Wednesday, June 10, 2026

Album Masih Berjalan

✨ OFFICIAL RELEASE ON SPOTIFY ✨

๐ŸŽง Dengarkan sekarang dan rasakan setiap liriknya
๐Ÿ‘‰Spotify

๐Ÿ’š Jangan lupa follow artist-nya
๐Ÿ“Œ Save lagunya ke playlist favoritmu

Karena satu pendengar baru bisa menjadi semangat besar untuk terus berkarya dan melangkah lebih jauh dalam perjalanan musik ini. ๐ŸŽถ✨

#Spotify #NewRelease #MusicIndonesia #LaguBaru #IndieMusic #OfficialRelease #MusikIndonesia #SpotifyIndonesia #NowPlaying #MusikViral

Saturday, February 7, 2026

BOLEHKAH BELAJAR TANPA GURU...?



Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Apakah bisa belajar tanpa berguru...?
saya akan jawab, dan tidak bermaksud ingin menghakimi, tapi ingin menyentuh kesadaran, juga bukan mematahkan semangat para pencari , melainkan hanya ingin meluruskan arah agar selamat.

Saya akan Menyusunnya agar orang yang belajar tanpa guru merasa diajak, bukan disudutkan.

Di zaman keterbukaan informasi ini, jalan menuju pengetahuan spiritual terasa semakin mudah. Ceramah agama dapat diakses kapan saja, kitab-kitab tersedia di genggaman, dan praktik-praktik batin dapat dipelajari secara mandiri. Sehingga Banyak orang lalu menempuh perjalanan ruhani tanpa berguru secara langsung, dengan keyakinan bahwa kebenaran sejati berada di dalam diri.

Memang pandangan ini tidak sepenuhnya keliru. Islam sendiri juga mengakui bahwa manusia ada dianugerahi fitrah dan nurani. 

Allah berfirman:
ูَุฃَู„ْู‡َู…َู‡َุง ูُุฌُูˆุฑَู‡َุง ูˆَุชَู‚ْูˆَุงู‡َุง
Artinya:
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.”
(QS. Asy-Syams ayat : 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi untuk mengenali kebenaran. 
Namun, potensi bukan berarti jaminan keselamatan. Fitrah tetap membutuhkan penjagaan, arahan, dan pemurnian.

Memang Guru Bukan Pengganti Tuhan, Tapi jadi Penunjuk Jalan. Dalam tradisi Islam, guru tidak pernah ditempatkan sebagai sumber kebenaran mutlak. Guru hanyalah sebagai wasilah, penunjuk arah agar seorang murid tidak tersesat oleh dirinya sendiri.

Allah sudah memperingatkan tentang hal ini 
Allah berfirman:
ูَุงุณْุฃَู„ُูˆุง ุฃَู‡ْู„َ ุงู„ุฐِّูƒْุฑِ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ู„َุง ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ
Artinya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl ayat : 43)

Ayat ini sangat jelas dan tegas:
Bahwa ketidaktahuan tidak bisa disembuhkan dengan perasaan yakin saja , tetapi juga dengan harus bertanya kepada ahlinya.

Bahaya yang Halus adalah : Ketika Ego Menjadi Pembimbing.
Masalah utama belajar tanpa guru bukan pada ilmunya, tetapi pada siapa yang akan mengoreksi dirinya nanti. 
Tanpa bimbingan seorang guru , seseorang bisa tanpa sadar hanya mengikuti ajaran yang terasa nyaman, sesuai selera dirinya , dan menguatkan citra dirinya sebagai “orang yang sudah sampai”.

Rasulullah ๏ทบ mengingatkan:
ุฃَุฎْูˆَูُ ู…َุง ุฃَุฎَุงูُ ุนَู„َู‰ ุฃُู…َّุชِูŠ ุงู„ุดِّุฑْูƒُ ุงู„ْุฎَูِูŠُّ
Artinya:
“Yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah syirik yang tersembunyi.”
(HR. Ahmad)

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu bentuk syirik khafi adalah menjadikan hawa nafsu dan ego sebagai penentu kebenaran, juga termasuk dalam urusan spiritual.

