Saturday, January 30, 2021

Nikmat Menyadari Kesalahan

*Nikmat Menyadari Kesalahan* 

Setiap kita mengetahui sebuah hal, kita juga akan menyadari bahwa kita tak tau sebuah hal lain. Sederhananya, orang yang ilmunya 100, dia akan menyadari bahwa ada 100 hal lain yang dia tidak ketahui. Bila ada orang yang ilmunya 1000, dia akan menyadari pula bahwa ada 1000 hal yang dia tidak ketahui. Oleh karenanya dalam sebuah artikel dijelaskan, untuk mengetahui apakah seseorang berilmu atau tidak, cukup tanyakan: 3 tahun terakhir hidup anda, sering kah mengetahui hal baru? Sering kah anda merevisi/mengubah keyakinan dan konsep hidup anda? Sering kah anda tersadar bahwa selama ini anda salah? Kalau jawabannya ya, diduga kuat orang tersebut adalah orang pintar dan akan terus berkembang. Sebaliknya, bila ia merasa tidak banyak hal yang dia ubah, itu justru tanda dirinya adalah katak dalam tempurung.

Banyak orang sulit mengaku salah, dan merasa sangat sedih jika bersalah, bahkan putus asa, menutup diri, dst. Sebenarnya, *menyadari kita salah adalah nikmat Tuhan.* Orang yang mengaku salah dan siap merevisi pendapatnya, adalah orang pintar dan akan terus berkembang. Artinya, sadar salah adalah tanda kita akan berkembang, dan tanda Tuhan masih perhatian dengan kita. Dalam sebuah hadis disampaikan pula bila ada suatu kaum yang tidak berbuat salah, Tuhan akan mewafatkannya dan menggantikan dengan suatu kaum yang bisa berbuat salah, lalu kaum tersebut memohon ampunan, hanya karena *Tuhan suka hambaNya beristighfar dan minta ampun.*

Ada sebuah pemahaman dimana pemimpin harus lah orang yang paling dalam segala hal; paling hebat, paling pintar, paling berpengalaman, paling baik, dst. Warren Buffet justru berpendapat, carilah pasangan, anak buah, teman yang lebih hebat dari kita, supaya kita bisa terus berkembang. *Tujuan memimpin adalah mengubah menjadi lebih baik, bukan menunjukkan diri kita.* Dilihat dari sana, ucapan WB sungguh perlu kita pertimbangkan, dan jangan takut jika pasangan, teman, anakbuah, anak, atau bahkan cucu kita lebih hebat dari kita. Justru bersyukurlah, karena mewujudkan kebaikan akan semakin mudah.

Oleh karenanya, dorongan kehidupan modern yang meminta kita memenangkan perdebatan, memenangkan adu argumen, menjadi sumber referensi tunggal, memang perlu kita abaikan. Justru kita menggantinya menjadi dorongan berbuat kebaikan, mewujudkan kebaikan, belajar dan siap mengaku salah. Bisa dibayangkan bila suatu penduduk, semua orang di sana siap dan mudah mengaku salah; tidak ada orang yang merasa terancam di sana, tidak ada orang yang takut menyampaikan pendapatnya. Orang pintar akan semakin banyak, berbicara di depan umum bukan masalah, dan orang tidak takut berbuat, karena ia tidak khawatir di-bully. Itu adalah sebuah masyarakat impian, dan mewujudkan impian itu, adalah tanggungjawab kita sebagai orang muslim. Dimulai dengan, belajarlah dan siaplah mengaku salah, itu adalah karunia Tuhan. Wallahua'lam.

YM Ustadz
30/01/2021, 2:14 PM

Wednesday, January 27, 2021

THE POWER of MIND-SET

*Sebuah renungan...✍️*
""""""""""""""""""""""""""""""
*THE POWER of MIND-SET*

Ubahlah cara berpikirmu maka Nasibmu akan segera berubah.
Komentarmu menentukan nasibmu, bukan nasib orang yang kamu komentari.

Seorang murid bertanya pada gurunya;
"Guru kenapa ya hidup ini selalu banyak masalah?"

