Thursday, March 24, 2022

3 Tahapan Beragama

*3 Tahapan Beragama*

Menarik bila melihat Imam al Ghazali (mohon maaf jika ada periway
Taran saya yang kurang tepat): Kira², beliau adalah seorang pakar Fiqih, yang menjadi ketua dewan sebuah masjid, dan menjadi sekaligus pengajar di sebuah universitas. Pada suatu waktu, beliau selama 2 tahun mengalami depresi klinis (clinical depression) karena tidak mampu menjawab sebuah pertanyaan teologis (keimanan); beliau sulit tidur, sulit makan, dan seterusnya. Akhirnya, beliau sembuh setelah merasa mengalami fenomena ketuhanan lewat tasawuf yang dipelajarinya pada penghujung masa depresi beliau. Beliau telah menjadi seorang sufi, meninggalkan posisi ketua dewan masjid, menjadi seorang "santri" atau "anshor" kalau dalam istilah kita. Dan menariknya, di penghujung ketercerahan dan kesembuhannya, beliau kembali mengajar ke universitas, kembali berkarya!

Betapa banyak orang beragama Islam hari ini, yang memiliki kemiripan demikian. Pada tahapan pertama, ia mendalami Islam pada aspek fiqih-nya saja; ia sibuk bertahajjud, salat di masjid, puasa sunnah, berhaji dan berumrah, dan seterusnya, hingga satu titik merasakan kehausan akan suasana spiritual yang lebih mendalam; ia memasuki tahapan kedua; menjadi pengamal tasawuf. Tasawuf itu sendiri sebenarnya adalah pelaksanaan syariat dan menghayati hakikat dari syariat tersebut. Biasanya, ketika mendalami tasawuf, banyak orang mengisahkan mereka mendapati "pengalaman ketuhanan" atau boleh dibilang, "banjir spiritualisme" (spirituality flood) yang menghantarkannya pada gabungan rasa kebahagiaan, ketenangan, ketakziman khas pada Tuhan, pendalaman pemahaman keagamaan yang lebih; intinya syukur yang tak terlukiskan. Namun, dalam keasyikannya bertasawuf, ia teringat akan makhlukNya yang lain! Ia pun terdorong sedemikian rupa untuk "mengorbankan" keasyikan zikirnya, "mengganti" sebagian keasyikan munajatnya di atas sajadah, dengan upaya mengasihi sesama; orang ini masuk pada tahapan ketiga, yaitu menjadi sufi yang bermanfaat. Sebenarnya keutamaan mengasihi sesama itu pun jelas, dalam hadis diterangkan bahwa berjalan untuk sebuah keperluan orang lain lebih bagus dari i'tikaf sebulan lamanya di Nasjid Nabawi. Demikianlah tahapan ketiga, atau tahapan terakhir, yang dikatakan oleh Syekh Hisyam Kabbani kira² sebagai berikut: "Sufi sejati... fisiknya bersama manusia (dengan bekerja, menyantuni dan mengasihi sesama) tetapi hatinya bersama Tuhan."

Dalam realita lain, tak jarang 3 tahapan agama ini justru lebih terlihat sebagai 3 genre (aliran) agama. Genre pertama adalah genre-nya para peminat fiqih; dipenuhi dengan peribadatan dan pengkajian fiqihnya. Genre kedua adalah genre-nya para peminat tasawuf yang asyik berada di masjid saja; memenuhi hari² mereka dengan ibadah, kadang melalui kajian² hakikat tentang alam ketuhanan, yang tak jarang, kadang² meninggalkan pekerjaan dan keluarganya. Genre ketiga adalah genre-nya para aktivis kemanusiaan; penuh dengan aktivitas memberi makan, menolong orang, mengupayakan kemajuan umat, namun biasanya terasa kurang kental dalam spiritualisme-nya. Kira² Nabi saw yang mana? Jelas beliau adalah ketiga-tiganya. Namun yang amat tampak dominan dari beliau, memang adalah obsesi beliau mengasihi sesama. Beliau memiliki kecenderungan mistik, beliau sufi sejati, tapi beliau bukan orang yang tergila-gila pada mistik (mysticism). Dikisahkan bahwa sejak sebelum menjadi seorang Nabi dan Rasul pun, beliau sudah membenci aktivitas para _kahin_ (dukun/bomoh/peramal). Hari ini, tak jarang kita lihat peminat mistik, memang berangkat dari orang yang sejak dulu meminati ramalan, dan ilmu-ilmu gaib. Rasulullah saw bukan sosok yang demikian.