Allah berfirman:
ุฃَูَุฑَุฃَูŠْุชَ ู…َู†ِ ุงุชَّุฎَุฐَ ุฅِู„ٰู‡َู‡ُ ู‡َูˆَุงู‡ُ
Artinya:
“Maka apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya....?”
(QS. Al-Jatsiyah ayat : 23)

Tanpa guru, seseorang sangat mungkin merasa sedang mendekat kepada Allah, bahkan merasa sudah sampai, padahal yang sedang dipelihara adalah rasa istimewa dalam dirinya.

Hikmah Ulama: 
Bukan mau Merendahkan, Tapi ingin Menjaga
Para ulama tasawuf menyampaikan peringatan, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menjaga keselamatan jalan:
ู…َู†ْ ู„َุง ุดَูŠْุฎَ ู„َู‡ُ ูَุดَูŠْุฎُู‡ُ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ُ
Artinya 
“Barang siapa tidak memiliki guru, maka setanlah yang akan menjadi gurunya.”

Maksudnya bukan bahwa semua yang belajar mandiri pasti tersesat, tetapi jalan spritual ini sangat rawan dan berbahaya jika ditempuh tanpa pengawasan dari ahli nya..

Imam Al-Ghazali ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata:
“Penyakit hati lebih sulit dikenali daripada penyakit badan, dan seseorang jarang mampu melihat cacat dirinya sendiri.”

๐Ÿ‘Jalan Tengah

✅Spiritualitas sejati bukan soal ada atau tidaknya guru, tetapi tentang kerendahan hati untuk mau dibimbing.
✅Bukan tentang ketergantungan pada manusia, melainkan kesadaran bahwa diri ini mudah tertipu oleh dirinya sendiri.

Guru sejati memang bisa Allah hadirkan dari berbagai arah, namun sering kali Allah menyelamatkan hamba-Nya melalui lisan dan teladan seorang guru pembimbing.

Sebagaimana do'a yang diajarkan Al-Qur’an:

ุฑَุจَّู†َุง ู„َุง ุชُุฒِุบْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ุจَุนْุฏَ ุฅِุฐْ ู‡َุฏَูŠْุชَู†َุง
Artinya:
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran ayat : 8)

Do'a ini adalah mengajarkan kita tentang arti sebuah pengakuan , bahwa hidayah dari Allah juga perlu dijaga, bukan hanya sekedar ditemukan.

๐Ÿ’ŽPenutup Nasihat 

Belajar sendiri memang bukanlah dosa,
tetapi merasa cukup dengan diri sendiri adalah awal dari bahaya.

Semakin tinggi jalan spiritual seseorang,
Maka ia semakin membutuhkan cermin yang jujur,
bukan untuk mematahkan langkahnya,
tetapi agar ia benar-benar sampai dengan selamat.

 sebagai renungan untuk menyadarkan tanpa ada niat untuk menghakimi, namun agar bisa diterima oleh mereka yang sedang belajar spiritual tanpa guru.

Islam tidak menutup pintu bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah, namun Islam juga tidak membiarkan seorang hamba berjalan sendirian tanpa penunjuk arah.
Jalan terbaik bukan menolak guru, dan bukan pula menuhankan guru, melainkan menjaga adab dalam mencari bimbingan.

Berikut beberapa saran langkah jalan tengah yang bisa diamalkan:

✅1️⃣ Mulailah dengan Guru yang Paling Aman: Ilmu Dasar dan Syariat
Sebelum berbicara tentang rasa, energi, atau pengalaman batin, pastikan dulu fondasi akidah dan syariat sudah benar.

Ilmu dasar adalah pagar untuk keselamatan.
Karena Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ุทَู„َุจُ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ูَุฑِูŠุถَุฉٌ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ู…ُุณْู„ِู…ٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

Ilmu yang dimaksud para ulama adalah ilmu yang menjaga iman dan amal, bukan sekadar pengalaman batin yang subjektif.

✅2️⃣ Jika Belum Punya Guru, Jangan Jadikan Diri Sendiri sebagai Hakim.
Belajar mandiri boleh boleh saja , tetapi mengklaim diri sudah benar adalah bahaya.
๐Ÿ‘‰Sikap yang paling aman adalah harus selalu merasa masih perlu dikoreksi.

Allah berfirman:
ูˆَู„َุง ุชُุฒَูƒُّูˆุง ุฃَู†ْูُุณَูƒُู…ْ ۖ ู‡ُูˆَ ุฃَุนْู„َู…ُ ุจِู…َู†ِ ุงุชَّู‚َู‰
“Janganlah kamu merasa diri kamu suci. Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm ayat : 32)

Jika belum memiliki guru yang tetap, maka:
Coba bandingkan ilmu yang sudah di dapatkan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Lihat penjelasan para ulama muktabar
Jangan berani menyimpulkan sendiri, apalagi dalam perkara yang besar.

