Wednesday, October 19, 2022

MENUNDA SHOLAT


MENUNDA SHOLAT               
(Jangan dibaca jika tak kuat)

Ada seorang wanita bertanya kepada'' mufti :"Bagaimana caranya membangunkan anak-anak saya yang sedang tertidur nyenyak untuk sholat Subuh ?" Mufti menjawab dengan balik bertanya kepada wanita tersebut :"Apa yang akan kamu lakukan jika rumahmu terbakar dan pada saat itu anak-anakmu sedang tidur nyenyak ?" Wanita tersebut berkata :"Saya pasti akan membangunkan mereka dari tidurnya." Mufti menjawab :"Bagaimana jika mereka sedang tertidur nyenyak sekali ?" .

Wanita itu kemudian menjawab :"Demi ALLAH! Saya akan membangunkan mereka sampai bener-benar bangun, jika mereka tidak bangun juga, saya akan menarik menyeret mereka sampai keluar dari rumah." Mufti kemudian menjawab :"Jika itu yang kamu akan lakukan untuk menyelamatkan anak-anakmu dari api dunia, lakukanlah hal yang sama untuk menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat kelak." Dari : Abuya As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki

AKIBAT SUKA SHOLAT DI UJUNG WAKTU

Para Malaikat menyeretnya melewati orang banyak, menuju ke arah api neraka yang menyambar-nyambar.

Dia menjerit sekuat tenaga dan bertanya-tanya barangkali ada orang yang mampu membantunya.

Dia menjerit lagi sambil menyebutkan semua kebaikan yang telah dia lakukan; bagaimana dia sering membantu orangtuanya. Bagaimana dia tidak pernah tertinggal puasanya, tidak pernah meninggalkan shalatnya, selalu bersedekah dan rajin membaca al-Quran.

Dia terus menjerit lagi, namun tidak  ada seorangpun yang tampil membantunya.

Para malaikat terus menyeret dia. Dan … mereka semakin dekat dengan kawah api neraka.

Dia menoleh ke belakang dan ini harapannya yang terakhir. Dia teringat …

Tidak! Rasulullah pernah bersabda:

“Bagaimana bersihnya seseorang yang mandi di sungai lima kali sehari dari kotoran, begitu juga bersihnya orang yang melaksanakan shalat lima kali sehari dari dosa-dosa mereka”

Dia menjerit lagi sekuat tenaga:

“Solat saya? Solat saya? Doa saya?”

Kedua malaikat tidak berhenti, dan terus menyeretnya ke tepi jurang neraka. Kembang api neraka yang membubung terasa menyambar mukanya.

Dia menoleh ke belakang lagi, tapi matanya telah kering dari setiap harapan dan dia tidak memiliki apa-apa lagi yang tinggal di dalam dirinya.

Salah satu malaikat menolak dia dan memasukan ke kawah neraka.

Dia mandapati dirinya terus melayang dan akhirnya jatuh ke dalam kawah api neraka yang menjulang tinggi selama 70 tahun.

Setelah 70 tahun sengsara dibakar api, tiba-tiba terasa tangannya diraih oleh satu lengan.

Dia ditarik kembali ke atas.

Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat seorang pria yang sangat tua dengan jenggot putih yang panjang memegang tangannya.

Pria itu kelihatannya sangat daif.

Sambil menyapu debu di tubuhnya dia bertanya pada pria tua itu:

“Siapakah anda?”

Orang tua itu menjawab: “Akulah sholat anda”

“Mengapa kamu begitu terlambat bantu saya? Wahai shalatku, saya telah terjerumus ke dalam api neraka selama 70 tahun! Kenapa setelah tubuh saya hangus dan hampir hancur baru kamu datang selamatkan saya ? kenapa …?.”

Orang tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata:

“Apakah kau lupa? Selama hidup di dunia dulu kamu selalu laksanakan saya pada saat-saat akhir !!”

“Setiap kali Maghrib kamu fokus pada sinetron tv dulu ..

“Dzuhur kamu lewat, kamu lebih mementingkan kerja daripada saya. Sholat ashar dan subuh juga selalu diujung waktu.

“Kamu ingatkah itu semua ??”

Penjelasan pria tua itu mengejutkannya dari tidur …

Dia terjaga dan mengangkat kepalanya dari tidur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat ketakutan …
Ya Allah.. Aku mimpi…

Tapi seperti nyata ..
Ketika itu juga ia mendengar suara adzan di kumandangkan menandai masuknya waktu shalat ashar.
Dia bangun dengan cepat dan mengambil wudhu. Dia berjanji tidak akan melalaikan shalat lagi. Dia menyadari kesalahannya sekarang. Dia telah mendapat petunjuk yang maha benar.
Sebarkan kisah ini kepada keluarga dan kawan-kawan anda. Mungkin anda dapat membantu mereka agar mulai sekarang mau menunaikan sholat tepat waktu.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak

Rasulullah bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari)

Tuesday, May 24, 2022

Islam Yang Bernuansa Sukacita

Islam Yang Bernuansa Sukacita



Dalam pandangan saya, salah satu masalah umat Islam saat ini adalah kegemaran pada menangis. Akhirnya, segala hal berbau Islam cenderung dekat dengan air mata, bahkan cenderung dipicu untuk menangis. Ketika para ustaz berceramah misalnya, seringkali penekanan dan berlama-lama di bagian azab; azab kubur, hari kiamat, siksa neraka, dan seterusnya. Atau lihat saja video ceramah para ustaz di youtube, seringkali diberikan backsound (musik pengiring) yang bernuansa sedih, padahal ceramahnya bertemakan bahagia pun, musik pengiringnya tetap sedih!

Menurut saya ini adalah masalah; kita memberikan apresiasi yang terlalu besar pada kesedihan. Efeknya adalah, kita menjadi umat yang lesu dan kurang semangat berjuang khususnya dalam berbuat kebaikan dan memperjuangkan hal duniawi. Rasulullah saw itu adalah sosok yang selalu tersenyum dan penuh semangat dalam bekerja, bahkan dalam mencari nafkah. Masalah lainnya adalah, seringkali air mata yang tumpah dari kaum kita adalah air mata buatan atau tidak organik (tidak alami). Karena melihat orang lain menangis saat mendengar ceramah, kita pun ikut²an menangis. Kira² air mata mana yang Tuhan apresiasi? Apakah air mata partisipatif (ikut²an menangis) ataukah air mata organik (alami karena takut padaNya). Bukan kah salah satu dari 7 golongan yang dinaungi Tuhan di hari kiamat, adalah orang yang menangis secara bersendirian, dan air mata-nya adalah organik (alami) karena takut padaNya?

Kita perlu mengubah image Islam yang penuh derai air mata partisipatif itu, ubahlah citra Islam sedih itu, agaknya di masa sekarang ini kita perlu membina sebuah bentuk Islam yang bernuansa sukacita. Bersukacita karena banyaknya rahmat Allah Swt. Sukacita yang mengantarkan umat pada semangat dalam produktifitas dan berbuat kebajikan; tentunya juga semangat dalam menjalani ibadah mahdah. Para penceramah, berhentilah memancing-mancing isak tangis yang tidak alami dari para jamaahnya. Para editor video ceramah; cobalah sesuaikan musik pengiring (backsound) dengan nuansa ceramahnya, jangan paksakan semua musik pengiring harus yang sedih. Dan kita para umat, cobalah memupuk sebanyak-banyaknya rasa syukur hingga ia meluap-luap, hingga ia menghantarkan kita pada sukacita yang produktif, pada syukur yang mem-profesional-kan. Di waktu hendak menangis, menangis lah. Di waktu tidak hendak menangis, jangan tarik-tarik keluar air mata itu! Senyum harus lebih mewarnai umat dibanding tangis!

YM Ustaz
24/4/2022
07:06 WIB

Tuesday, May 17, 2022

DIBALIK KISAH MARMER PENYERAP PANAS YANG ada di MASJIDIL HARAM dan MASJID NABAWI

*INSPIRASI* :
*DIBALIK KISAH MARMER PENYERAP PANAS YANG ada di MASJIDIL HARAM dan MASJID NABAWI*

Banyak yang bertanya mengapa lantai Masjidil Haram dan Nabawi tidak panas meskipun dihantam cuaca 50-an derajat celsius, bahkan selalu sejuk ?!

Berbagai macam asumsi pun lahir. 
Ada yang mengatakan bahwa di bawahnya ada mesin pendingin cuaca sehingga menyebabkan tetap sejuk dan tidak panas.

Akan tetapi, faktanya, bahwa lantai-lantai tersebut terbuat dari Marmer termahal dan terbagus yakni tipe Thassos dari daerah Yunani. 
Kerajaan Saudi sengaja membelinya untuk mencukupi lantai-lantai dua masjid suci dan halamannya. 
Semua itu demi kenyamanan Jamaah haji dan umroh.

