Skip to main content

Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah

*Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah*

Setelah selesai menunaikan salat Jumat, coba tanya pada khatib yang tadi bertugas: "Mengapa anda berkhutbah?" Kira² apa jawaban yang akan kita dengar? Untuk memenuhi rukun salat Jumat, untuk menggugurkan kewajiban, karena ditugaskan pengurus masjid setempat, dan lain-lain. Adakah yang akan berkata: Karena saya ingin mengubah jamaah saya? Atau karena saya ingin mengurangi penderitaan hidup jamaah saya? Mungkin ada, tapi dari 100 orang seberapa banyak? Mungkin 5? Atau 3? Atau 1? Atau 0?

Tentu saja khutbah Jumat adalah ibadah wajib demi menunaikan perintah Allah, itu kita setuju. Tapi coba renungkan, apa alasan Allah Swt mensyariatkan wajibnya ada khutbah Jumat? Tentu saja untuk mengubah orang lain! Allah Swt menghendaki orang yang suka judi online berhenti, Allah Swt menghendaki orang yang biasa membelanjakan hartanya dengan boros berhenti, Allah Swt menghendaki seorang anak merasa damai di rumahnya karena kini ayahnya tidak pemarah lagi, dan seterusnya.

Pertanyaan berikutnya, coba tanyakan ustaz yang mengisi pengajian Isra Miraj, apa alasan dia berceramah? Apa jawaban yang mungkin akan kita terima? Pahala kah, mengharap berkah kah, atau jika jujur mungkin ada yang berkata karena dapat duit banyak kah. Yang pasti, akan kah kita mendengar jawaban seperti: Karena saya ingin mengubah? Mungkin sedikit. Atau tanyakan pada ustaz yang mengampu pengajian kitab kuning milik ulama zaman dulu; apa tujuan anda mengkaji kitab kuning? Apakah semata untuk mengaji, ataukah untuk mengubah orang lain?

Kita beralih ke kaum non-agama, tanyakan pada guru dan cikgu di sekolah, untuk apa anda mengajar? Untuk duit kah? Untuk mengisi waktu luang kah? Untuk menambah pengalaman kah? Tanyakan pada dosen dan pengajar di perkuliahan, untuk apa anda mengajar? Untuk gaji kah? Untuk mendapat rekomendasi pangkat lebih tinggi kah? Yang pasti: Nyaris tidak ada yang akan berkata saya mengajar untuk mengubah orang lain. Mengapa kita hanya memikirkan diri sendiri? Pahalaku, kewajibanku, ibadahku, uangku, duitku, gajiku, pangkatku, kenaikan pangkatku, hafalanku, kefasihan bahasa arabku, aku, aku dan aku. Kenapa ruang di kepala kita tidak banyak memikirkan kamu dan kita? 

Seorang khatib saat ia berceramah, sadar kah ia bahwa salah satu jamaahnya terjerat judi online dan telah merugikan banyak uang orangtuanya dan saat ini orangtuanya sedang berdoa supaya anaknya berubah? Seorang ustaz ketika berceramah Isra Miraj, sadar kah ia bahwa salah seorang jamaahnya adalah seorang ayah yang sangat pemarah sehingga tak membuatnya betah di rumahnya dan saat ini anak itu berdoa sampai menangis agar ayahnya berubah? Seorang pengampu kitab Ihya 'Ulumuddin sadar kah ia bahwa di pengajiannya hadir seorang istri yang sangat membebani suaminya dan suaminya begitu mengharap perubahan sang istri?

Pertanyaannya: Apakah kita peduli dengan pendengar kita? Atau bahkan sadar kah kita bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja? Ataukah kita lebih asyik dengan: Pahalaku, ibadahku, hafalanku, bahasa arabku, pemahamanku, dan seterusnya? Kita perlu sadar bahwa Islam diturunkan Allah Swt dengan tujuan untuk mengubah manusia dan kemanusiaan. Kita perlu sadar bahwa Rasulullah saw memulai sunnah mengaji demi mengubah orang lain. Kita perlu sadar bahwa tujuan agama itu mengubah. Kita perlu sadar bahwa tujuan keberadaan Alquran itu untuk mengubah.