Guru: Bukan hidup yang banyak masalah tapi pikiranmulah yang bermasalah...?" 
"Kamu selalu berprasangka buruk pada apa saja dan siapa saja, itulah sebenarnya akar masalahnya."

Murid: "Tapi faktanya aku selalu mendapat masalah dalam hidupku."

Guru: "Ya itu karena pikiranmu bermasalah" 
Setiap kejadian dalam hidup itu sifatnya netral, pikiran kamulah yang menilai itu "bermasalah" atau "menguntungkan."

Murid : "Maksudnya?"

Guru : "Misalnya apakah Hujan itu bermasalah atau malah menguntungkan.”

Murid : "Bagiku bermasalah, karena kalau aku naik motor dan lupa bawa jas hujan pasti basah kuyup."

Guru : "Lantas kalau hujan bagi tukang Baso dan Tukang Payung apakah itu bermasalah?"

Murid : "Tentu saja tidak", bagi mereka malah menguntungkan.

Guru : "Yang jadi masalah Hujannya atau orangnya...?”

Ingatlah selalu ketika kita berprasangka baik maka hal-hal baiklah yang akan kita jumpai di sepanjang waktu kehidupan kita.

Dan ketika kita selalu berprasangka buruk maka hal-hal buruklah yang akan selalu kita jumpai setiap hari.

Jadi jangan mengeluh jika kita termasuk orang-orang yang selalu merasakan pengalaman yang negatif dan tidak menyenangkan di sepanjang hidup kita.

Karena kita dan pikiran kita sendirilah penyebabnya.

Bisa jadi ketika kamu membaca tulisan ini dapat membantu kamu untuk memperbaiki cara berpikirmu, agar hidupmu tidak selalu dirundung masalah.

Jadi mari kita ubah cara berpikir kita saat ini juga agar kita tidak lagi menjumpai pengalaman negatif dan tidak menyenangkan.

Nah sekarang mari kita cek cara berpikir kita masing2 yang tercermin dari komentar-komentar kita setiap hari :
1. Melihat rekan kerjanya naik jabatan.
Orang positif: Saya akan belajar dari dia.
Orang negatif: Pasti dia pinter banget cari muka.

2. Melihat orang pergi liburan ke luar negeri ?
Orang positif: Semoga kelak aku bisa seperti dia.
Orang negatif: Photonya paling cuma buat pamer-pamer doang.

3. Membaca status di WA/fb
Orang positif: Terimakasih untuk infonya izin share ya...
Orang negatif: Ah infonya basi saya sudah pernah baca kok.

4. Membaca status humor di WA/FB.
Orang positif: Terimakasih telah bisa membuat saya tersenyum pagi ini.
Orang negatif: Garing! 
Gak lucu!

5. Turun Hujan.
Orang positif : Syukur udaranya jadi sejuk.
Orang negatif: Ah kalo pas lagi perlu terang malah hujan, Dasar Sial !!

6. Dapat Gaji.
Orang positif: Syukur bisa buat bayar-bayar kebutuhan.
Orang negatif: Percuma gajian juga gak cukup buat bayar2 kebutuhan.

7. Melihat orang berpakaian Sederhana.
Orang positif: Duh dia orang yang sederhana sekali ya meskipun pejabat.
Orang negatif: Pejabat Tinggi tapi penampilannya kok kampungan gitu sih.

8. Punya Motor.
Orang positif: Syukur punya motor, enaknya naik motor itu klo pas panas gak kehujanan dan klo pas hujan gak kepanasan. 
Orang negatif: Begini neh klo naek motor, klo pas ujan basah kuyup gak kayak orang yang punya mobil.

9. Dapat info peluang Usaha mudah dan murah,yang bagus untuk  merubah nasib..??? 

Orang Positif: Peluang bagus nih.. pengen eksplore dan coba dalami lebih jauh ahh... siapa tahu emang ini peluang saya.
Orang Negatif: Ah, tidak mungkin, mana ada peluang sebagus ini, jaman sekarang mana ada bisnis murah tapi menghasilkan... pasti jebakan BATMAN nihh...

10. Membaca postingan ini
Orang Positif: Terimakasih sudah diingatkan, mohon izin share ya biar manfaat bagi yang lain. 
Orang Negatif: "Gak mau baca" karena dianggap menyindir dan menyinggung..