Pasalnya, marmer tipe Thassos ini mampu menyerap kelembapan pada malam hari serta memantulkan terik mentari yang begitu menyengat. 
Itulah rahasia mengapa lantai-lantai di dua masjid suci tetap adem dan sejuk meskipun kita berjalan di bawah terik mentari tanpa alas kaki. 
Termasuk di antara nikmat dari Allah bagi tamu-tamu-Nya.

Tahukah anda siapakah Pria yang mendesain Masjidil Harom Mekkah & Masjidil Nabawi Madinah ?

Ya, Dia adalah seorang Insinyur dan Arsitek Mesir yang lebih suka menjauh dari pusat perhatian publik, tidak diketahui banyak orang dan bernama Muhammad Kamal Isma'eel (1908-2008)

------
Muhammad Kamal Ismaeel adalah :

✅ Seorang Termuda dalam sejarah Mesir yang Memperoleh Ijazah sekolah menengah

✅ Seorang Termuda yg mendaftar di Royal School of Engineering dan menjadi Wisudawan Termuda pula..

✅ Seorang Termuda yang dikirim ke Eropa untuk mendapatkan 3 gelar Doctor dalam Arsitektur Islam..

✅ Seorang Termuda yang mendapatkan *Syal Nil* dan *Pangkat Besi* dari Raja Saudi Arabia.

✅ Dia adalah Insinyur pertama yang melakukan Perencanaan dan Implementasi proyek perluasan Masjidil Haramain (Mekkah dan Madinah).

Dan Dia juga yang menolak menerima bayaran untuk Desain Teknik dan Pengawasan Arsitekturalnya kedua Mesjid tersebut....

Meskipun diketahui ada upaya dari Raja Fahd dan perusahaan Bin Laden untuk membayar berapapun yang dia tuliskan dalam selembar cek..

------
Ketika Kamal mengembalikan cek kosongnya, dia mengatakan kepada Bakar Bin Laden :

🔸"Mengapa saya harus menerima uang (untuk pekerjaan saya) di 2 Masjid Suci (Mekkah & Madinah)"

🔸 "Bagaimana saya akan menghadapi Allah (pada Hari Pengadilan nanti?)."

------
Kamal menikah pada usia 44 tahun..

Istrinya melahirkan seorang putra, tetapi kemudian meninggal, dan setelah itu ia pun tetap melajang dan mengabdikan seluruh waktunya hanya untuk menyembah Allah Ta'ala hingga wafat...

Waktu yang dihabiskannya untuk melayani 2 Masjid Suci tersebut lebih dari 100 tahun dan jauh dari pusat perhatian baik media massa, ketenaran bahkan uang sekalipun...💗

-------
Kamal Sang Jenius ini memiliki kisah yang luar biasa pada saat pembangunan kedua mesjid ini..

Yaitu tentang marmer atas (karya)nya di Masjidil Harom... 

Ia ingin menutupi lantai Masjidil Harom bagi mereka yg melakukan thowaf...

Dan marmer ini berfungsi khusus untuk menyerap panas, dan adanya hanya di gunung kecil di Yunani...

------
Saat itu Kamal pun melakukan perjalanan ke Yunani dan menandatangani kontrak untuk membeli marmer dalam jumlah yang banyak untuk Masjidil Haram (marbling), yakni hampir setengah dari gunung marmer itu...

Ia menandatangani perjanjian dan kembali ke Mekah, sampai marmer putih itu tiba di Mekkah.

Kemudian ia pun Memulai dan Mengawasi proses pemasangan marmer putih di lantai Masjidil Haram di Mekkah sampai selesai..

-------
Setelah 15 tahun kemudian, pemerintah Saudi memintanya kembali untuk menggunakan jenis marmer yang serupa agar dipasang di Masjidil Nabawi di Madinah..

Insinyur Muhammad Kamal pun berkata, 

🔸"Ketika Raja meminta untuk menggunakan jenis marmer yang sama untuk Masjid Nabawi, saya sangat bingung",

Kenapa ?
Karena hanya ada 1 tempat di bumi ini yang terdapat marmer jenis ini, yaitu di Yunani, dan saya sudah membeli 1/2 dari deposit marmer yang ada di gunung tersebut..."

------
Kamal pun pergi ke perusahaan yang sama di Yunani dan bertemu CEO tersebut... 

Ia bertanya kepada CEO Marmer tersebut tentang deposit marmer yg tersisa 15 tahun yang lalu ...

------
CEO marmer tersebut menjelaskan bahwa setengah dari deposit marmer itu telah mereka jual segera setelah Kamal pergi 15 tahun yang lalu..

Kamal pun menjadi amat sedih....

Kamal meninggalkan pertemuan, dan ketika meninggalkan kantor mereka, dia bertemu dengan Sekretaris Kantor marmer tersebut dan memintanya untuk mencari informasi keberadaan orang yang telah membeli sisa deposit marmer itu..

Sekretaris Kantor mengatakan bahwa hal itu akan sulit diketahui jika tidak membuka arsip karena proses bisnis nya telah lama berlalu..

Namun atas permintaan Kamal, dia berjanji untuk mencari datanya di arsip tersebut...

Kamal pun memberikan alamat dan nomor kamar hotelnya, serta berjanji akan mengunjungi kembali keesokan harinya..

------
Pada hari berikutnya, 

Beberapa jam sebelum berangkat ke bandara, Kamal menerima panggilan telepon dari sekretaris yang mengatakan bahwa dia telah menemukan alamat pembeli...

Kamal pun segera menuju kantor yang dimaksud, ternyata pembelinya adalah sebuah perusahaan di Saudi Arabia..

------
Kemudian Kamal terbang ke Arab Saudi pada hari yg sama dan pada saat kedatangan, dia langsung pergi ke kantor perusahaan tersebut dan bertemu dengan Direkturnya..

Kamal pun bertanya kepadanya bagaimana kondisi marmer yang dia telah beli 15 tahun lalu dari Yunani..? 

Direktur itu berkata, dia tidak ingat..

Namun ia segera menghubungi bagian stok (perusahaan) dan bertanya kepada mereka tentang marmer putih dari Yunani, dan mereka mengatakan kepada nya bahwa semua marmer masih ada, dan tidak pernah digunakan.. 
Allahu Akbar !

Kamal mulai menangis seperti bayi, dan selanjutnya menceritakan kisah lengkapnya kepada pemilik perusahaan..

------
Kamal segera menyodorkan cek kosong (tanpa menulis besaran nilai transaksi) kepada pemilik marmer, dan memintanya menuliskan jumlah yang inginkan, berapa pun besarnya..

Ketika Pemilik marmer mengetahui bahwa marmer itu untuk pembangunan Masjid Nabawi di Madinah, dia berkata : 

🔸"Saya tidak akan menerima 1 Riyal pun..."

🔸"Allah lah yang membuat saya membeli marmer ini dan melupakannya, itu artinya marmer ini memang sudah ditakdirkan oleh Allah harus digunakan untuk Masjid Nabawi.."

Masya Allah...

Mari kita doakan Semoga Allah memberkati Kamal tempat mulia di Jannah, Aamiin....

_Ditulis oleh:_
Dr. Zaglool Al Najjar
seorang Ilmuwan Bumi.

Thursday, May 12, 2022

HIDUP BUKAN HANYA SEBATAS UNTUNG DAN RUGI

Izin copas yg lewat beranda barusan karena gak bisa di bagikan 
baca sampai selesai. Ya 

Di Tepi Jln Ada bapak jualan cemilan. Aku beli 3 bungkus kripik

Kutanya, "berapa, Pak?"

Sambil nunduk bapak itu jawab "ibu ambil apa saja?"

Aku Spontan mengernyitkan dahi, batinku, "koq Bapaknya kenapa tanya, yah?"
"3 kripik, Pak."

"28 ribu, ibu", jawabnya.

Kusodorkan uang Selembar 100 ribu.

"Berapa ibu uangnya?" masih dalam posisi nunduk nanyanya.

Aku mulai bingung dengan pertanyaannya.
Ku jawab, "100 ribu, Pak."

Bapak itu lalu berdiri meraba² kantong celananya sambil ngeluarin beberapa uang.

Astaga… ternyata bapak itu ada masalah di matanya dan sepertinya gak bisa lihat.

Ya Allah.. knp aku tak pandai menjaga Hati.
Maafkan jika hati ini belum mampu berbaik sangka sama org

Bapaknya sibuk membongkar uang yang dikeluarkan dari kantong celananya. Nyaris dikeluarkan semua di tangannya.

Lalu dia bilang, "ambil saja ibu kembaliannya."