✅3️⃣ Jadikan Ulama Sebagai Rujukan, Walau Belum Bertemu Langsung.

Tidak semua orang langsung bertemu guru ruhani. Namun berguru tidak selalu harus bertatap muka pada tahap awal.
✅Membaca kitab ulama yang lurus akidahnya, ✅mendengarkan nasihat mereka,
✅dan mengikuti manhaj mereka adalah bentuk adab berguru.

Allah berfirman:
ูَุงุณْุฃَู„ُูˆุง ุฃَู‡ْู„َ ุงู„ุฐِّูƒْุฑِ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ู„َุง ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ
Artinya:
“Bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl ayat : 43)

Ayat ini tidak berkata: cukup dengan perasaanmu, tetapi kembalilah kepada ahlinya.

✅4️⃣ Ukur Keberhasilan Spiritual dari sempurnanya Akhlak, Bukan dari Pengalaman bathin.
Pengalaman batin bisa saja menipu. Tapi Akhlak jarang berbohong.

Tanda sudah di jalan spiritual yang benar:
✅Semakin rendah hati
✅Semakin mudah menerima nasihat
✅Semakin lembut terhadap sesama
✅Semakin takut salah, bukan semakin merasa sampai.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ุฅِู†َّู…َุง ุจُุนِุซْุชُ ู„ِุฃُุชَู…ِّู…َ ู…َูƒَุงุฑِู…َ ุงู„ْุฃَุฎْู„َุงู‚ِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
(HR. Ahmad)

Jadi jika “spiritualitas” membuat :
seseorang keras, merasa paling paham, dan meremehkan orang lain, maka itu bukan cahaya, tapi asap ego.

✅5️⃣ Berdoalah Agar Allah Mempertemukan dengan Pembimbing yang Benar.
Memang hidayah itu adalah hak Allah, Namun Guru pun bagian dari hidayah.

Sering seringlah berdoa seperti ini :
ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุฑِู†َุง ุงู„ْุญَู‚َّ ุญَู‚ًّุง ูˆَุงุฑْุฒُู‚ْู†َุง ุงุชِّุจَุงุนَู‡ُ
“Ya Allah, tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya.”

Dan juga do'a yang diajarkan dalam Al-Qur’an:
ุฑَุจَّู†َุง ู„َุง ุชُุฒِุบْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ุจَุนْุฏَ ุฅِุฐْ ู‡َุฏَูŠْุชَู†َุง
Artinya:
“Wahai Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran ayat : 8)

Belajar tanpa guru memang bukanlah suatu kesombongan, tetapi merasa tidak membutuhkan bimbingan adalah kesombongan yang halus.

Orang yang benar-benar tulus mencari Allah
✅Tidak akan menolak nasihat,
✅Tidak alergi pada arahan,
✅Tdak malu untuk berkata:
(“Saya masih perlu dibimbing.”)
Di situlah awal keselamatan.

Semoga bermanfaat...!

Tuesday, September 9, 2025

Bahasa Inggris dan Keterbukaan Pikiran

*Bahasa Inggris dan Keterbukaan Pikiran*

Sekitar tahun 2010an Bappenas pernah menyelenggarakan diskusi terbatas membahas mengapa kebanyakan SDM Indonesia memiliki mutu yang rendah. Ada beberapa faktor, namun salah satu faktornya adalah rendahnya kemampuan berbahasa Inggris rakyat Indonesia. Kalau kita membandingkan diri dengan tetangga terdekat, Singapura memiliki kemampuan bahasa Inggris terbaik ke-5 di dunia, Malaysia di peringkat 30 dan Indonesia ada di peringkat ke 83. Sejak Singapura memisahkan diri dari Malaysia tahun 1965, mereka langsung memutuskan bahasa Inggris menjadi bahasa utama menggantikan bahasa Melayu.

Lalu, apa hubungannya keterbukaan pikiran dengan kefasihan berbahasa Inggris? Bahasa Inggris saat ini adalah bahasa internasional sehingga berbagai informasi dan ilmu, ada lebih banyak dalam bahasa Inggris. Mau itu ilmu akuntansi, ekonomi, filsafat, bahkan terkadang ilmu agama, pun lebih banyak tersedia dalam informasi bahasa Inggris. 