*Tipe yang manakah anda....???*

Itulah yang akan menentukan nasib anda.

Mau ubah nasib ???

Jadilah Manusia yang selalu berpikir positif..
Berpikir positif adalah manusia yang memilih hidup bersama TUHAN.

*INGATLAH !!!*

*KEKUATAN PIKIRAN SANGAT MENENTUKAN JALAN HIDUP ANDA..!!!*

*Semoga bermanfaat*🙏
*Selamat pagi.met beraktivitas.💪*

*_MEMBUTAKAN & MEMBUAT TULI_*

*MUHASABAH*

*_MEMBUTAKAN & MEMBUAT TULI_*

Saudaraku,
_Al-Hawā_ atau hawa nafsu adalah potensi negatif yang ada di dalam diri kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "hati-hatilah dengan hawa nafsu karena hawa nafsu itu membutakan dan membuat tuli.”

Orang yang sedang dimabuk asmara sulit menerima kebenaran dan nasihat karena hawa nafsu telah membutakan mata hati dan membuat tuli. Rasulallah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan agar umatnya hati-hati dengan hawa nafsu yang akan menjerumuskannya kedalam kenistaan, kehinaan dan penyesalan..


Saudaraku,
Kekhawatiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap umatnya sangat beralasan karena ketiga hal tersebut akan membinasakan dan menghancurkan masa depan manusia...

Memperturutkan hawa nafsu membawa manusia kepada kesesatan. Orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya selalu cenderung kepada perbuatan yang melampaui batas.  

Tidak sedikit manusia yang buta mata hatinya dalam memperturutkan hawa nafsunya. Atas nama cinta mengikuti hawa nafsunya melakuan perzinaan. Syaitan menghiasi kemaksiatan dengan keindahan. Orang dalam kondisi seperti ini tidak dapat menerima nasihat karena hanya nasihat syaitan yang menjadi pedoman hidupnya...

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اذا اراد الله بقرية هلاكا اظهر فيهم الزنا

"Apabila Allah hendak menghancurkan suatu negeri, maka akan marak perzinaan."

Saat perzinaan dianggap lumrah, kemaksiatan dianggap hal biasa dan kezaliman sudah merata terjadi di mana-mana, maka siksa Allah Azza wa Jalla akan datang segera...

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ثلاث منجيات، وثلاث مهلكات، فأما المنجيات: فتقوى الله في السر والعلانية، والقول بالحق في الرضا والسخط، والقصد في الغنى والفقر، وأما المهلكات: فشح مطاع، وهوى متبع، وإعجاب المرء بنفسه

"Ada tiga hal yang menyelamatkan dan tiga hal yang membinasakan. Tiga hal yang menyelamatkan adalah bertakwa kepada Allah baik dalam keadaan sepi atau di tengah keramaian, berkata yang benar, baik dalam keadaan senang maupun marah dan hemat, baik dalam keadaan kaya atau miskin. Adapun tiga yang membinasakan adalah _bakhil_ (pelit) yang ditaati, memperturutkan hawa nafsu dan bangga terhadap diri sendiri."

Tidak sedikit manusia hancur dan binasa karena selalu mengikuti dorongan hawa nafsunya. Orang yang mengikuti hawa nafsunya bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin haus.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "setiap manusia akan dikumpulkan bersama yang diikutinya. Siapa yang mengikuti hawa nafsunya dalam kekafiran, maka dia akan dikumpulkan bersama orang-orang kafir dan tidak bermanfaat amalnya sedikitpun.”

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

"Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allâh ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allâh telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas."

(QS. Al-An’ām: 119)

Saudaraku,
Menuhankan hawa nafsu merupakan puncak kesesatan para pengikut hawa nafsu, dijadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Argumentasi rasional dibangunnya untuk mempertahankan kesesatannya...

Apabila argumentasinya lemah, maka mereka menggunakan analogi rendahan. Tidak sedikit seorang yang maksiat berkata, kenapa saya disalahkan dan dihukum, bukankah masih banyak orang lain yang melakukan kejahatan lebih besar dari saya? Padahal kejahatan dan kemaksiatan besar atau kecil adalah tetap kejahatan...