Akhirnya, menjadi seorang muslim, adalah menjadi seperti Rasulullah saw. Beliau teguh dalam fiqih-nya, menjauhkan yang hak dari yang batil, menghindari yang syubhat (grey area). Dalam kesufiannya beliau adalah seorang yang paling bertakwa; terhebat takzimnya pada Allah ta'ala, tak terimbangi ibadahnya. Namun dalam hal kemanusiaannya, sangat menonjol sejak sebelum kenabiannya, sejak masih berusia muda sebagaimana yang diungkapkan Khadijah saat berusaha menenangkan beliau tatkala menerima wahyu pertama: Nabi saw... seorang yang suka memberi makan pada orang lain, menyambung silaturrahim, jujur, banyak tersenyum, dan segala akhlak mulia lainnya! Pendeknya, kalau ingin menjadi sufi: Tirulah pangkal, nenek guru, dan asal semua sufi; Rasulullah saw! Beliau adalah sufi sejati yang paling tepat implementasi kesufiannya. Kalau ingin diringkas, menjadi sufi yang bermanfaat itu sederhana saja... Jalankan Islam secara kaffah! Dan dari jauh-jauh hari, YM. Abu telah mengumandangkan tentang hal ini

YM Ustadz
23/03/2022
23:24 Wib

Pengumpatan

*Pengumpatan*

Pengumpatan, atau pergunjingan, diistilahkan dalam QS. 49: 12 sebagai "memakan bangkai saudaramu." Namun, tetap saja orang banyak mengumpat, asyik dalam kunyahan demi kunyahan daging manusia yang mereka gosipkan. Mungkin mudah untuk menghindari mengumpat orang yang tidak kita benci, tapi biasanya manusia cenderung larut dalam mengumpat orang yang dibencinya; yang telah merugikannya! Sebut saja misalnya mantan boss kita yang sangat pemarah, yang ketahuan korupsi (rasuah) pula. Bertahun, bahkan kadang sudah belasan tahun berlalu, membicarakan mantan boss yang jahat itu tetap terasa sangat lezat! Akhirnya, tak jarang kita meninggalkan produktivitas kita, meninggalkan karya nyata, untuk sekedar menyantap daging mantan boss kita dalam meja pergunjingan yang lezat itu.

Dalam hadis telah disebutkan secara tegas bahwa di antara tanda kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan segala sesuatu yang tak bermanfaat baginya! Agaknya, membicarakan orang lain hanya dibolehkan untuk mengambil keputusan, atau menjadi pengingat agar kita tak terjerumus pada kesalahan yang sama. Namun seringkali, karena kebencian yang luarbiasa, kita masih menjadi penyantap daging orang yang kita benci. Mungkin dulu kita berada di suasana menegangkan yang menyebabkan kita perlu cepat mengambil keputusan untuk menjauhi seseorang, namun di masa kini yang kita sudah tak memiliki kaitan dengannya, kita masih terlalu terlalu terlalu asyik mengumpat-gunjing karena dengki yang luarbiasa! Tidak kah kita sadar, jika melakukan yang demikian, Tuhan pun tetap akan menghukum kita, dengan hukuman yang berat pula! Yaitu hukuman para pegunjing! Silahkan lihat di internet tentang hukuman bagi para pengumpat-pegunjing.

Akhirnya, menjadi manusia muslim itu sangat membahagiakan. Mengumpat tak boleh, bergunjing tak diizinkan, kalau begitu; opsi yang tersedia hanyalah bersukacita dalam bingkai ketuhanan! Seharusnya, komunitas yang tidak ada pergunjingan akan mencetak semakin banyak orang bahagia, orang berilmu, dan ahli ibadah, karena tidak diizinkan adanya majelis pergunjingan, maka yang ada hanya majelis kebahagiaan, majelelis keilmuan, dan majelis ketuhanan. Maka, periksalah komunitas kita, apakah masih tinggi pergunjingan di sana? Walau menggunjingkan orang jahat? Kalau masih, kenanglah perkataan YM. Abu bahwa *tak akan turun rahmat pada kaum yang suka bergunjing, meskipun itu ialah kaum majelis zikir.* Hentikan kebencian, mulai kebahagiaan, mulai mencari ilmu, mulai mendekatkan diri pada Tuhan, mulai mengasihi sesama. Hentikan pergunjingan dan pengumpatan!

YM Ustadz 
23/03/2022
23:37 Wib

Penimbunan Harta

*Penimbunan Harta*

Nabi Muhammad saw, telah melakukan lebih dahulu kebanyakan dari yang diwahyukan kepada beliau, bahkan sejak beliau masih muda! Beliau seorang yatim, mengalami derita hidup sebagai yatim, sehingga timbul kebencian beliau pada para penghardik yatim, kemudian Tuhan begitu banyaknya mewahyukan larangan menghardik yatim. Demikian juga, dari dulu beliau seorang yang suka menyambung silaturrahmi dan mendamaikan orang yang bermusuhan, kemudian turun banyak wahyu tentang anjuran silaturrahim. Beliau itu memang sedemikian mulianya, sehingga Aisyah mengisahkan bahwa Rasulullah saw itu akhlaknya adalah Alquran itu sendiri!