Tidak masalah, bagus bahkan jika kita suka menghafal dalil Alquran maupun hadis. Tidak masalah bahkan bagus jika kita sangat menyukai kajian mendalam kitab Ihya' atau sejarah hidup Imam al Ghazali. Tapi perlu kita sadari bahwa keberadaan agama itu sendiri adalah untuk mengubah orang lain. Itu sebabnya; keasyikan dengan ilmu jangan sampai membuat kita lupa akan tujuan ilmu itu sendiri. Keasyikan kita mengaji jangan membuat kita lupa tujuan akhir dari mengaji itu sendiri: Mengubah diri sendiri dan orang lain.

Benar bahwa perubahan itu di Tangan Allah, Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya dan kita tiada daya, benar. Tetapi itu bukanlah alasan untuk tidak mempedulikan orang lain. Bayangkan: Orang yang berniat mengubah orang lain saja bisa gagal dalam ceramahnya, apalagi yang memang tidak ada niat mengubah sama sekali? Rasulullah saw yang amat berat baginya penderitaan orang lain dan amat menginginkan keimanan bagi kita itu pun masih bisa ditolak dakwahnya? Lantas bagaimana kita yang membuka forum kajian semata untuk mengupas kitab atau teks tanpa peduli dengan keimanan dan penderitaan orang lain? Wallahua'lam.

YM Ustaz
26/01/2025
06.58 WIB

Comments

Popular posts from this blog

KUMPULAN FATWA" YM ABU dan YM USTADZ

Silahkan Abang" dan Kakak" diprint KUMPULAN FATWA" YM ABU dan YM USTADZ sebagai alat cermin diri agar kita selalu ada dalam REL AKHLAKUL KARIMAH , 😊😊😊🙏🙏🙏 Download file pdf

Bisa Diajarin (Teachable)

*Repost Fatwa YM*  ----------------------------- *Ustadz.* ------------- *Bisa Diajarin (Teachable)* Steve Jobs, mantan CEO Apple, yang dipandang sebagai salah satu tokoh teknologi terbesar di zamannya pernah mengungkapkan ungkapan yang begitu indah: "Stay Hungry, Stay Foolish." Yang kalau secara harfiah (literal) berarti "Tetaplah lapar dan tetaplah bodoh." Adapun konteks pernyataan tersebut ialah: Jangan berhenti belajar. Maulah diajarin. Jadilah bisa diajarin. Become teachable.  Kalau saya ingin menambahkan ungkapan Steve Jobs: "Stay young. Stay Junior." Atau, "Tetaplah muda dan jadilah junior selamanya." Ketika kita masih muda, junior dan baru belajar; kita siap dimarahi, siap letih, siap bekerja keras, dan siap untuk belajar dari pengalaman. Itu sebabnya, jangan merasa senior, karena biasanya senior itu malas belajar dan nggak mau diajarin (unteachable)! Karena merasa dirinya serba tau dan serba cukup! Itu sebabnya biasanya orang gagal dalam...

*Berani Tampil Sama*

*Berani Tampil Sama* Berani tampil beda, adalah doktrin yang sangat mendunia di dunia 20 tahun belakangan ini (atau mungkin lebih). Di antara akibat dari cara berpikir ini adalah lahirnya orang-orang yang suka mencari sensasi; berpakaian, berbicara, berpikir dengan cara yang tidak lazim. Untuk apa? "Supaya beda", tidak jelas juga untuk apa sebenarnya. Perlu kah tampil beda? Bila kita hadapkan kepada Alquran, yang penting bukanlah menjadi berbeda, yang penting adalah *menjadi baik.* Di Medan, ada istilah populer "Jangan Cuman Jago Kandang", yakni jangan hebat hanya di kandang. Pernah YM. Abu mengomentari statement ini, beliau bertutur, kira² seperti ini: "Memangnya kalau jago kandang kenapa rupanya? *Kita tidak ingin jago, kita hanya ingin bermanfaat.* Tidak penting apakah kita jago kandang, jago tandang, ataupun tidak jago keduanya, yang penting adalah menjadi orang baik." Harus senantiasa dikumandangkan pertanyaan: "Apakah ini baik? Apaka...