Jika kita banker dan ingin mengetahui perkembangan sistem perbankan tentu informasi lebih banyak dal bahasa Inggris, sama halnya dengan perkembangan medis, maupun teknik bertukang bangunan. Bahkan hal paling sepele sekalipun, konten² game pun lebih banyak dalam bahasa Inggris. Tak mengherankan mengapa gamer² terbaik di Indonesia, biasanya bisa berbahasa Inggris. Sekurang²nya, orang yang pandai berbahasa Inggris bisa main game lebih baik daripada mereka yang tidak berbahasa Inggris.

Apa akibat dari lemahnya kemampuan bahasa Inggris Indonesia? Salah satunya adalah keterlambatan mencerna ilmu. Sederhananya begini, tahun 1989 ada buku luarbiasa berjudul "7 Habits Of Highly Effective People" oleh Stephen R. Covey, komunitas internasional yang fasih dengan bahasa Inggris sudah menikmati pencerahannya, sedangkan rakyat Indonesia kebanyakan baru mencerna buku tersebut bertahun-tahun kemudian setelah menunggu terjemahan bahasa Indonesianya. 

Itu dalam hal buku, kita bisa bayangkan dalam hal perbankan, medis, ilmu bangunan, kita serba terlambat. Bahkan dalam hal komedi pun kita terlambat. Istilah _meme_ yang sekarang populer; gambar singkat yang biasanya berisikan tulisan lucu. _Meme_ sudah menjadi fenomena setidaknya tahun 2011, namun rakyat Indonesia secara luas mengenal _meme_ mungkin baru sekitar tahun 2019?

Menurut saya: Rendahnya kemampuan berbahasa Inggris kita, berbanding lurus dengan tertutupnya pikiran kita. Rendahnya kita mengkonsumsi konten dari luar, mencerminkan sebenarnya kita ini keras kepala. Betapa kita hanya mengkonsumsi artikel, video youtube, buku, film, hanya dalam bahasa kita menunjukkan sempitnya pengetahuan kita. Dan tertutupnya pikiran, kerasnya kepala kita dan sempitnya pengetahuan kita menunjukkan betapa kita sebenarnya hanyalah katak dalam tempurung.

Jika kita ingin mencerna informasi yang lebih luas, memperluas sudut pandang kita dan tidak dikotak-kotakkan oleh pemahaman yang sempit, memang kita harus melatih diri berbahasa Inggris, bukan untuk komunikasi bahasa Inggris, tapi sekedar untuk mampu memahami tontonan dan bacaan dalam bahasa Inggris. Sebenarnya saya tidak fanatik berbahasa Inggris, 10 tahun lalu saya sangat benci mendengar orang berbahasa Inggris, karena saya merasa mereka _sok inggris²an._

Sekarang saya tidak benci melihat orang berbahasa Inggris, dan tidak juga benci melihat orang berbahasa Indonesia. Sekarang saya hanya melihat bahasa Inggris adalah tuntutan bagi saya untuk memahami dunia lebih mendalam. Mau itu dalam hal agama, politik, budaya, asal usul suatu suku, medis, kesehatan, musik, seni, bahkan hal paling sepele sampai informasi film ataupun game, menuntut kemampuan berbahasa Inggris.

Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi luaskanlah pikiran. Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi kurangilah keras kepala. Tidak perlu pandai berbahasa Inggris, tapi luaskanlah cakrawala ilmu. Bagaimana cara meluaskan pikiran, mengurangi keras kepala dan memperluas cakrawala ilmu? Pahamilah bahasa Inggris! Bukan untuk berkomunikasi, tapi untuk menyerap informasi dan ilmu.
Inilah tuntutan kalau kita mau belajar di tahun 2025 dimana manusia antarbangsa berkomunikasi dalam bahasa Inggris; mungkin kalau kita hidup tahun 1100 di zaman dominasi Dinasti Abbasiyah tuntutan memahami ilmu internasional adalah belajar Arab, atau Persia.

YM. Ustadz 
08/09/2025
19.09 WIB

Monday, August 18, 2025

Falsafah Kebahagiaan.

Falsafah Kebahagiaan.