Seketika aku terkejut mendengar intruksi dari si Bapak.

Lalu secara spontan aku bertanya pada Bapak itu, "Pak, Klo saya kasih uangnya 10 ribu terus saya ambil kembalinya 50 ribu dari tangan Bapak dan Bapak kan ga tau. Terus nanti bapak rugi dong?"

Lagi lagi jawaban yang sederhana muncul dari mulutnya, "Allah Ga Akan Salah Alamat Kasih Rejeki.. ibu, kalo skrg saya harus rugi, saya yakin, Allah pasti lagi nyiapin Rejeki lain buat saya. Hidup Tak Hanya Sebatas Untung dan Rugi, tapi Hidup Belajar Tentang Sabar dan Ikhlas," katanya.

Ah aku nih memang Sensitif kalau ketemu orang Hebat seperti ini Rasanya gak bisa Nahan Air dari Pelupuk Mata ini. Ooh Tuhan... Gemetar hati ini mendengarnya.

Bapak itu nanya lagi, "sudah ambil kembaliannya belum bu ?"(rada bingung & ragu)..akhirnya

Kujawab, "ga usah, Pak! Hari ini Allah kirim Rejeki untuk Jenengan."

Bapaknya senyum sambil bilang, "Terima kasih, ibu."

Aku terus Sadar..
Ya Allah..ampuni aku.., Maafkan aku..dari setiap Kegelisahan dan keraguan Hati ini akan Rezeki dariMu..

Disaat semakin susahnya mencari Uang... si Bapak penjual cemilan ini dgn Keterbatasan Matanya Tetap Bertahan dan Yakin bahwa Allah selalu ada Bersamanya..

Hari ini Belajar lagi dari Manusia Hebat penjual cemilan bahwa Hidup Tak Hanya Sebatas Untung dan Rugi... ⬅️

Semoga Allah Senantiasa Melindungi Kita Semua
Aamiin...🙏🙏🙏

Tuesday, May 10, 2022

APAKAH ORANG MENINGGAL ITU SADAR , BAHWA DIRINYA SUDAH MATI ?


"APAKAH ORANG MENINGGAL ITU SADAR BAHWA DIRINYA SUDAH MATI ?.................:

1.Orang yang mati
   awalnya tidak
   menyadari bahwa
   dirinya mati. Dia
   merasa dirinya
   sedang bermimpi
   mati. Dia melihat
   dirinya ditangisi,
   dimandikan,
   dikafani, disholati
   hingga diturunkan
   ke dalam kubur.
  Dia merasa dirinya
   sedang bermimpi
   saat dirinya
   ditimbun tanah.
   Dia berteriak- 
   teriak tapi tidak
   ada yang
   mendengar
   teriakannya.

2.Beberapa waktu
   kemudian :

3.Saat semua
   sudah pulang
   meninggalkannya
   sendirian di
   bawah tanah.
   Allah kembalikan
   ruhnya. Dia
   membuka mata,
  dan terbangun dari
  "mimpi” buruknya.

4.Dia senang dan
   bersyukur, bahwa
   ternyata apa yang
   dia alami
   hanyalah sebuah
   mimpi buruk, dan
   kini dia sudah
   bangun dari
   tidurnya.

5.Kemudian dia
   meraba badannya
   yang hanya
   diselimuti kain
   sambil bertanya
   kaget,

6.“Dimana bajuku ?
   Kmana celanaku?”
   Lalu dia meraba
   sekelilingnya yang
   berupa tanah
   “Dimanakh aku ?”
   “Tempat apa ini ?
   Kenapa bau tanah
   dan lumpur ?”
   Kemudian dia
   mulai menyadari
   bahwa dia ada di
   bawah tanah, dan
   sebenarnya apa
   yang dialaminya
   bukanlah mimpi!
   Ya, dia sadar
   bahwa dirinya
   benar-benar telah
   mati.

7.Berteriak lah dia
   sekeras-kerasnya,
   mmanggil orang2
   terdekatnya yang
   dianggap bisa
   menyelamatkan
   nya :

7.“Ibuuuuu….!!!!
   “Ayaaaaaah…!!!!”
   “Kakeeeeek!!!”
   “Neneeeek!!”
   “Kakaaaaak!!!”
   “Sahabaaaat!!!”

8.Tidak ada seorang
   pun yg menjawab.
   Dia yang selama
   ini lupa pada
   Allah-pun ingat
   bahwa ALLAH
   adalah satu2nya
   harapan.

9.Menangis-lah dia
   sambil meminta
   ampun,

10.“Ya, Allaaaaah….
     Ya Allaaaaaah….
     Ampuni aku ya
     Allaaaaah….!!!”

11.Dia berteriak
     dalam ketakutan
     yang luar biasa
     yang belum
     pernah dirasakan
     sebelumnya
     sepanjang
     hidupnya.

12.Jika dia orang
     baik, maka
     muncullah 2
     malaikat dengan
     wajah tersenyum
     akan mndudukkn
     nya & menenang
     kannya,
     menghiburnya
    dan melayaninya
    dg pelayanan
    yang terbaik.

13.Jika dia orang
     buruk, maka 2
     malaikat akan
     menambah
     ketakutannya
    dan akan
    menyiksanya
    sesuai keburukan
    nya.

14.Pertolongan Al-
     Quran di Alam
     Kubur.

15.Dari Sa’id bin
     Sulaim ra,
     Rasulullah
     Shallallahu Alaihi
     wa Sallam
     bersabda :

(1)."Tiada penolong
     yang lebih utama
     derajatnya di sisi
     Allah pada hari
     Kiamat daripada
     Al-Qur’an. Bukan
     Nabi, bukan
     Malaikat dan
     bukan pula yang
     lainnya.” (Abdul
     Malik bin Habib-
     Syarah Ihya)."

(2).Al-Bazzar
     meriwayatkan
     dalam kitab
     La’aali
     Masnunah
     bahwa jika
     seseorang mati/
     meninggal dunia,
     ketika orang2
     sibuk dengan
     kain kafan dan
     persiapan
     pengebumian di
     rumahnya, tiba2
     seseorang yang
     sangat tampan
     berdiri di kepala
     mayat. Ketika
     kain kafan mulai
     dipakaikan, dia
     berada di antara
     dada dan kain
     kafan.

16.Setelah
     dikuburkan dan
     orang-orang
     mulai
     meninggalkan
     nya, datanglah 2
     Malaikat. Yaitu
     Malaikat Munkar
     dan Nakir yang
     berusaha
     memisahkan
     orang tampan itu
     dari mayat agar
     memudahkan
     tanya jawab.

17.Tetapi si tampan
     itu berkata : ”Ia
     adalah sahabat
     karibku. Dalam
     keadaan bgmn- 
     pun aku tidak
     akan meninggal
     kannya. Jika
     kalian ditugaskn
     untuk bertanya
     kepadanya,
     lakukanlah
     pekerjaan kalian.
     Aku tidak akan
     berpisah dari
     orang ini
     sehingga ia
     dimasukkan ke
     dalam syurga.”

18.Lalu ia berpaling
     kepada sahabat
     nya dan berkata,
     “Aku adalah Al-
     qur'an yang
     terkadang kamu
     baca dengan
     suara keras dan
     terkadang
     dengan suara
     perlahan.

19.Jangan khawatir
     setelah
     menghadapi
     pertanyaan
     Munkar dn Nakir
     ini, engkau tidak
     akan mengalami
     kesulitan.”

20.Setelah para
     Malaikat itu
     selesai memberi
     pertanyaan, ia
     menghamparkn
     tempat tidur dan
     permadani sutera
     yang penuh
     dengan kasturi
     dari Mala’il A’la
    (Himpunan
    Fadhilah Amal :
    609)

21.Allahu Akbar,
     selalu saja ada
     getaran haru
     selepas
     membaca hadits
     ini. Getaran
     penuh
     pengharapan
     sekaligus
     kekhawatiran.
     Getaran harap
     karena tentu saja
     mengharapkan
     Al-Quran yang
     kita baca dapat
     menjadi pembela
     kita di hari yang
     tidak ada
     pembela.
     Sekaligus
     getaran takut,
     kalau2 Al-Qur'an
     akan menuntut
     kita.

22.Banyak riwayat
     yang
     menerangkan
     bahwa Al-Qur'an
     adalah pemberi
     syafa’at yang
     pasti dikabulkan
     Allah Subhanahu
     wa Ta’ala.

23.Ya Allah,
     ampunilah
     dosaku, dosa Ibu
     Bapakku,
     keluargaku,
     saudaraku dan
     seluruh kaum
     Muslimin, Ya
     Allah, jangan
     Engkau cabut
     nyawa kami saat
     tubuh kami tak
     pantas berada di
     SurgaMu
     Aamiin.

