Sunday, January 26, 2025

Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah

*Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah*

Setelah selesai menunaikan salat Jumat, coba tanya pada khatib yang tadi bertugas: "Mengapa anda berkhutbah?" Kira² apa jawaban yang akan kita dengar? Untuk memenuhi rukun salat Jumat, untuk menggugurkan kewajiban, karena ditugaskan pengurus masjid setempat, dan lain-lain. Adakah yang akan berkata: Karena saya ingin mengubah jamaah saya? Atau karena saya ingin mengurangi penderitaan hidup jamaah saya? Mungkin ada, tapi dari 100 orang seberapa banyak? Mungkin 5? Atau 3? Atau 1? Atau 0?

Tentu saja khutbah Jumat adalah ibadah wajib demi menunaikan perintah Allah, itu kita setuju. Tapi coba renungkan, apa alasan Allah Swt mensyariatkan wajibnya ada khutbah Jumat? Tentu saja untuk mengubah orang lain! Allah Swt menghendaki orang yang suka judi online berhenti, Allah Swt menghendaki orang yang biasa membelanjakan hartanya dengan boros berhenti, Allah Swt menghendaki seorang anak merasa damai di rumahnya karena kini ayahnya tidak pemarah lagi, dan seterusnya.

Pertanyaan berikutnya, coba tanyakan ustaz yang mengisi pengajian Isra Miraj, apa alasan dia berceramah? Apa jawaban yang mungkin akan kita terima? Pahala kah, mengharap berkah kah, atau jika jujur mungkin ada yang berkata karena dapat duit banyak kah. Yang pasti, akan kah kita mendengar jawaban seperti: Karena saya ingin mengubah? Mungkin sedikit. Atau tanyakan pada ustaz yang mengampu pengajian kitab kuning milik ulama zaman dulu; apa tujuan anda mengkaji kitab kuning? Apakah semata untuk mengaji, ataukah untuk mengubah orang lain?

Kita beralih ke kaum non-agama, tanyakan pada guru dan cikgu di sekolah, untuk apa anda mengajar? Untuk duit kah? Untuk mengisi waktu luang kah? Untuk menambah pengalaman kah? Tanyakan pada dosen dan pengajar di perkuliahan, untuk apa anda mengajar? Untuk gaji kah? Untuk mendapat rekomendasi pangkat lebih tinggi kah? Yang pasti: Nyaris tidak ada yang akan berkata saya mengajar untuk mengubah orang lain. Mengapa kita hanya memikirkan diri sendiri? Pahalaku, kewajibanku, ibadahku, uangku, duitku, gajiku, pangkatku, kenaikan pangkatku, hafalanku, kefasihan bahasa arabku, aku, aku dan aku. Kenapa ruang di kepala kita tidak banyak memikirkan kamu dan kita? 

Seorang khatib saat ia berceramah, sadar kah ia bahwa salah satu jamaahnya terjerat judi online dan telah merugikan banyak uang orangtuanya dan saat ini orangtuanya sedang berdoa supaya anaknya berubah? Seorang ustaz ketika berceramah Isra Miraj, sadar kah ia bahwa salah seorang jamaahnya adalah seorang ayah yang sangat pemarah sehingga tak membuatnya betah di rumahnya dan saat ini anak itu berdoa sampai menangis agar ayahnya berubah? Seorang pengampu kitab Ihya 'Ulumuddin sadar kah ia bahwa di pengajiannya hadir seorang istri yang sangat membebani suaminya dan suaminya begitu mengharap perubahan sang istri?

Pertanyaannya: Apakah kita peduli dengan pendengar kita? Atau bahkan sadar kah kita bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja? Ataukah kita lebih asyik dengan: Pahalaku, ibadahku, hafalanku, bahasa arabku, pemahamanku, dan seterusnya? Kita perlu sadar bahwa Islam diturunkan Allah Swt dengan tujuan untuk mengubah manusia dan kemanusiaan. Kita perlu sadar bahwa Rasulullah saw memulai sunnah mengaji demi mengubah orang lain. Kita perlu sadar bahwa tujuan agama itu mengubah. Kita perlu sadar bahwa tujuan keberadaan Alquran itu untuk mengubah.

Tidak masalah, bagus bahkan jika kita suka menghafal dalil Alquran maupun hadis. Tidak masalah bahkan bagus jika kita sangat menyukai kajian mendalam kitab Ihya' atau sejarah hidup Imam al Ghazali. Tapi perlu kita sadari bahwa keberadaan agama itu sendiri adalah untuk mengubah orang lain. Itu sebabnya; keasyikan dengan ilmu jangan sampai membuat kita lupa akan tujuan ilmu itu sendiri. Keasyikan kita mengaji jangan membuat kita lupa tujuan akhir dari mengaji itu sendiri: Mengubah diri sendiri dan orang lain.

Benar bahwa perubahan itu di Tangan Allah, Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya dan kita tiada daya, benar. Tetapi itu bukanlah alasan untuk tidak mempedulikan orang lain. Bayangkan: Orang yang berniat mengubah orang lain saja bisa gagal dalam ceramahnya, apalagi yang memang tidak ada niat mengubah sama sekali? Rasulullah saw yang amat berat baginya penderitaan orang lain dan amat menginginkan keimanan bagi kita itu pun masih bisa ditolak dakwahnya? Lantas bagaimana kita yang membuka forum kajian semata untuk mengupas kitab atau teks tanpa peduli dengan keimanan dan penderitaan orang lain? Wallahua'lam.