Dengan mengatakan seseorang sesuatu sebagai sumber kebahagiaan kita. 
Karena seseorang/sesuatu hanyalah pemicu/trigger kebahagiaan. 
Sedangkan penyebab kebahagiaan itu adalah hati yang bersyukur dan ridha, Ketika kita mengatakan seseorang/sesuatu sebagai sumber kebahagiaan, kita akan bersedih jika seseorang/sesuatu itu berubah sifat dan keadaannya.

Yang mengatakan anak sebagai sumber kebahagiaannya akan sedih ketika melihat anaknya tak menyetujuinya. Yang mengatakan cucu sebagai sumber kebahagiaannya akan sedih ketika melihat cucunya membesar dan tak lagi manja kepadanya. Yang mengatakan minuman coklat panas sumber kebahagiaannya akan bersedih ketika pabrik/kilang minuman coklat panas itu tutup

Sadarilah bahwa kita sudah utuh, lengkap, mampu dan layak bahagia walau tanpa anak, cucu ataupun coklat panas. Ketika kita mensyukuri segala sesuatu kita akan mampu menemukan pemicu-pemicu dan trigger-higger kebahagiaan lainnya. Ketika kita meridhai segala sesuatu kita akan sadar betapa kita sudah utuh, bisa dan layak berbahagia walau tanpa anak, cucu, coklat panas atau apapun

Manusia yang mengatakan anak, cucu dan coklat panas sumber kebahagiaannya adalah manusia yang sakit jiwanya dan/atau akan sakit jiwanya, Katergantungan pada seseorang/sesuatu apapun adalah akar dari banyak penyakit kejiwaan, itu sebabnya, ridha akan takdir, menyadari semuanya bukan miliknya melainkan hanya titipan adalah obat sakit jiwa yang paling kuat dosisnya. Lebih lagi jika dilengkapi dengan hati yang bersyukur, yang selalu berusaha mencari hikmah.

Tuesday, July 1, 2025

Menemukan dan Memiliki Tuhan

*Menemukan dan Memiliki Tuhan*

Ada seorang wanita yang telah 4x kawin-cerai ditanyai, dari seluruh suami yang anda nikahi, mana yang paling anda cintai? Si wanita tidak memberikan 1 nama tapi ia memberikan 2 nama. Untuk sosok yang paling dia kagumi, hormati, segani dan ingat tiap ada masalah adalah suami nomor 2, karena suami nomor 2 adalah seseorang yang religius, bertanggungjawab dan bermanfaat pada orang banyak.

Tapi suami yang paling dia "senangi" adalah suami nomor 4 karena dia yang paling "seru" atau "asyik," misalnya mau mengajak si wanita ini bersama-sama keluar mandi hujan dan bernyanyi-nyanyi di tengah hujan, atau suka membawanya keliling kota sambil menggunakan pakaian aneh dan berteriak-teriak sambil tertawa lepas. Menariknya? Dengan suami nomor 4 pun dia cerai.

Mari membedah perempuan ini, ada apa dengan dirinya? Suami nomor 2 sesungguhnya sudah manusia sempurna; bertanggungjawab, bermanfaat untuk banyak orang, dan religius pula, mengapa ia harus bercerai dengan manusia baik-baik? Karena ia "belum selesai dengan dirinya sendiri," ia masih mencari sesuatu yang lain yaitu keseruan, keasyikan dan ia ingin diperlakukan bagaikan "putri di drama Korea."

"Ingin dimanjakan, ingin dibawa jalan-jalan ke Hong Kong, dan ingin dipamerkan kepada keluarga besarnya lengkap dengan pakaian seragam, kalau ini belum tercapai, apa kata orang?" Itulah dalam benak si wanita ini, akhirnya ia "berpetualang" di pernikahan² barunya demi pencariannya pada "suami sempurna" yang mau menjadikan dirinya "putri drama Korea," dan ia tak pernah menemukannya karena setiap pernikahannya berakhir dengan perceraian, bahkan dengan suami nomor 4 yang ia gelari sebagai "suami paling asyik."

Kita beralih cerita; di sisi lain ada seorang wanita yang mempertahankan pernikahannya dengan seorang lelaki _toxic._ Lelaki ini biasa memarahi tanpa sebab, mengancam dan memanipulasi perasaannya. Ketika ia marah, ia marah habis²an, tapi ketika ia tersudut ia akan menangis sejadi-jadinya seraya berkata bahwa dirinya lah yang tersedia untuk si wanita, bukan keluarga si wanita. Mereka sering berkelahi hebat, tapi mereka tak kunjung pisah.