Perzinaan hanya sekali atau berulang kali adalah kemaksiatan. Korupsi sedikit atau banyak adalah kejahatan. Tidak ada orang mati kesandung gunung tetapi orang mati kesandung kerikil, artinya kehancuran seringkali bukan pada intensitas kejahatan tetapi karena kejahatan itu sendiri walaupun kecil. Kejahatan kecil jika dibiarkan lama kelamaan akan berpotensi menjadi kejahatan besar...

Allah Azza wa Jalla berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

(QS. Al-Jātsiyah: 23)

Saudaraku,
Jangan anggap menuhankan nafsu sebagai persoalan sepele, karena akan membuat kebinasaan. Segeralah memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla atas keinginan yang kuat untuk selalu berada di jalan yang lurus dan memohon pertolongan yang maha kuasa, akan mengantarkan seorang hamba menjadi pemenang dalam pertarungan batin. Mohonlah perlindungan kepada Allah yang Maha Kuasa dengan selalu berdzikir kepada-Nya...

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

افضل الجهاد ان يجاهد الرجل نفسه و هواه

"Jihad yang paling utama adalah seseorang yang berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya."

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bertaubat memohon ampunan-Nya dan melakukan _mujāhadah al-nafs_, yaitu berjuang melawan nafsu diri untuk meraih ridha-Nya...
Aamiin Ya Rabb.

_Wallahua'lam bishawab_

Sunday, January 24, 2021

Hari Esok (Pasti) Lebih Baik

*Hari Esok (Pasti) Lebih Baik*

*QS. Ađ-Đuĥaá(93): 4*
*Dan sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.*
Ini adalah kabar gembira. Yang harus disambut dengan kegembiraan. Dan harus ditampilkan dengan kegembiraan, dengan sikap menebarkan kegembiraan! Dalam sebagian tafsir ayat di atas, disebutkan akhirat lebih baik dari dunia, tapi konteksnya jelas adalah happy ending; akhir selalu lebih baik dari awal, apakah itu hari esok lebih baik dari hari ini, akhir lebih baik dari awal, dan tentunya termasuk akhirat lebih baik dari dunia. Adapun di dalam Injil, pada Ref Pengkotbah 3: 11 disebutkan "Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya". Jalaluddin Rumi pernah berkata apa yang dilakukan Tuhan, Dia lakukan dengan indah. Dari sini kita bisa menarik sebuah kesimpulan, bahwa happy ending itu, sepertinya sebuah sunnatullah. 

Salah satu sikap yang wajib kita kembangkan dari konsep di atas adalah *prasangka baik kepada Tuhan.* Imam Syafi'i lebih kurang berkata: "Terlalu takut akan hilangnya sebuah nikmat/ditimpa masalah di kemudian hari adalah bentuk sangka buruk kepada Tuhan Yang Maha Pengasih." Prasangka baik pada Tuhan Yang Maha Pengasih berbeda dengan meringan-ringankan ataupun memudah-mudahkan agama. Prasangka baik adalah sebuah keyakinan Tuhan akan berbuat baik pada kita; memudahkan kita berubah, memudahkan kita menyelesaikan masalah, dll. *Buah dari prasangka baik pada Tuhan adalah sikap tenang, tabah menghadapi tekanan, enjoy dengan situasi hidup yang tengah dihadapi, dan jauh dari stress, cemas serta gangguan kejiwaan lainnya.*

Gus Dur pernah berkata lebih kurang: "Menghadapi masalah jangan dipikirin! Kalau kamu tidak tau jalan keluarnya jangan dipikirin, kan belum tau. Kalau sudah tau jalan keluarnya jangan dipikirin juga, kan udah tau jalan keluarnya?" Sikap sama yang juga diambil oleh YM. Abu, pernah beliau berkata lebih kurang: "Bila belum tau jalan keluar sebuah masalah, ya saya "tidur-tidur dulu", biasanya besok ada itu jalan keluarnya." Dan kenyataannya kita saksikan sendiri, YM. Abu adalah troubleshooter (penyelesai masalah) yang luarbiasa, dan itu juga ditampakkan Gus Dur. *Ternyata, troubleshooter handal justru enjoynya lebih banyak, stressnya lebih sedikit dan hatinya lebih tenang.* Agaknya itu adalah buah dari mengimani surat Ad Duha ayat 4 tadi, yang juga disebut dalam Injil Ref Pengkhotbah ayat 11. 