24.Sobat sekarang
     anda memiliki
     dua pilihan :

(1).Membiarkan
     sedikit
     pengetahuan ini
     hanya dibaca
     disini.
(2).Membagikan
     pengetahuan ini
     kesemua teman
     mu , insyallah
     bermanfaat dan
     akan menjadi
     pahala bagimu.
     Aamiin.

25.Siapakah
     sahabatku
     selama di alam
     kubur dialah AL-
     QUR'ANNUL
     KARIM.

Mari kita kaji bersama Kitabulloh Al-Qur'an dengan sabar dan ikhlas krn Allah SWT.

Semoga bermanfaat bagi kita yang masih hidup.

Monday, May 2, 2022

Tidak Ada Mantan Saudara


Hubungan persaudaraan yang sebenarnya adalah ketika saudaramu sudah sama sama berumah tangga.
Akankah hubungan itu masih sama ketika masa kecil dahulu?
Ketika bertengkar kemudian bermain bersama lagi,
Ketika ada yang mengganggumu.
Kemudian kau panggil kakakmu.
Lalu dengan badannya yang lebih besar dia membelamu karena kau adalah adiknya.
Atau ketika kau membela adikmu yang memang bersalah demi sebuah kata karena dia adikku.
Ketika makanan yang dihidangkan ibumu dibagi bersama saudaramu.
Satu makan tempe maka semua tempe.
Tak ada yang dipilih kasih,
Satu makan telur maka dibagilah telurnya jika hanya satu butir.
Atau ketika orang tuamu pergi ke kebun dan membawa
satu tempat makanan,
pasti berebut makanan kesukaan,
tapi ujung ujung,
makan bersama dalam satu wadah.
Betapa kita akan sangat dirindukan hal hal seperti itu.
Akankah moment kebersamaan itu masih ada?
Ketika kalian sudah berumah tangga?
Ketika satu menjadi kaya yang lain hanya biasa saja.
Ketika satu menjadi orang terhormat sementara yang lain hanya jadi rakyat biasa
Atau ketika yang satu telah menjadi sangatlah alim.
Tapi yang lain masih mencari jati diri.
Maka selayaknya ...
saudara tetaplah saudara.
Dilahirkan dari ibu dan bapak yang sama
Maka darah saudaramu juga sama denganmu.
-Sudah sepatutnya
-Saling mengingatkan,
-Saling membantu,
-Saling bergandengan tangan.
Karena sesungguhnya saudaramu jauh di lubuk hatinya akan juga mendoakan mu.
Ketika kau menjadi kaya ...
saudaramu tidak akan meminta hartamu.
Tapi dengan bangga dia akan berkata pada semua orang :
"Lihatlah ...
saudaraku sudah jadi orang kaya.
Yang jadi ujian adalah ketika saudaramu terpuruk.
Akankah kalian meninggalkan atau melambaikan tanganmu untuk merengkuhnya ???
Coba tanya hatimu sendiri ...
Karena saudara bukan hanya perkara harta,
Bukan pula masalah yang bermartabat atau tidak,
Bukan pula masalah siapa yang dekat pada Sang Pencipta atau tidak,
Tapi ini masalah HATI,
ingatlah !!!
Belum tentu saudaramu yang terpuruk akan selamanya terpuruk,
Tak pasti juga dia yang sekarang jadi orang brutal esok juga akan tetap sama,
Dan belum tentu yang sekarang kaya akan selamanya kaya,
Yang sekarang alim akan tetap alim.
Karena hanya Tuhanlah yang tahu.
Jagalah saudaramu selagi ada, dalam keadaan apapun!
Karena kelak dia juga akan menjagamu,
Menangisi yang pergi dahulu.
Usahakan berkumpul disaat masih diberi kesempatan!
INGAT!! Selalu ada mantan pacar, mantan suami/istri. Tapi tak ada MANTAN SAUDARA

Mafia Hari Raya

FATWA YM MURSYID YAKF:
*Mafia Hari Raya*

Musim bulan syawal ini, premanisme khususnya pemerasan, penodongan (fait accompli) banyak terjadi. Mulai dari rumah-rumah (terutama rumah yang besar) dikunjungi orang-orang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, belum lagi orang memaksa masuk, kemudian memaksa meminta dilayani; untuk diberi makan, bahkan tak jarang meminta diberikan uang. Anak, suami, istri, keponakan, menantu, bahkan mertua dan orangtua, semuanya diseret, ditarik secara paksa untuk berkunjung ke tempat lain.

Tak berhenti sampai di situ, untuk menyempurnakan rangkaian kegiatan pemaksaan, pemerasan dan premanisme (mafia) itu; disempurnakan segala kegiatan itu dengan foto bersama, dimasukkan ke dalam social media seperti Instagram dan lain sebagainya dengan caption: "Kebahagiaan berhari raya." Ya, benar-benar bahagia saya pikir, benar-benar kebahagiaan yang palsu. Senyum bersama dalam foto, esoknya di dunia nyata saling cakar-cakaran gigit-gigitan, dan satu negara ini mendamba-dambakan bahagia yang dusta itu.

Sebenarnya kalau kita lihat, tradisi hari raya di negara kita (Indonesia, Malaysia) sangat dipengaruhi oleh tradisi Eropa dalam melaksanakan perayaan mereka, dalam hal ini Natal dan Halloween. Umpamanya pemberian uang hari raya kepada anak-anak kecil di musim Syawal ini sangat mirip dengan tradisi "Trick or Treat" pada perayaan Halloween di negara-negara barat. Halloween sebenarnya adalah perayaan suci kristen barat, namun kini sudah menyeleweng menjadi tradisi orang beramai-ramai berkostum hantu, lalu pergi ke rumah-rumah untuk meminta permen dan gula-gula.

Biasanya yang berkeliling meminta permen dan gula-gula ialah anak-anak, dengan kostum hantu mereka. Mereka ketuk pintu rumah tetangga mereka, ketika dibuka pintunya, mereka berkata "Trick or treat!", dan tuan rumah pun akan memberikan mereka permen dan gula-gula. Bukan kah ini sangat mirip, di negara kita dimana anak-anak tetangga ataupun saudara-sepupu kita, mengetuk-ngetuk pintu rumah kita, lalu meminta THR? Dan ini dianggap wajar? Kita benar-benar telah menjadikan hari raya kita mirip dengan hari raya barat, dan kita didik anak-anak kita untuk menjadi pemeras, preman, mafia. Tepuk tangan.

Hebatnya, segala tindakan pemerasan, penodongan, kebahagiaan palsu, dan penyelewengan makna suci hari raya ini, dilakukan atas nama keluarga, persaudaraan dan hubungan darah. Bisa dibayangkan jika kita yang keletihan menolak kunjungan para saudara, keluarga dan sepupu kita, yang tak berlebih-lebihan kita sebut sebagai mafia hari raya, apa yang akan terjadi? Mereka akan mengata-ngatai kita sombong, tidak mau bersaudara, merasa sudah hebat, sok suci, dan lain sebagainya! Benar-benar sistematik dan massive (massal) kita menciptakan generasi mafia (preman). Tepuk tangan sekali lagi!

Hari raya itu seharusnya hari kesucian. Imam Syafi'i bahkan berpendapat, malam Idul Fitri termasuk 1 dari 5 malam yang derajat keberkatannya setingkat di bawah level keberkatan malam Lailatul Qadar; kini dinodai dengan kembang api, mercon, dan minta uang. Seharusnya malam hari raya itu diisi dengan takbir dan zikir. Hari raya itu seharusnya tidak meninggalkan salat zuhur dan asar berjamaah, kini semuanya diganti dengan kunjungan pemerasan ke rumah keluarga. Hebat sekali, sekali lagi tepuk tangan yang lebih keras atas kemampuan kita melecehkan kesucian hari raya!

Kunjung-mengunjungi, silaturrahim di malam maupun di hari raya, memang dianjurkan. Apalagi jika diwarnai dengan saling memberi hadiah dan saling berbagi makanan; atau bahkan menjamu makan, bukan main keutamaan dan pahalanya itu, sudah pasti. Namun, perlu dipastikan bahwa kunjung-mengunjungi ini memang terjadi oleh orang yang memang ingin mengunjungi dan ingin dikunjungi. Hari ini, kunjung-mengunjungi terjadi lebih karena formalitas; dia saudaraku, keponakanku, maka aku harus ke sana. Memangnya kalau dia saudaraku, keponakanku, aku nggak ke sana kan tidak apa-apa? Memangnya kenapa kalau yang kita kunjungi tidak ada hubungan darah dengan kita? Apakah ia akan mengurangi keutamaan silaturrahim dan kemuliaan hari raya? Saya duga tidak.

