Skip to main content

Posts

Bukan Sekedar Kebersihan

*Bukan Sekedar Kebersihan* Mari merenung: Ada seorang tukang bangunan, ia selalu menyapu lokasi pembangunannya (_worksite_) setiap selesai bekerja, kemudian peralatan kerjanya seperti cangkul, palu (hammer), bor (drill), paku semuanya dia letakkan di 1 tempat dengan rapi agar besok ketika memulai bekerja ia bisa mudah menemukan peralatannya. Kemudian saat ia bekerja, ia kerjakan dengan cantik dan rapi, ia tak bisa menerima jika ada hasil kerja yang kurang bagus. Ia rela bongkar ulang lagi demi hasil yang terbaik. Mari renungkan: Apa akar atau dasar dari perilaku si tukang bangunan? Contoh lain: Seorang tukang jahit, setiap selesai menjahit ia bersihkan mesin jahitnya, ia minyaki mesin jahitnya, lalu ia simpan peralatan jahit seperti gunting, meteran (pengukur badan) di satu tempat yang sama dengan rapi. Lalu saat ia menjahit, ia kerjakan dengan baik, jika ada yang kurang pas ia bongkar ulang, dan demi menepati janjinya kepada pelanggan ia rela lembur sampai malam agar memberikan jahita...
Recent posts

Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah

*Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah* Setelah selesai menunaikan salat Jumat, coba tanya pada khatib yang tadi bertugas: "Mengapa anda berkhutbah?" Kira² apa jawaban yang akan kita dengar? Untuk memenuhi rukun salat Jumat, untuk menggugurkan kewajiban, karena ditugaskan pengurus masjid setempat, dan lain-lain. Adakah yang akan berkata: Karena saya ingin mengubah jamaah saya? Atau karena saya ingin mengurangi penderitaan hidup jamaah saya? Mungkin ada, tapi dari 100 orang seberapa banyak? Mungkin 5? Atau 3? Atau 1? Atau 0? Tentu saja khutbah Jumat adalah ibadah wajib demi menunaikan perintah Allah, itu kita setuju. Tapi coba renungkan, apa alasan Allah Swt mensyariatkan wajibnya ada khutbah Jumat? Tentu saja untuk mengubah orang lain! Allah Swt menghendaki orang yang suka judi online berhenti, Allah Swt menghendaki orang yang biasa membelanjakan hartanya dengan boros berhenti, Allah Swt menghendaki seorang anak merasa damai di rumahnya karena kini ayahnya tidak pem...

Sakinah Sebelum Mawaddah Warahmah

Sakinah Sebelum Mawaddah Warahmah Sebenarnya apa arti kalimat samawa (sakinah mawaddah warahmah) dan apa relevansinya dengan pernikahan? Sakinah itu ketenangan. Mawaddah itu cinta yang datang dari ketertarikan fisik pada lawan jenis. Rahmah itu artinya kasih sayang yang mendatangkan kemaafan. Soal mawaddah dan rahmah itu definisinya ada begitu banyak dan beda ulama beda pula definisinya; begitulah hasil pencarian saya di internet. Tapi satu hal yang pasti semua sepakat, sakinah itu artinya ketenangan dan kedudukannya lebih awal (dan mungkin lebih utama) dibanding mawaddah dan rahmah. Apa tujuan pernikahan? Jangan tanyakan pada lajang yang belum menikah. Tanyakan pada yang sudah menjalani 10 tahun lebih. Tanyakan pada yang sudah menjalani 20an tahun lebih. Saya menduga mereka akan menjawab: "Mencari ketenangan." Masalahnya, apakah yang sudah 10 atau 20 tahun menikah itu mendapat ketenangan? 😀 Yang pasti: Sakinah atau ketenangan itu akibat. Sebabnya adalah akhlak mulia masing²...