YM Ustaz
26/01/2025
06.58 WIB

Thursday, January 23, 2025

Sakinah Sebelum Mawaddah Warahmah

Sakinah Sebelum Mawaddah Warahmah

Sebenarnya apa arti kalimat samawa (sakinah mawaddah warahmah) dan apa relevansinya dengan pernikahan? Sakinah itu ketenangan. Mawaddah itu cinta yang datang dari ketertarikan fisik pada lawan jenis. Rahmah itu artinya kasih sayang yang mendatangkan kemaafan. Soal mawaddah dan rahmah itu definisinya ada begitu banyak dan beda ulama beda pula definisinya; begitulah hasil pencarian saya di internet.

Tapi satu hal yang pasti semua sepakat, sakinah itu artinya ketenangan dan kedudukannya lebih awal (dan mungkin lebih utama) dibanding mawaddah dan rahmah. Apa tujuan pernikahan? Jangan tanyakan pada lajang yang belum menikah. Tanyakan pada yang sudah menjalani 10 tahun lebih. Tanyakan pada yang sudah menjalani 20an tahun lebih. Saya menduga mereka akan menjawab: "Mencari ketenangan." Masalahnya, apakah yang sudah 10 atau 20 tahun menikah itu mendapat ketenangan? 😀

Yang pasti: Sakinah atau ketenangan itu akibat. Sebabnya adalah akhlak mulia masing² suami dan istri. Suami atau istri yang kurang pemarah, kurang kasar, kurang cinta dunia, kurang panjang angan-angan, kurang suka uang, kurang mewah, dan seterusnya pasti lebih tenang hidupnya dan lebih menenangkan pasangannya. Sebaliknya, suami atau istri yang pemarah, kasar, cinta dunia, panjang angan-angan, suka uang, mewah, dan seterusnya pasti kurang tenang hidupnya dan kurang menenangkan pasangannya.

Betapa banyak suami² merasakan kegelisahan saat pulang ke rumah, atau saat istrinya hadir di dekatnya karena istrinya bukan main pemarah dan banyak angan. Sebaliknya betapa banyak istri² yang merasakan terancam di rumahnya karena suami yang pemarah dan kasar. Ini suasana dimana "sakinah" tidak hadir. Dan ketika "sakinah" tidak hadir, ketertarikan fisik hilang, rasa ingin bersama hilang. Ketika sakinah tiada, mawaddah warahmah mustahil hadir!

Namun rumah tangga tak sakinah itu dipertahan-tahankan karena anak sudah banyak, aset rumah atau rekening bank atas nama bersama, bisnis dirintis bersama, malu pada masyarakat, dan lain-lain sebagainya. Dalam rumah tangga yang tidak ada ketenangan; bahagia pasti tiada. Tak peduli seberapa cantik istrinya, seberapa ganteng suaminya, seberapa besar rumah mereka, seberapa banyak simpanan duit mereka, mereka tak akan bahagia. Orang lain mungkin melihat istrinya cantik bagai bidadari, tapi si suami melihatnya menyeramkan bagai kuntilanak. Orang lain melihat si suami gagah bagai hercules, tapi si istri melihat suaminya memuakkan bagai sandal jepit.

Itu sebabnya jangan sekedar berdoa agar rumah tangga dikekalkan. Berdoalah rumah tangga kekal dalam akhlak mulia. Persatuan itu akibat. Cinta kasih itu akibat. Rasa ingin bersama itu akibat. Penyebabnya adalah akhlak mulia. Penyebabnya adalah sedikitnya marah, sedikitnya angan-angan, kesederhanaan menjalani hidup, salat 5 waktu, kecintaan pada Allah dan RasulNya, sedikitnya membanding-bandingkan, tidak materialistik, tidak memboros, santun berkata-kata, dan seterusnya.

Kebersamaan tanpa akhlak mulia itu penderitaan. Jika pernikahan dijalani tanpa akhlak mulia dari kedua pihak, hanya akan ada 2 kemungkinan hasil: Menderita atau cerai. Kedua²nya tidak enak. Itu sebabnya betapa benarnya konsep "sakinah mawaddah warahmah" itu. Sakinah (ketenangan) itu mendahului rasa suka dan rasa cinta. Tanpa ketenangan, suka dan cinta tiada. Pernikahan, bahkan perkumpulan apapun akan punah jika tiada ketenangan. Dan azas dari ketenangan itu tak lain adalah kebaikan hati.

Akhirnya kita berkaca, betapa kelirunya cara kita mencari pasangan. Coba tanyakan kenapa dulu kita menikah? Kenapa dia yang kita pilih? Saya bertaruh hampir 100% menjawab karena suka, cinta, atau tertarik. Dengan perkataan lain; kita mencari pasangan dan memasuki pernikahan dengan "mawaddah warahmah" dan menomortigakan "sakinah." Orang memasuki pernikahan tanpa mempertimbangkan akan kah kita tenang jika menjalani dengannya nanti? Satu²nya yang dipikirkan ialah: "Aku akan gelisah kalau calonku ini direbut orang lain."

Akhirnya, pengabaian terhadap konsep sakinah dibayar dengan pernikahan tak bahagia atau perceraian. Penderitaan dan perceraian itu adalah denda (fine) yang dibayar karena kita tidak membayar pajak (tax) bernama sakinah. Di negara, jika tidak ingin kena denda (fine) bayarlah pajak (tax). Dalam rumah tangga jika tidak ingin mendapat denda penderitaan dan perceraian; pedulikanlah sakinah, wujudkanlah ketenangan, kerjakanlah akhlak mulia. Setelah itu, semuanya mengalir. Wallahua'lam.