Sebaliknya, kunjung-mengunjung paksa yang diwarnai dengan selfie-selfie dan foto-foto munafik itu, walaupun terhadap keluarga, walaupun terhadap saudara kandung, menurut saya itu lah yang justru melecehkan kemuliaan silaturrahim hari raya, jika yang dikunjungi dan yang mengunjungi tidak ridha dan tidak ikhlas! Bravo! Eureka! Selamat berbahagia! Pahala puasa dan ibadah sebulan ramadan penuh itu, dengan hebat, cepat, sistematik, dan penuh percaya dirinya kita gugurkan secara cepat. Luar biasa! Tepuk tangan yang paling meriah untuk satu fakta dan realita yang menggetarkan dan mencengangkan ini!

Saran: Berhari raya lah secara wajar. Kunjungi orang-orang yang memang hati ingin kunjungi. Undang orang-orang yang memang hati ingin mengundang. Persiapkan makanan dan hadiah pada mereka yang memang ingin kita sambut. Dan permisi terlebih dahulu kepada orang sebelum kita kunjungi, walau ia orang yang sangat dekat sekalipun, jangan langsung datang ke rumah orang lain dengan membawa penuh keluarga kita, itu zalim, zalim, zalim! Jangan tinggalkan salat berjamaah. Jangan memaksa meminta uang hari raya. Hormati manusia. Jangan suka mengatasnamakan kekeluargaan. Jangan suka jaim (jaga standard). Jadilah orang rendah hati, kenang ramadan yang baru saja berlalu.

YM Ustaz
2/5/2022
18:46 WIB

Wednesday, April 20, 2022

Overconfident


*Overconfident*

Hikmah sistem pemerintahan (pentadbidan negara) dengan pola demokrasi ialah adanya sistem pengingat ketika pemimpin (penguasa incumbent/petahana) melakukan penyelewengan. Hal ini sulit terjadi jika pemerintahan dikelola secara oligarki (sistem pemerintahan yang diatur sekelompok orang kaya), apalagi monarki (sistem pemerintahan yang diwariskan berdasarkan darah). Masalahnya, terkadang dalam sistem demokrasi pun kita terjerumus menjadi bagaikan penguasa oligarki/monarki, sehingga kita tak menyadari bahwa kita telah menyeleweng. Masalahnya? Overconfident (kepedean).

Umpamanya dalam rumah tangga. Islam memang memberikan dominasi kekuasaan yang absolut kepada suami. Sangat banyak ayat dan hadis yang secara tegas menyatakan suami itu pemimpin dan istri itu pengikut. Hanya, tak jarang suami mengambil keputusan yang salah, bahkan menyelewengkan fungsi kepemimpinannya. Umpamanya, hanya karena ingin menunjukkan dirinya pemimpin, ia sengaja mengambil keputusan yang berbeda dari usulan istri/anak, padahal usulan tersebut bagus dan rasional. Atau misalnya, suami marah, membentak, atau bahkan memukul/menampar istri/anak untuk menegaskan kepemimpinannya. Hal² ini semua sejatinya adalah penyelewengan fungsi kepemimpinan suami, yang jelas² tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw. Penyebabnya? Overconfident (kepedean).

Bagaimana mencegah overconfident (kepedean)? Belajarlah menerima masukan yang bagus dan rasional, walau ia datang dari orang yang tak kita sukai. Kemudian, belajarlah untuk tidak menegaskan posisi kepemimpinan lewat upaya represif (amarah dan kekerasan fisik). Justru, tegaskanlah posisi kepemimpinan itu dengan cara yang kreatif dan berkualitas; umpamanya dengan diskusi yang tidak menyudutkan, yang disampaikan dengan senyuman. Juga, belajarlah untuk menghadapi masalah dengan senyuman. Merenung + wajah serius dan ketat memang mampu menghasilkan solusi. Namun, merenung + wajah ceria dan santai pun akan mendatangkan solusi juga. Pilihlah yang lebih santai. Dan kita tidak akan mampu memilih yang nyantai bila kita overconfident.

Overconfident (kepedean), sebenarnya seringkali datang dari overthinking (hiperbola) alias prasangka. Suami-suami yang suka merasa posisi kepemimpinannya hendak dikudeta oleh istri dan oleh anaknya, akan cenderung menjadi pemimpin yang overconfident (kepedean). Pemimpin, presiden, perdana menteri, yang sering overthinking; berprasangka bahwa ia akan digulingkan, atau memiliki saingan/tandingan, akan sering terjerumus menjadi kepedean atau overconfident. Itu sebabnya, kadang kita fanatik, dan cemas bila bukan teman kita yang menjadi penguasa. Sering kita merasa akan terjadi kiamat jika penguasa itu bukan teman kita atau bukan orang yang kita sukai. Mari melihat secara jujur: Seringkali prasangka kita itu salah. Betapa sering presiden/walikota/menteri/wakil rakyat pilihan kita kalah dalam pemilihan, negara ini masih baik-baik saja?

Cara lain untuk selamat dari overconfident (kepedean) ialah membaca-mendengar sesuatu yang bertolak-belakang dengan prinsip hidup dan pemikiran kita. Walau terasa menyebalkan, bertahanlah. Teruslah dengarkan. Seringkali kita akan menemukan kebenaran di sana. Demikianlah Rasulullah saw itu; beliau adalah pemimpin multi-sosio-ekomomis. Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan muslim mengatakan: Sejatinya masyarakat Madinah itu terbagi 3 secara sosio-ekonomi: 1. Kaum Moderat yang pemukanya adalah Abu Bakar dan Umar, 2. Kaum Aristokrat (Kaya) yang pemukanya adalah Usman dan Mu'awiyah, 3. Kaum Grassroot (Arus Bawah) yang pemukanya adalah Ali dan Abu Dzar al Ghifari. Rasulullah saw itu pemimpin masyarakat yang multidimensional dan multikultural. Kalau kita terlalu elitist (suka orang kaya), kita tak ubahnya Usman, dan bahkan kalau kita terlalu grassroot (secara berlebihan suka orang miskin dan terjerumus anti-kemapanan/benci orang kaya), mohon ampun, kita akan menjadi bagai Ali, atau bahkan Abu Dzar. Pertanyaannya: Bukan kah Rasulullah saw itu rujukan? Dan jelas, beliau, tidak overconfident.

YM Ustadz
20/04/2022
06:47 WIB

Sunday, April 17, 2022

Samsung Galaxy M23 5G yang kemampuannya Gak Ada Matinya

Cek Samsung Galaxy M23 5G 6/128GB - Deep Green dengan harga Rp3.499.000. 

Dapatkan harga terbaik + cashback untuk Samsung Galaxy M23 5G yang kemampuannya #GakAdaMatinya. Beli sekarang!

Dapatkan di Shopee sekarang! 

Galaxy M23 5G hadir dengan RAM 6GB dan memori 128GB yang juga didukung dengan RAM Plus hingga 6GB, ditawarkan dengan harga retail Rp3.699.000. Untuk semua kegiatan yang nggak ada matinya, Samsung hadirkan Galaxy M23 5G yang dilengkapi dengan baterai 5.000mAh, prosesor Snapdragon 750G, dan layar 6,6 inci FHD+ dengan refresh rate 120Hz.

Galaxy M23 5G hadir dengan baterai besar 5.000mAh yang bisa tahan seharian, bahkan hingga 2 hari. Hal tersebut pun didukung dengan RAM 6GB, lengkap dengan RAM Plus hingga 6GB. Galaxy M23 5G dilengkapi triple camera di bagian belakang untuk hasil foto dan video yang detail dan jernih. Main camera 50MP menghasilkan foto dan video dengan resolusi tinggi.

Galaxy M23 5G juga sudah punya NFC, jadi kamu bisa melakukan transaksi cashless maupun pembayaran tanpa kartu ataupun isi kartu uang elektronik dengan lebih mudah, tanpa perlu repot ke ATM atau minimarket untuk mobilitas yang #GakAdaMatinya.

Friday, April 1, 2022

OBSESI

Obsesi Revolusi

Revolusi (revolution) adalah tindakan ekstrim yang mencetuskan perubahan radikal, contohnya melengserkan atau penggulingan pemerintahan/kerajaan resmi, demo anarkis, serta berbagai gerakan kemasyarakatan yang signifikan. Bila kita mempelajari revolusi; dia selalu menyisakan luka dan tak jarang pula, balas dendam. Bahkan, dari seluruh revolusi yang terjadi sepanjang sejarah, tidak semuanya sukses.