Salah satu ciri khas Rasulullah saw sejak muda adalah kebencian pada menimbun harta, kendatipun beliau orang yang sangat kaya sejak mudanya. Menurut sebagian riwayat, mahar beliau kepada Khadijah adalah sekitar 400 ekor unta, yang jika dinilai sekarang, mungkin lebih mahal daripada 4 buah mobil Alphard. Beliau menikahi Khadijah, yang bahkan lebih kaya daripada diri beliau sendiri. Namun, beliau sangat membenci menimbun harta dan makanan, sampai dikisahkan beliau menyimpan makanan hanya 3 hari, kalau tidak beliau makan, maka akan beliau bagi-bagikan. 

Itu sebabnya salah satu gelar Rasulullah saw adalah Abu al-Masakin (Ayahnya orang² miskin), sering dikisahkan beliau itu bila datang ke masjid, memang memilih untuk duduk bersama anak² miskin; memeluk mereka, bahkan tertawa bersama mereka, sampai² Ibnu Umar yang termasuk orang kaya pada zamannya (anaknya Umar bin Khattab), merasa iri, "andai aku jadi anak miskin! Pasti aku sering bersama Nabi saw!" Kira² begitu kata beliau.

Kepemimpinan Nabi saw sangat khas dan identik dengan pembelaan beliau pada _wong cilik_ (orang² kurang beruntung), beliau membela moral orang² miskin sehingga, bukan hanya mereka merasa seimbang dengan orang kaya, bahkan beliau membela orang miskin dan lemah sampai² para penguasa dan kaya itu iri! Dan yang kedua, beliau sangat suka mendistribusikan kekayaan beliau karena kebencian beliau menimbun kekayaan, sehingga daerah yang dipimpin beliau, cenderung makmur karena amat memperhatikan hak orang miskin. 

Ini sangat bertolak belakang dengan sebagian penguasa hari ini. Bahkan sebuah survey menunjukkan, dimana ada kumpulan kemiskinan luarbiasa, biasanya ada penguasa penimbun kekayaan di sana. Kita melihat hari ini, ada sebagian penguasa yang memiliki singgasana dan pakaian berlapis emas, padahal hanya jarak beberapa meter dari istana kebesarannya, ada orang kelaparan. Atau umpamanya, garasi sebagian penguasa yang dipenuhi dengan mobil sport dan motor besar semacam harley davidson berderet di garasinya, padahal jarak beberapa meter dari rumahnya ada orang yang kesulitan mencari penghidupan. Mari bertanya: Kira² apa perasaan Nabi saw sekiranya melihat hal² ini? Jelas dalam sabda beliau yang bunyinya kira² tidak beriman diri kita! Jika kita tidur dalam keadaan kenyang sementara kita mengetahui persis, ada tetangga kita, atau orang yang dekat dengan kita, tidur dalam keadaan kelaparan!

Sudah lah, jangan menyalahkan penguasa, jangan menyalahkan orang kaya, tapi introspeksi lah diri sendiri! Jangan sibuk mengumpat dan mengkaji kejelekan orang lain, lihat kejelekan kita! Apakah kita ini penimbun makanan? Apakah kita ini penimbun pakaian? Apakah kita ini penimbun uang? Apakah kita ini penimbun perhiasan? Sudah berapa banyak orang kurang beruntung yang menjadi beruntung karena tangan kita? Karena kita sedekahkan hak kita? Karena kita ajari mereka? Ini harus menjadi renungan kita, bahkan bila kita adalah orang miskin sekalipun! Bila kita miskin, perhatikanlah nasib saudara lain yang miskin! Apalagi bila kita kaya, semakin jelas wajibnya.

Akhirnya, untuk mengelakkan penimbunan harta, kita perlu memeriksa kembali apa persepsi kita, paradigma kita terhadap uang dan kekayaan? Akan sangat sulit untuk melepasnya, jika paradigma kita tentang kekayaan adalah "penyelamat" dan "kebanggaan." Alquran dalam Surat Al Humazah (QS.104) secara terang mengutuk orang yang menimbun harta dengan mindset harta ialah penyelamat. Renungkanlah: Kalau Tuhan menghendaki, mudah saja bagiNya melenyapkan simpanan emas kita, menghanguskan uang² kita di bank, meniadakan surat² obligasi dan deposito kita, ataupun membakar investasi² kita. Tuhan, jelas adalah satu²nya Penyelamat. Sedangkan kebanggaan; bukan kah kebanggaan sejati itu ialah mendapat ampunanNya? Kalau demikian, apakah harta dan kekayaan itu? Titipan dan amanah untuk mengagungkanNya, dan untuk mengasihi seluruh alam.

YM Ustadz
23/03/2022
23:01 Wib