama tasawuf menyampaikan peringatan, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menjaga keselamatan jalan:
مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
Artinya
“Barang siapa tidak memiliki guru, maka setanlah yang akan menjadi gurunya.”
Maksudnya bukan bahwa semua yang belajar mandiri pasti tersesat, tetapi jalan spritual ini sangat rawan dan berbahaya jika ditempuh tanpa pengawasan dari ahli nya..
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:
“Penyakit hati lebih sulit dikenali daripada penyakit badan, dan seseorang jarang mampu melihat cacat dirinya sendiri.”
👍Jalan Tengah
✅Spiritualitas sejati bukan soal ada atau tidaknya guru, tetapi tentang kerendahan hati untuk mau dibimbing.
✅Bukan tentang ketergantungan pada manusia, melainkan kesadaran bahwa diri ini mudah tertipu oleh dirinya sendiri.
Guru sejati memang bisa Allah hadirkan dari berbagai arah, namun sering kali Allah menyelamatkan hamba-Nya melalui lisan dan teladan seorang guru pembimbing.
Sebagaimana do'a yang diajarkan Al-Qur’an:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
Artinya:
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran ayat : 8)
Do'a ini adalah mengajarkan kita tentang arti sebuah pengakuan , bahwa hidayah dari Allah juga perlu dijaga, bukan hanya sekedar ditemukan.
💎Penutup Nasihat
Belajar sendiri memang bukanlah dosa,
tetapi merasa cukup dengan diri sendiri adalah awal dari bahaya.
Semakin tinggi jalan spiritual seseorang,
Maka ia semakin membutuhkan cermin yang jujur,
bukan untuk mematahkan langkahnya,
tetapi agar ia benar-benar sampai dengan selamat.
sebagai renungan untuk menyadarkan tanpa ada niat untuk menghakimi, namun agar bisa diterima oleh mereka yang sedang belajar spiritual tanpa guru.
Islam tidak menutup pintu bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah, namun Islam juga tidak membiarkan seorang hamba berjalan sendirian tanpa penunjuk arah.
Jalan terbaik bukan menolak guru, dan bukan pula menuhankan guru, melainkan menjaga adab dalam mencari bimbingan.
Berikut beberapa saran langkah jalan tengah yang bisa diamalkan:
✅1️⃣ Mulailah dengan Guru yang Paling Aman: Ilmu Dasar dan Syariat
Sebelum berbicara tentang rasa, energi, atau pengalaman batin, pastikan dulu fondasi akidah dan syariat sudah benar.
Ilmu dasar adalah pagar untuk keselamatan.
Karena Rasulullah ﷺ bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Ilmu yang dimaksud para ulama adalah ilmu yang menjaga iman dan amal, bukan sekadar pengalaman batin yang subjektif.
✅2️⃣ Jika Belum Punya Guru, Jangan Jadikan Diri Sendiri sebagai Hakim.
Belajar mandiri boleh boleh saja , tetapi mengklaim diri sudah benar adalah bahaya.
👉Sikap yang paling aman adalah harus selalu merasa masih perlu dikoreksi.
Allah berfirman:
وَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Janganlah kamu merasa diri kamu suci. Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm ayat : 32)
Jika belum memiliki guru yang tetap, maka:
Coba bandingkan ilmu yang sudah di dapatkan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Lihat penjelasan para ulama muktabar
Jangan berani menyimpulkan sendiri, apalagi dalam perkara yang besar.
✅3️⃣ Jadikan Ulama Sebagai Rujukan, Walau Belum Bertemu Langsung.
Tidak semua orang langsung bertemu guru ruhani. Namun berguru tidak selalu harus bertatap muka pada tahap awal.
✅Membaca kitab ulama yang lurus akidahnya, ✅mendengarkan nasihat mereka,
✅dan mengikuti manhaj mereka adalah bentuk adab berguru.
Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl ayat : 43)
Ayat ini tidak berkata: cukup dengan perasaanmu, tetapi kembalilah kepada ahlinya.
✅4️⃣ Ukur Keberhasilan Spiritual dari sempurnanya Akhlak, Bukan dari Pengalaman bathin.
Pengalaman batin bisa saja menipu. Tapi Akhlak jarang berbohong.
Tanda sudah di jalan spiritual yang benar:
✅Semakin rendah hati
✅Semakin mudah menerima nasihat
✅Semakin lembut terhadap sesama
✅Semakin takut salah, bukan semakin merasa sampai.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
(HR. Ahmad)
Jadi jika “spiritualitas” membuat :
seseorang keras, merasa paling paham, dan meremehkan orang lain, maka itu bukan cahaya, tapi asap ego.
✅5️⃣ Berdoalah Agar Allah Mempertemukan dengan Pembimbing yang Benar.
Memang hidayah itu adalah hak Allah, Namun Guru pun bagian dari hidayah.
Sering seringlah berdoa seperti ini :
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ
“Ya Allah, tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya.”
Dan juga do'a yang diajarkan dalam Al-Qur’an:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
Artinya:
“Wahai Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran ayat : 8)
Belajar tanpa guru memang bukanlah suatu kesombongan, tetapi merasa tidak membutuhkan bimbingan adalah kesombongan yang halus.
Orang yang benar-benar tulus mencari Allah
✅Tidak akan menolak nasihat,
✅Tidak alergi pada arahan,
✅Tdak malu untuk berkata:
(“Saya masih perlu dibimbing.”)
Di situlah awal keselamatan.
Semoga bermanfaat...!
No comments:
Post a Comment