Para Nabi dan Rasul adalah tokoh revolusi; Misalnya Nabi Musa as memimpin exodus orang Israel keluar dari Mesir, Rasulullah saw memimpin exodus orang keluar dari Mekkah. Namun biasanya, para Nabi dan Rasul itu orangnya sangat lembut dan rendah hati, tidak seperti sosok lazim revolusioner yang suka mengkritik ataupun berbicara lantang. Bahkan menariknya, setelah sekitar 2-3 tahun Alquran diturunkanlah; Alquran baru mula mencela berhala sembahan orang kafir, tampak bahwa Alquran itu berupaya hadir mengubah ke tengah masyarakat secara perlahan. 

Apatah lagi kepribadian Nabi saw yang memang cinta damai, sebenarnya mulanya beliau sangat enggan mencela terang²an praktek penyembahan berhala walaupun beliau tak pernah menyukainya. Apalagi memimpin banyak orang keluar Mekkah, kita boleh menduga bahwa Nabi saw tak pernah mengkhayalkan akan melakukannya. Ringkasnya, beliau sebenarnya enggan melakukan revolusi dan perubahan radikal, sekali lagi karena biasanya revolusi menyisakan luka.

Perubahan yang mengakar itu biasanya bersifat evolusioner dan perlahan, makanya ada kaidah slow is fast dan fast is slow dalam pembangunan budaya/karakter; yakni perubahan yang tampaknya lambat dan perlahan di masyarakat itu sejatinya adalah perubahan yang mengakar; misalnya upaya membina masyarakat dengan CFM, diskusi, seminar, memang tampak lambat, tapi ia berkesan. Sebaliknya, perubahan yang tampak cepat; revolusi, gerakan radikal, pelengseran incumbent (petahana) dan kritik pedas, selalu tampak cepat dan menarik, tapi sejatinya ia lambat.

Kalau tak percaya, silahkan lihat bagaimana nasib negara² yang perubahannya diraih dengan demo anarkis, gerakan masyarakat ataupun pelengseran pemerintah resmi. Betapa banyak di antaranya yang sampai hari ini masih berjuang untuk menegakkan negaranya sendiri? Atau lihatlah bagaimana wilayah ataupun negara yang memisahkan diri, tampaknya tidak semuanya memperoleh hasil yang memuaskan (kemakmuran)?

Revolusi bukan tak diperlukan, ia diperlukan, namun sesekali. Lihat saja Nabi saw; bukan setahun sekali, namun amat jarang beliau lakukan revolusi. Beliau hanya berhijrah sekali, dari total usia beliau 63 tahun, kalau tak salah hanya sekitar 200an hari beliau berperang, dan beliau pun benci perang! Melakukan hijrah pun sebenarnya beliau enggan, makanya beliau keluar dari Mekkah itu menangis, bukan dengan bangga dan dendam! Jadi, revolusi yang efektif tampaknya hanyalah jika itu pilihan terakhir, dan dipimpin oleh orang yang tak suka keributan. Umpamanya, Nabi saw kalau tak keluar Mekkah, pastilah beliau terbunuh dan penyebaran Islam terhenti, dan itu pun dipimpin oleh beliau yang amat rendah hati, lembut, dan pemalu!

Bagaimana dengan kita? Suka kah kita revolusi? Suka kah kita akan exodus? Suka kah kita menasehati orang untuk melakukan revolusi? Kalau suka, periksa hati kita; jangan² kita sombong. Dan sesuaikan karakter kita dengan tokoh² sukses revolusi, umpamanya Nabi saw yang amat pemalu, lembut, rendah hati tapi setia pada kebenaran di saat yang bersamaan. Apakah kita juga pemalu, lembut, rendah hati dan setia kebenaran pada saat yang bersamaan? Kalau karakter kita justru amat berbeda dari Nabi saw sang revolusioner tersukses, patut dicurigai kita adalah orang gagal, dan sebenarnya sombong atau memiliki dendam. Na'udzubillah.

Mari menyederhanakan tulisan panjang ini dengan kalimat pendek: *Tolong, jangan prasangka, jangan suka bergunjing, jangan suka mengkritik. Tolong, jadilah orang solutif, jadilah rendah hati, jadilah lemah lembut, tapi setia pada kebenaran di saat yang bersamaan. Tolong.*

YM Ustaz
1/4/2022
06:38 WIB


Obsesi Spiritual

Orang Islam, apatah lagi orang tasawuf, pengamal tarekat, tak jarang sangat-sangat terobsesi memperoleh pengalaman spiritual sebagaimana para Nabi, Rasul dan Wali. Misalnya, mendapat mimpi luarbiasa, melihat pohon tunduk pada malam lailatul qadar, atau merasakan suatu pencerahan luarbiasa dalam aktivitas salat maupun zikirnya. Kalau terlalu ingin, bahkan setiap saat hal di atas membayangi kita; periksa hati kita, jangan² kita sudah dikuasai kesombongan! Ingin atau memiliki angan ringan terhadap pengalaman spiritual itu hal wajar; ia adalah konsekuensi iman. Tapi sangat terobsesi mendapat pengalaman spiritual, boleh saya pastikan ia adalah sebuah kesombongan!


Memangnya kenapa? Kalau kita menampak pohon tunduk dalam lailatul qadar? Kalau kita mendapat pencerahan luarbiasa dalam zikir? Kalau kita tak sadar ternyata sudah berjam-jam kita zikir? Kalau kita mendapat ilham? Kalau kita bahkan mendapat ilmu ladunni? Memangnya kenapa? So what? Apa yang istimewa di situ? Setelah mendapat itu semua kita tetap saja hambaNya yang terikat kewajiban salat 5 waktu. Mimpi berjumpa Nabi saw tak menggugurkan kewajiban zakat. Nampak pohon sujud tak menggugurkan kewajiban kita untuk memuliakan tamu. Pengalaman spiritual tak menjamin kita terbebas dari neraka. 

Oleh karenanya, jangan terobsesi pada pengalaman spiritual, tapi terobsesilah pada ridha Allah Swt. Dan ridha Allah Swt sangat mungkin, bahkan seringkali tak berhubungan dengan pengalaman spiritual. Betapa seringnya, orang yang tampaknya biasa saja, ternyata ia amat diridhai Allah Swt. Sebaliknya, betapa sering orang yang tampaknya sangat spiritual, sangat sering mimpi aneh, tapi nyatanya tak diridhai Allah Swt, sangat mungkin dan sangat sering juga terjadi. Itu sebabnya Nabi saw itu tampaknya bukan orang yang terobsesi pada pengalaman spiritual; terbukti saat menerima wahyu pertama, beliau tak bangga bercerita pada Khadijah, tapi justru bercerita dengan penuh heran bahkan takut!

Orang yang terobsesi dengan ridha Allah Swt, boleh diduga, lebih tertarik untuk mengamalkan perintahNya dan menjauhi laranganNya saja. Ketertarikannya hanya menjalankan ibadah, dan setelah diamalkannya ibadah itu ia pun puas tanpa ada ekspektasi atau pengharapan petunjuk atau wangsit khusus! Paradigma ini diwakili oleh doa Ilahi anta maqsudi waridhaka mathlubi (Tuhanku, hanya Engkau maksudku, hanya ridhaMu tuntutanku). Kalau kita terobsesi pada petunjuk, pada wangsit, pada mimpi, pada lailatul qadar, kita ini ingin Allah atau ingin keramat? Kita ini ingin ridhaNya atau diam² ingin pujian makhlukNya? Renungkanlah! Tolong!

Demikianlah halusnya ikhlas dalam menghadapi ibadah, yang memang sifatnya spiritual itu. Makanya, Nabi saw telah mencontohkan; alih-alih beliau terobsesi pada spiritual, beliau lebih terobsesi pada perbaikan umat. Beliau tak pernah menginginkan terjadinya Isra Miraj yang merupakan pengalaman spiritual terdahsyat sepanjang sejarah kemanusiaan. Justru, beliau hanya menginginkan jiran-tetangganya tidak kelaparan, beliau hanya menginginkan orang berhenti menghardik yatim dan peminta-minta, beliau hanya ingin semua orang diperlakukan sama bukan karena suku atau kekayaannya. Beliau hanya ingin semua orang dikasihi.

Makanya, daripada berpikir kapan aku melihat pohon sujud pada lailatul qadar, lebih baik berpikir siapa orang yang perlu aku mintai maaf? Daripada berpikir kapan aku mendapat ilmu ladunni, lebih baik berpikir kepada siapa aku harus keluarkan sedekahku? Daripada berpikir kapan aku melihat sidratul muntaha, lebih baik berpikir kepada siapa harus aku ucapkan terima kasih hari ini? Daripada terobsesi terhadap pengalaman spiritual, terobsesilah pada kemanusiaan dan perbaikan manusia! Dengan cara itu, Islam, bahkan Tasawuf dan Tarekat akan lebih harum dan berkembang! Bukan kah Nabi saw telah mencontohkannya?