Semua orang menanyai si perempuan, mengapa kau tak berpisah dari pasangan yang _toxic_ itu? Rupa²nya karena *insecurity* atau minder. Wanita ini memang diperlakukan buruk, tapi si lelaki itu memberinya "kehadiran" yang tidak diperoleh si wanita dari keluarganya yang broken home. Ayahnya pemabuk, ibunya sibuk menjadi influencer, adiknya asyik dengan dunianya sendiri, wanita ini merasa kesepian dan suami toxic-nya ini memberikan si wanita "kehadiran" yang sudah lama ia inginkan dari keluarganya.

Apa persamaan wanita yang selalu cerai tadi, dengan wanita yang mempertahankan suami _toxic_ ini? Keduanya sama-sama "belum selesai dengan dirinya sendiri," keduanya sama-sama minder alias insecure! Insecurity atau rasa minder mereka menyesatkan pikiran mereka, mendorong mereka mengambil keputusan² tak masuk akal! 

Insecurity mendorong wanita 1 selalu mengkhawatirkan apa kata orang lain, merasa dirinya selalu diintai dan dihakimi masyarakat sehingga ia selalu berpetualang mencari "lelaki sempurna" yang ironisnya, sudah ia temukan di suami ke-2 tapi malah ia ceraikan. Wanita 2 sedemikian kesepian dan sedihnya sehingga ia merelakan dirinya disiksa dalam rumah tangga yang manipulatif dan menyiksa.

Wanita 1 sebenarnya sudah menemukan apa yang dicarinya pada suami ke-2, tapi insecurity alias minder memperdayanya, meniup-niupkan waswas di kepalanya bahwa ia perlu suami lain. Wanita 2 sebenarnya harus menceraikan suaminya, tapi insecurity alias minder menyesatkannya, meniup-niupkan bisikan ke kepalanya bahwa si suami selalu ada untuknya di kala ia kesepian; tidak ada manusia sempurna, jadi tahankanlah lelaki manipulatif ini, pikirnya.

Mereka ini seperti pecandu narkobah (penagih dadah dalam bahasa Malaysia). Mereka tau narkoba itu buruk, tapi mereka tak tahan dengan kesenangan sesaat, _fly_ atau _high_ sesaat yang diberikan narkoba. Wanita 2 tau suaminya buruk tapi ia pertahankan karena suaminya bagaikan pemberi narkoba yang selalu memarahinya tapi selalu memberinya narkoba di saat yang bersamaan. Wanita 1 tidak ridha dengan suami ke-2 karena suami ke-2-nya itu tak mau memberinya narkoba; sehingga ia mencari di tempat lain, di lelaki lain!

Jika saya ditanya apa masalah dan solusi kepada kedua wanita di atas: Tuhan. Mereka berdua insecure, minder dan "belum selesai dengan dirinya sendiri" adalah karena mereka belum menemukan atau belum memiliki Tuhan. Sebenarnya jiwa mereka kosong; wanita 1 mencoba mengisi kekosongannya dengan kawin-cerai dan wanita 2 mencoba mengisi kekosongan jiwanya dengan bertahan di rumah tangga manipulatif.

Bisa saja mereka salat, umrah, baca Alquran dan mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, tapi mereka belum benar² "menemukan dan "memiliki" Allah. Jika wanita 1 telah "menemukan dan memiliki" Tuhan, seharusnya ia berkata: "Aku bersyukur memiliki Tuhan Yang Maha Baik, oleh karenanya aku puas dengan apa yang aku miliki, aku tidak lagi mempedulikan apa kata orang, dan aku sangat bersyukur dipertemukan dengan suamiku ini (suami nomor 2) dan aku akan berusaha mematuhinya!"

Sedangkan wanita 2 jika ia telah "menemukan dan memiliki" Tuhan seharusnya ia berkata: "Aku memiliki Tuhan Yang Maha Hadir sehingga aku tidak merasa kesepian walau aku hanya sendirian, dan karena Tuhanku adalah Allah Yang Maha Bijaksana, aku tidak takut untuk melangkah keluar dari hubungan yang buruk ini, karena aku tau Allah akan memberikan aku ganti yang lebih baik."

