*Nikmat Menyadari Kesalahan*
Setiap kita mengetahui sebuah hal, kita juga akan menyadari bahwa kita tak tau sebuah hal lain. Sederhananya, orang yang ilmunya 100, dia akan menyadari bahwa ada 100 hal lain yang dia tidak ketahui. Bila ada orang yang ilmunya 1000, dia akan menyadari pula bahwa ada 1000 hal yang dia tidak ketahui. Oleh karenanya dalam sebuah artikel dijelaskan, untuk mengetahui apakah seseorang berilmu atau tidak, cukup tanyakan: 3 tahun terakhir hidup anda, sering kah mengetahui hal baru? Sering kah anda merevisi/mengubah keyakinan dan konsep hidup anda? Sering kah anda tersadar bahwa selama ini anda salah? Kalau jawabannya ya, diduga kuat orang tersebut adalah orang pintar dan akan terus berkembang. Sebaliknya, bila ia merasa tidak banyak hal yang dia ubah, itu justru tanda dirinya adalah katak dalam tempurung.
Banyak orang sulit mengaku salah, dan merasa sangat sedih jika bersalah, bahkan putus asa, menutup diri, dst. Sebenarnya, *menyadari kita salah adalah nikmat Tuhan.* Orang yang mengaku salah dan siap merevisi pendapatnya, adalah orang pintar dan akan terus berkembang. Artinya, sadar salah adalah tanda kita akan berkembang, dan tanda Tuhan masih perhatian dengan kita. Dalam sebuah hadis disampaikan pula bila ada suatu kaum yang tidak berbuat salah, Tuhan akan mewafatkannya dan menggantikan dengan suatu kaum yang bisa berbuat salah, lalu kaum tersebut memohon ampunan, hanya karena *Tuhan suka hambaNya beristighfar dan minta ampun.*
Ada sebuah pemahaman dimana pemimpin harus lah orang yang paling dalam segala hal; paling hebat, paling pintar, paling berpengalaman, paling baik, dst. Warren Buffet justru berpendapat, carilah pasangan, anak buah, teman yang lebih hebat dari kita, supaya kita bisa terus berkembang. *Tujuan memimpin adalah mengubah menjadi lebih baik, bukan menunjukkan diri kita.* Dilihat dari sana, ucapan WB sungguh perlu kita pertimbangkan, dan jangan takut jika pasangan, teman, anakbuah, anak, atau bahkan cucu kita lebih hebat dari kita. Justru bersyukurlah, karena mewujudkan kebaikan akan semakin mudah.
Oleh karenanya, dorongan kehidupan modern yang meminta kita memenangkan perdebatan, memenangkan adu argumen, menjadi sumber referensi tunggal, memang perlu kita abaikan. Justru kita menggantinya menjadi dorongan berbuat kebaikan, mewujudkan kebaikan, belajar dan siap mengaku salah. Bisa dibayangkan bila suatu penduduk, semua orang di sana siap dan mudah mengaku salah; tidak ada orang yang merasa terancam di sana, tidak ada orang yang takut menyampaikan pendapatnya. Orang pintar akan semakin banyak, berbicara di depan umum bukan masalah, dan orang tidak takut berbuat, karena ia tidak khawatir di-bully. Itu adalah sebuah masyarakat impian, dan mewujudkan impian itu, adalah tanggungjawab kita sebagai orang muslim. Dimulai dengan, belajarlah dan siaplah mengaku salah, itu adalah karunia Tuhan. Wallahua'lam.
YM Ustadz
30/01/2021, 2:14 PM