Sekali lagi, agaknya happy ending adalah sunnatullah; cara kerja Tuhan itu memang membuat ending bahagia. Oleh karenanya, selama kita masih berusaha istiqamah berislam kaffah, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengembangkan prasangka baik pada Tuhan, sikap optimisme hari esok lebih baik, dan tidak terlalu pusing memikirkan sesuatu. Justru, kembangkanlah sikap suka zikir, suka salat, suka berdoa dalam segala situasi, terlebih saat menghadapi masalah yang membingungkan, di samping bertukar pendapat dengan orang-orang arif. Kesabaran akan sulit sekali dilakukan, tanpa optimisme hari esok akan lebih baik. Oleh karenanya, happy ending sekaligus percaya hari esok lebih baik, adalah sebuah universal wisdom, sebuah kearifan universal, di samping merupakan sebuah sunnatullah. Bi idznillah. Insya Allah. Alhamdulillahirabbil'alamin.

YM Ustadz
24/01/2021
02:20 WIB

Saturday, January 23, 2021

MENJADI PENGIKUT YANG BAIK



*Menjadi Pengikut Yang Baik*

Banyak forum membahas cara menjadi pemimpin yang baik, namun sedikit yang membahas cara menjadi pengikut yang baik, padahal sejatinya a good leader is a good follower (pemimpin baik adalah pengikut yang baik pula). Kecenderungan ini mengakibatkan orang² memuja pemimpin yang dianggap berhasil dan mengkritik habis-habisan pemimpin yang dianggap gagal. Semua beban kegagalan ada pada pemimpin dan sebaliknya semua prestasi keberhasilan ada pada pemimpin. Benar kah demikian?

Sebenarnya, keberhasilan suatu organisasi ataupun suatu masyarakat adalah pencapaian bersama, bukan hanya pencapaian 1 orang. Dengan perkataan lain; ada jasa pengikut yang baik pada kesuksesan sebuah kelompok! Bahkan penyebaran Islam oleh Rasulullah saw pun demikian suksesnya, juga karena dedikasi pengikut² bermental baja seperti Abu Bakar, Ali, Abdurrahman bin Auf dan lain-lain sebagainya. Oleh karenanya, sebenarnya sangat tidak adil hanya menghukumi pemimpin gara-gara bobroknya masyarakat, dan tidak adil pula hanya memuja pemimpin karena bagusnya masyarakat!

Oleh karenanya, bertekadlah untuk selalu menjadi pengikut yang baik; *sehingga siapapun pemimpinnya menjadi tampak bagus jika kita pengikutnya.* Bukankah Islam menganjurkan memudahkan dan tidak mempersulit? Maka sudah sewajarnya kita mempermudah para pemimpin kita dengan mengembangkan sikap kepengikutan yang baik seperti; tidak mengkritik-menyindir-mencela tapi memberi solusi, menepati amanah yang diberikan, mematuhi aturan yang ditetapkan dan memaklumi keputusan pemimpin yang tidak sesuai dengan keinginan kita, selama keputusan tersebut belum mendatangkan sangat banyak mudarat. Sederhananya, *berakhlak mulia lah, sehingga siapapun mudah memimpin kita.*

Termasuk juga; jangan suka membangun prasangka atas langkah yang diambil pemimpin, jangan hina kekurangannya tapi lengkapi sehingga sempurna, sekali lagi, *jadikanlah pemimpin kita berprestasi gara-gara kepatuhan kita.* Bukankah memang begitu akhlak Islam itu? Nilai-nilai modern menganjurkan kita memiliki-memborong semua prestasi, penghargaan dan puja-puji, namun Islam meminta kita untuk berbuat baik dan sangat diutamakan menyembunyikannya, sampai dikatakan tangan kanan berbuat tangan kiri tidak tau. Jadilah pembuat perbaikan dan penebar kedamaian, jangan menjadi perusak dan penebar perpecahan apalagi teror.

YM UDL
[2021/1/22, 17:00 WIB]