Tauhid Di Akhir Hayat

*Tauhid Di Akhir Hayat* Bayangkan: Sekiranya saat ini Tuhan memperkenankan untuk kita, mewujudkan apapun keinginan kita. Apa yang akan kita minta dariNya? Apakah cita-cita kita yang telah lama kita pendam? Apakah harta benda yang telah lama kita impikan? Ataukah istana megah di surga berisikan bidadari-bidadari nan jelita rupawan? Alangkah indahnya jika kita berkata pada Tuhan: "Wahai Tuhan, hanya Engkau yang ku maksud, dan hanya keridhaanMu yang hamba tuntut." (Ilahi anta maqsudi waridhaka matlubi). Demikianlah sikap Rasulullah saw di akhir hayat beliau; ketika ditawarkan antara 2 pilihan; 1. Keabadian dunia-akhirat tanpa hilangnya keridhaanNya, 2. Segera menemuiNya, beliau memilih yang ke-2 sambil tersenyum, "Aku memilih yang Maha Hidup," kata Beliau. Sebenarnya, mindset, ucapan dan sikap Rasulullah saw itu lah hakikat dari meniadakan (menafikan) dan menetapkan (mengisbatkan) Tiada Tuhan selainNya; tiada yang dituju selainNya, tiada yang dicinta selain...

Bisa Diajarin (Teachable)

*Repost Fatwa YM*  ----------------------------- *Ustadz.* ------------- *Bisa Diajarin (Teachable)* Steve Jobs, mantan CEO Apple, yang dipandang sebagai salah satu tokoh teknologi terbesar di zamannya pernah mengungkapkan ungkapan yang begitu indah: "Stay Hungry, Stay Foolish." Yang kalau secara harfiah (literal) berarti "Tetaplah lapar dan tetaplah bodoh." Adapun konteks pernyataan tersebut ialah: Jangan berhenti belajar. Maulah diajarin. Jadilah bisa diajarin. Become teachable.  Kalau saya ingin menambahkan ungkapan Steve Jobs: "Stay young. Stay Junior." Atau, "Tetaplah muda dan jadilah junior selamanya." Ketika kita masih muda, junior dan baru belajar; kita siap dimarahi, siap letih, siap bekerja keras, dan siap untuk belajar dari pengalaman. Itu sebabnya, jangan merasa senior, karena biasanya senior itu malas belajar dan nggak mau diajarin (unteachable)! Karena merasa dirinya serba tau dan serba cukup! Itu sebabnya biasanya orang gagal dalam...

*Berani Tampil Sama*

*Berani Tampil Sama* Berani tampil beda, adalah doktrin yang sangat mendunia di dunia 20 tahun belakangan ini (atau mungkin lebih). Di antara akibat dari cara berpikir ini adalah lahirnya orang-orang yang suka mencari sensasi; berpakaian, berbicara, berpikir dengan cara yang tidak lazim. Untuk apa? "Supaya beda", tidak jelas juga untuk apa sebenarnya. Perlu kah tampil beda? Bila kita hadapkan kepada Alquran, yang penting bukanlah menjadi berbeda, yang penting adalah *menjadi baik.* Di Medan, ada istilah populer "Jangan Cuman Jago Kandang", yakni jangan hebat hanya di kandang. Pernah YM. Abu mengomentari statement ini, beliau bertutur, kira² seperti ini: "Memangnya kalau jago kandang kenapa rupanya? *Kita tidak ingin jago, kita hanya ingin bermanfaat.* Tidak penting apakah kita jago kandang, jago tandang, ataupun tidak jago keduanya, yang penting adalah menjadi orang baik." Harus senantiasa dikumandangkan pertanyaan: "Apakah ini baik? Apaka...

Penghormatan Status

Penghormatan Status You see the world as you are. Kita mempersepsikan dunia sebagaimana kita mempersepsikan diri kita sendiri; bila kita pemarah, kita pun akan menyangka orang pemarah pada kita. Kita menuduh orang sebagaimana kita menuduh diri kita sendiri; bila kita licik, kita akan mudah menduga orang lain licik pula pada kita. Dan kita menghormati orang lain berdasarkan apa yang kita hormati dari diri kita sendiri; bila kita memandang kekayaan, gelar dan piala itu penting, kita pun akan mengukur nilai orang lain berdasarkan kekayaan, gelar dan piala mereka.  Itu sebabnya, bila ingin memperlakukan orang lain secara lebih baik, mulailah dengan memandang diri sendiri secara lebih benar. Bagaimana mungkin kita akan menghormati orang lain karena akhlak dan kebaikannya jika kita memandang gelar dan status itu penting? Sebaliknya; sudah pasti kita tidak mempedulikan status dan kekayaan orang lain, bila kita memandang karakter dan kebaikan hati itu yang utama. Maka, evaluasi...