YM Ustaz
1/4/2022
06:56 WIB

Obsesi Klarifikasi

Kita sesekali memang perlu klarifikasi, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan publik. Jika kita dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita kerjakan; umpamanya mencuri, wajar kita untuk klarifikasi, menjelaskan, bahwa kita tidak melakukannya. Demikian pula bila ada teman kita dituduh melakukan sesuatu yang tak ia lakukan, wajar bila kita lakukan klarifikasi atas namanya untuk menolongnya. Namun, fungsi klarifikasi sebenarnya cukup untuk menyelamatkan nyawa, dan untuk menghindari chaos (kekacauan, huru-hara).

Sampai dengan hari ini, telah begitu banyak kita saksikan manusia yang terobsesi pada klarifikasi! Sangat ingin ia menjelaskan bahwa dirinya pahlawan bukan penjahat! Sangat ingin ia jelaskan anaknya atau orangtuanya suci bukan keji! Sangat ingin ia jelaskan partai politiknya atau golongannya yang terbaik! Dan tak jarang, sangat sering pula kita ingin mengklarifikasi orang yang telah meninggal ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, demi memenangkan pertengkaran dengan orang yang tak kita setujui! Perbedaan pendapat sering menjadi pemicu pertengkaran. Namun sebenarnya, tanpa perbedaan pun kita sering bertengkar.

Memangnya kenapa? Kalau kita dianggap jahat? Kalau kita dituduh melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan? Kalau nenek moyang kita dituduh sebagai penjahat? Memangnya kenapa? Apakah tuduhan manusia akan membuat kita sengsara dunia-akhirat? Perlu kita ingat selalu, yang menyengsarakan-menyelamatkan itu adalah tuduhan Allah. Oleh karenanya, jika kita terobsesi pada klarifikasi, sebenarnya kita tak ubahnya orang yang terobsesi akan revolusi atau terobsesi pada pengalaman spiritual; kita sama saja dengan mereka, sombong. Ketika kita mengemis pembersihan nama baik pada masyarakat, kita sedang mengemis pada manusia, bukan pada Tuhan. 

Pengemis klarifikasi tak ubahnya burung unta yang telah berkali-kali saya kisahkan; merupakan santapan empuk para predator. Burung unta memiliki mindset; bila sesuatu tak nampak maka ia tak wujud. Maka tak jarang jika ia nampak harimau, ia bukan berlari, tapi sembunyikan kepalanya ke semak-belukar, kenapa? Yang tak nampak berarti tak wujud. Akhirnya? Burung unta menjadi santapan lezat akhir pekan (weekend) sang harimau. Apa bedanya dengan kita yang sangat ingin mendengarkan orang mengatakan kebaikan kita? Sangat mungkin di depan wajah kita orang bermanis-mulut memuji kita dan keluarga kita, tapi di belakangnya ia cabik-cabik kita. Makanya, sampai batas mana perlu klarifikas itu?

Oleh karenanya, cukuplah klarifikasi itu untuk menyelamatkan nyawa dan atau untuk menghindarkan huru-hara. Bila lebih dari itu, periksa kesombongan kita.

YM Ustaz
1/4/2022
07:19 WIB

Thursday, March 24, 2022

3 Tahapan Beragama

*3 Tahapan Beragama*

Menarik bila melihat Imam al Ghazali (mohon maaf jika ada periway
Taran saya yang kurang tepat): Kira², beliau adalah seorang pakar Fiqih, yang menjadi ketua dewan sebuah masjid, dan menjadi sekaligus pengajar di sebuah universitas. Pada suatu waktu, beliau selama 2 tahun mengalami depresi klinis (clinical depression) karena tidak mampu menjawab sebuah pertanyaan teologis (keimanan); beliau sulit tidur, sulit makan, dan seterusnya. Akhirnya, beliau sembuh setelah merasa mengalami fenomena ketuhanan lewat tasawuf yang dipelajarinya pada penghujung masa depresi beliau. Beliau telah menjadi seorang sufi, meninggalkan posisi ketua dewan masjid, menjadi seorang "santri" atau "anshor" kalau dalam istilah kita. Dan menariknya, di penghujung ketercerahan dan kesembuhannya, beliau kembali mengajar ke universitas, kembali berkarya!

Betapa banyak orang beragama Islam hari ini, yang memiliki kemiripan demikian. Pada tahapan pertama, ia mendalami Islam pada aspek fiqih-nya saja; ia sibuk bertahajjud, salat di masjid, puasa sunnah, berhaji dan berumrah, dan seterusnya, hingga satu titik merasakan kehausan akan suasana spiritual yang lebih mendalam; ia memasuki tahapan kedua; menjadi pengamal tasawuf. Tasawuf itu sendiri sebenarnya adalah pelaksanaan syariat dan menghayati hakikat dari syariat tersebut. Biasanya, ketika mendalami tasawuf, banyak orang mengisahkan mereka mendapati "pengalaman ketuhanan" atau boleh dibilang, "banjir spiritualisme" (spirituality flood) yang menghantarkannya pada gabungan rasa kebahagiaan, ketenangan, ketakziman khas pada Tuhan, pendalaman pemahaman keagamaan yang lebih; intinya syukur yang tak terlukiskan. Namun, dalam keasyikannya bertasawuf, ia teringat akan makhlukNya yang lain! Ia pun terdorong sedemikian rupa untuk "mengorbankan" keasyikan zikirnya, "mengganti" sebagian keasyikan munajatnya di atas sajadah, dengan upaya mengasihi sesama; orang ini masuk pada tahapan ketiga, yaitu menjadi sufi yang bermanfaat. Sebenarnya keutamaan mengasihi sesama itu pun jelas, dalam hadis diterangkan bahwa berjalan untuk sebuah keperluan orang lain lebih bagus dari i'tikaf sebulan lamanya di Nasjid Nabawi. Demikianlah tahapan ketiga, atau tahapan terakhir, yang dikatakan oleh Syekh Hisyam Kabbani kira² sebagai berikut: "Sufi sejati... fisiknya bersama manusia (dengan bekerja, menyantuni dan mengasihi sesama) tetapi hatinya bersama Tuhan."

Dalam realita lain, tak jarang 3 tahapan agama ini justru lebih terlihat sebagai 3 genre (aliran) agama. Genre pertama adalah genre-nya para peminat fiqih; dipenuhi dengan peribadatan dan pengkajian fiqihnya. Genre kedua adalah genre-nya para peminat tasawuf yang asyik berada di masjid saja; memenuhi hari² mereka dengan ibadah, kadang melalui kajian² hakikat tentang alam ketuhanan, yang tak jarang, kadang² meninggalkan pekerjaan dan keluarganya. Genre ketiga adalah genre-nya para aktivis kemanusiaan; penuh dengan aktivitas memberi makan, menolong orang, mengupayakan kemajuan umat, namun biasanya terasa kurang kental dalam spiritualisme-nya. Kira² Nabi saw yang mana? Jelas beliau adalah ketiga-tiganya. Namun yang amat tampak dominan dari beliau, memang adalah obsesi beliau mengasihi sesama. Beliau memiliki kecenderungan mistik, beliau sufi sejati, tapi beliau bukan orang yang tergila-gila pada mistik (mysticism). Dikisahkan bahwa sejak sebelum menjadi seorang Nabi dan Rasul pun, beliau sudah membenci aktivitas para _kahin_ (dukun/bomoh/peramal). Hari ini, tak jarang kita lihat peminat mistik, memang berangkat dari orang yang sejak dulu meminati ramalan, dan ilmu-ilmu gaib. Rasulullah saw bukan sosok yang demikian.

