*Hari Esok (Pasti) Lebih Baik*
*QS. Ađ-Đuĥaá(93): 4*
*Dan sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.*
Ini adalah kabar gembira. Yang harus disambut dengan kegembiraan. Dan harus ditampilkan dengan kegembiraan, dengan sikap menebarkan kegembiraan! Dalam sebagian tafsir ayat di atas, disebutkan akhirat lebih baik dari dunia, tapi konteksnya jelas adalah happy ending; akhir selalu lebih baik dari awal, apakah itu hari esok lebih baik dari hari ini, akhir lebih baik dari awal, dan tentunya termasuk akhirat lebih baik dari dunia. Adapun di dalam Injil, pada Ref Pengkotbah 3: 11 disebutkan "Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya". Jalaluddin Rumi pernah berkata apa yang dilakukan Tuhan, Dia lakukan dengan indah. Dari sini kita bisa menarik sebuah kesimpulan, bahwa happy ending itu, sepertinya sebuah sunnatullah.
Salah satu sikap yang wajib kita kembangkan dari konsep di atas adalah *prasangka baik kepada Tuhan.* Imam Syafi'i lebih kurang berkata: "Terlalu takut akan hilangnya sebuah nikmat/ditimpa masalah di kemudian hari adalah bentuk sangka buruk kepada Tuhan Yang Maha Pengasih." Prasangka baik pada Tuhan Yang Maha Pengasih berbeda dengan meringan-ringankan ataupun memudah-mudahkan agama. Prasangka baik adalah sebuah keyakinan Tuhan akan berbuat baik pada kita; memudahkan kita berubah, memudahkan kita menyelesaikan masalah, dll. *Buah dari prasangka baik pada Tuhan adalah sikap tenang, tabah menghadapi tekanan, enjoy dengan situasi hidup yang tengah dihadapi, dan jauh dari stress, cemas serta gangguan kejiwaan lainnya.*
Gus Dur pernah berkata lebih kurang: "Menghadapi masalah jangan dipikirin! Kalau kamu tidak tau jalan keluarnya jangan dipikirin, kan belum tau. Kalau sudah tau jalan keluarnya jangan dipikirin juga, kan udah tau jalan keluarnya?" Sikap sama yang juga diambil oleh YM. Abu, pernah beliau berkata lebih kurang: "Bila belum tau jalan keluar sebuah masalah, ya saya "tidur-tidur dulu", biasanya besok ada itu jalan keluarnya." Dan kenyataannya kita saksikan sendiri, YM. Abu adalah troubleshooter (penyelesai masalah) yang luarbiasa, dan itu juga ditampakkan Gus Dur. *Ternyata, troubleshooter handal justru enjoynya lebih banyak, stressnya lebih sedikit dan hatinya lebih tenang.* Agaknya itu adalah buah dari mengimani surat Ad Duha ayat 4 tadi, yang juga disebut dalam Injil Ref Pengkhotbah ayat 11.
Sekali lagi, agaknya happy ending adalah sunnatullah; cara kerja Tuhan itu memang membuat ending bahagia. Oleh karenanya, selama kita masih berusaha istiqamah berislam kaffah, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengembangkan prasangka baik pada Tuhan, sikap optimisme hari esok lebih baik, dan tidak terlalu pusing memikirkan sesuatu. Justru, kembangkanlah sikap suka zikir, suka salat, suka berdoa dalam segala situasi, terlebih saat menghadapi masalah yang membingungkan, di samping bertukar pendapat dengan orang-orang arif. Kesabaran akan sulit sekali dilakukan, tanpa optimisme hari esok akan lebih baik. Oleh karenanya, happy ending sekaligus percaya hari esok lebih baik, adalah sebuah universal wisdom, sebuah kearifan universal, di samping merupakan sebuah sunnatullah. Bi idznillah. Insya Allah. Alhamdulillahirabbil'alamin.
YM Ustadz
24/01/2021
02:20 WIB
No comments:
Post a Comment