Akhirnya, menjadi seorang muslim, adalah menjadi seperti Rasulullah saw. Beliau teguh dalam fiqih-nya, menjauhkan yang hak dari yang batil, menghindari yang syubhat (grey area). Dalam kesufiannya beliau adalah seorang yang paling bertakwa; terhebat takzimnya pada Allah ta'ala, tak terimbangi ibadahnya. Namun dalam hal kemanusiaannya, sangat menonjol sejak sebelum kenabiannya, sejak masih berusia muda sebagaimana yang diungkapkan Khadijah saat berusaha menenangkan beliau tatkala menerima wahyu pertama: Nabi saw... seorang yang suka memberi makan pada orang lain, menyambung silaturrahim, jujur, banyak tersenyum, dan segala akhlak mulia lainnya! Pendeknya, kalau ingin menjadi sufi: Tirulah pangkal, nenek guru, dan asal semua sufi; Rasulullah saw! Beliau adalah sufi sejati yang paling tepat implementasi kesufiannya. Kalau ingin diringkas, menjadi sufi yang bermanfaat itu sederhana saja... Jalankan Islam secara kaffah! Dan dari jauh-jauh hari, YM. Abu telah mengumandangkan tentang hal ini

YM Ustadz
23/03/2022
23:24 Wib

Pengumpatan

*Pengumpatan*

Pengumpatan, atau pergunjingan, diistilahkan dalam QS. 49: 12 sebagai "memakan bangkai saudaramu." Namun, tetap saja orang banyak mengumpat, asyik dalam kunyahan demi kunyahan daging manusia yang mereka gosipkan. Mungkin mudah untuk menghindari mengumpat orang yang tidak kita benci, tapi biasanya manusia cenderung larut dalam mengumpat orang yang dibencinya; yang telah merugikannya! Sebut saja misalnya mantan boss kita yang sangat pemarah, yang ketahuan korupsi (rasuah) pula. Bertahun, bahkan kadang sudah belasan tahun berlalu, membicarakan mantan boss yang jahat itu tetap terasa sangat lezat! Akhirnya, tak jarang kita meninggalkan produktivitas kita, meninggalkan karya nyata, untuk sekedar menyantap daging mantan boss kita dalam meja pergunjingan yang lezat itu.

Dalam hadis telah disebutkan secara tegas bahwa di antara tanda kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan segala sesuatu yang tak bermanfaat baginya! Agaknya, membicarakan orang lain hanya dibolehkan untuk mengambil keputusan, atau menjadi pengingat agar kita tak terjerumus pada kesalahan yang sama. Namun seringkali, karena kebencian yang luarbiasa, kita masih menjadi penyantap daging orang yang kita benci. Mungkin dulu kita berada di suasana menegangkan yang menyebabkan kita perlu cepat mengambil keputusan untuk menjauhi seseorang, namun di masa kini yang kita sudah tak memiliki kaitan dengannya, kita masih terlalu terlalu terlalu asyik mengumpat-gunjing karena dengki yang luarbiasa! Tidak kah kita sadar, jika melakukan yang demikian, Tuhan pun tetap akan menghukum kita, dengan hukuman yang berat pula! Yaitu hukuman para pegunjing! Silahkan lihat di internet tentang hukuman bagi para pengumpat-pegunjing.

Akhirnya, menjadi manusia muslim itu sangat membahagiakan. Mengumpat tak boleh, bergunjing tak diizinkan, kalau begitu; opsi yang tersedia hanyalah bersukacita dalam bingkai ketuhanan! Seharusnya, komunitas yang tidak ada pergunjingan akan mencetak semakin banyak orang bahagia, orang berilmu, dan ahli ibadah, karena tidak diizinkan adanya majelis pergunjingan, maka yang ada hanya majelis kebahagiaan, majelelis keilmuan, dan majelis ketuhanan. Maka, periksalah komunitas kita, apakah masih tinggi pergunjingan di sana? Walau menggunjingkan orang jahat? Kalau masih, kenanglah perkataan YM. Abu bahwa *tak akan turun rahmat pada kaum yang suka bergunjing, meskipun itu ialah kaum majelis zikir.* Hentikan kebencian, mulai kebahagiaan, mulai mencari ilmu, mulai mendekatkan diri pada Tuhan, mulai mengasihi sesama. Hentikan pergunjingan dan pengumpatan!

YM Ustadz 
23/03/2022
23:37 Wib

Penimbunan Harta

*Penimbunan Harta*

Nabi Muhammad saw, telah melakukan lebih dahulu kebanyakan dari yang diwahyukan kepada beliau, bahkan sejak beliau masih muda! Beliau seorang yatim, mengalami derita hidup sebagai yatim, sehingga timbul kebencian beliau pada para penghardik yatim, kemudian Tuhan begitu banyaknya mewahyukan larangan menghardik yatim. Demikian juga, dari dulu beliau seorang yang suka menyambung silaturrahmi dan mendamaikan orang yang bermusuhan, kemudian turun banyak wahyu tentang anjuran silaturrahim. Beliau itu memang sedemikian mulianya, sehingga Aisyah mengisahkan bahwa Rasulullah saw itu akhlaknya adalah Alquran itu sendiri!

Salah satu ciri khas Rasulullah saw sejak muda adalah kebencian pada menimbun harta, kendatipun beliau orang yang sangat kaya sejak mudanya. Menurut sebagian riwayat, mahar beliau kepada Khadijah adalah sekitar 400 ekor unta, yang jika dinilai sekarang, mungkin lebih mahal daripada 4 buah mobil Alphard. Beliau menikahi Khadijah, yang bahkan lebih kaya daripada diri beliau sendiri. Namun, beliau sangat membenci menimbun harta dan makanan, sampai dikisahkan beliau menyimpan makanan hanya 3 hari, kalau tidak beliau makan, maka akan beliau bagi-bagikan. 

Itu sebabnya salah satu gelar Rasulullah saw adalah Abu al-Masakin (Ayahnya orang² miskin), sering dikisahkan beliau itu bila datang ke masjid, memang memilih untuk duduk bersama anak² miskin; memeluk mereka, bahkan tertawa bersama mereka, sampai² Ibnu Umar yang termasuk orang kaya pada zamannya (anaknya Umar bin Khattab), merasa iri, "andai aku jadi anak miskin! Pasti aku sering bersama Nabi saw!" Kira² begitu kata beliau.

Kepemimpinan Nabi saw sangat khas dan identik dengan pembelaan beliau pada _wong cilik_ (orang² kurang beruntung), beliau membela moral orang² miskin sehingga, bukan hanya mereka merasa seimbang dengan orang kaya, bahkan beliau membela orang miskin dan lemah sampai² para penguasa dan kaya itu iri! Dan yang kedua, beliau sangat suka mendistribusikan kekayaan beliau karena kebencian beliau menimbun kekayaan, sehingga daerah yang dipimpin beliau, cenderung makmur karena amat memperhatikan hak orang miskin. 

Ini sangat bertolak belakang dengan sebagian penguasa hari ini. Bahkan sebuah survey menunjukkan, dimana ada kumpulan kemiskinan luarbiasa, biasanya ada penguasa penimbun kekayaan di sana. Kita melihat hari ini, ada sebagian penguasa yang memiliki singgasana dan pakaian berlapis emas, padahal hanya jarak beberapa meter dari istana kebesarannya, ada orang kelaparan. Atau umpamanya, garasi sebagian penguasa yang dipenuhi dengan mobil sport dan motor besar semacam harley davidson berderet di garasinya, padahal jarak beberapa meter dari rumahnya ada orang yang kesulitan mencari penghidupan. Mari bertanya: Kira² apa perasaan Nabi saw sekiranya melihat hal² ini? Jelas dalam sabda beliau yang bunyinya kira² tidak beriman diri kita! Jika kita tidur dalam keadaan kenyang sementara kita mengetahui persis, ada tetangga kita, atau orang yang dekat dengan kita, tidur dalam keadaan kelaparan!

Sudah lah, jangan menyalahkan penguasa, jangan menyalahkan orang kaya, tapi introspeksi lah diri sendiri! Jangan sibuk mengumpat dan mengkaji kejelekan orang lain, lihat kejelekan kita! Apakah kita ini penimbun makanan? Apakah kita ini penimbun pakaian? Apakah kita ini penimbun uang? Apakah kita ini penimbun perhiasan? Sudah berapa banyak orang kurang beruntung yang menjadi beruntung karena tangan kita? Karena kita sedekahkan hak kita? Karena kita ajari mereka? Ini harus menjadi renungan kita, bahkan bila kita adalah orang miskin sekalipun! Bila kita miskin, perhatikanlah nasib saudara lain yang miskin! Apalagi bila kita kaya, semakin jelas wajibnya.

Akhirnya, untuk mengelakkan penimbunan harta, kita perlu memeriksa kembali apa persepsi kita, paradigma kita terhadap uang dan kekayaan? Akan sangat sulit untuk melepasnya, jika paradigma kita tentang kekayaan adalah "penyelamat" dan "kebanggaan." Alquran dalam Surat Al Humazah (QS.104) secara terang mengutuk orang yang menimbun harta dengan mindset harta ialah penyelamat. Renungkanlah: Kalau Tuhan menghendaki, mudah saja bagiNya melenyapkan simpanan emas kita, menghanguskan uang² kita di bank, meniadakan surat² obligasi dan deposito kita, ataupun membakar investasi² kita. Tuhan, jelas adalah satu²nya Penyelamat. Sedangkan kebanggaan; bukan kah kebanggaan sejati itu ialah mendapat ampunanNya? Kalau demikian, apakah harta dan kekayaan itu? Titipan dan amanah untuk mengagungkanNya, dan untuk mengasihi seluruh alam.

YM Ustadz
23/03/2022
23:01 Wib