Kecanduan narkoba (ketagih dadah), selalu mencari pasangan baru dan bertahan dalam hubungan buruk memiliki persamaan: Jiwanya kosong. Maka jiwa yang kosong itu hendaknya diisi dengan "Tuhan" sehingga ia bisa menjadi bersyukur dan merasa benar² cukup, yang kemudian kesyukuran dan rasa cukup itu akan membebaskan pikiran mereka dari insecurity dan minder, lalu kemudian menghantarkan mereka "selesai dengan dirinya sendiri!" Wallahua'lam.

Tulisan ini sudah lengkap, tapi tak sesuai dengan judulnya: "Menemukan dan memiliki Tuhan," tidak dibahas di sini bagaimana "cara menemukan dan memiliki Tuhan?" Tidak akan kita bahas di sini, karena tulisan ini sudah terlalu panjang dan saya tidak mau kasih tau caranya. (karena saya pun sebenarnya tidak tau caranya) ๐Ÿ˜ƒ

YM. Ustadz 
01/07/25
17.13 WIB

Thursday, February 6, 2025

Bukan Sekedar Kebersihan

*Bukan Sekedar Kebersihan*

Mari merenung: Ada seorang tukang bangunan, ia selalu menyapu lokasi pembangunannya (_worksite_) setiap selesai bekerja, kemudian peralatan kerjanya seperti cangkul, palu (hammer), bor (drill), paku semuanya dia letakkan di 1 tempat dengan rapi agar besok ketika memulai bekerja ia bisa mudah menemukan peralatannya. Kemudian saat ia bekerja, ia kerjakan dengan cantik dan rapi, ia tak bisa menerima jika ada hasil kerja yang kurang bagus. Ia rela bongkar ulang lagi demi hasil yang terbaik. Mari renungkan: Apa akar atau dasar dari perilaku si tukang bangunan?

Contoh lain: Seorang tukang jahit, setiap selesai menjahit ia bersihkan mesin jahitnya, ia minyaki mesin jahitnya, lalu ia simpan peralatan jahit seperti gunting, meteran (pengukur badan) di satu tempat yang sama dengan rapi. Lalu saat ia menjahit, ia kerjakan dengan baik, jika ada yang kurang pas ia bongkar ulang, dan demi menepati janjinya kepada pelanggan ia rela lembur sampai malam agar memberikan jahitan terbaik kepada pelanggannya. Mari renungkan: Apa akar atau dasar dari perilaku si penjahit?

Contoh lain lagi: Ada orang yang tiap malam selalu patroli di rumahnya untuk check tiap pintu sudah kah dikunci, sanyo air sudah kah dimatikan, lampu sudah kah dimatikan. Kemudian kamarnya selalu ia ganti sprei maksimal tiap 5 hari. Kamarnya ia sapu, pel, dan vacuum bila perlu. Mobil dan sepeda motornya selalu ia service sesuai jadwal di dealer resmi. Ia tidak menumpahkan makanan dan minuman di mobilnya agar mobil tak berbau, bahkan ia menghindari banyak makan di mobil demi menjaga kebersihan mobilnya. Mari renungkan: Apa akar atau dasar dari perilaku si pemilik rumah dan kendaraan ini?

Pembersih, peduli, menghormati barang, menghormati pekerjaan, amanah. *Akar atau dasar dari segala perilaku di atas adalah amanah, dan amanah itu adalah akhlak terpuji dalam Islam dan merupakan salah satu sifat utama Rasulullah saw.* Saking amanahnya ia digelari al-amin yang artinya jujur dan bisa dipercaya (amanah). Nabi saw itu menamai sisir rambutnya, pedangnya, untanya, dan berbagai benda mati yang ia miliki. Beliau tidak cinta dunia, tidak. Sisir rambut dan barang²nya adalah barang² sederhana dan tidak mewah. 

*Beliau tidak cinta dunia, beliau tidak mewah, tapi beliau amanah.* Dan karena amanahnya, segala barang pribadinya sampai ia beri nama, dan tentu rawat dengan baik. Saya punya keyakinan, sekiranya Rasulullah saw hadir hari ini dan menjadi seorang tukang bangunan; ia akan berperilaku seperti tukang di atas. Jika Rasulullah saw hadir hari ini dan menjadi seorang penjahit; dia akan menjadi seperti penjahit di atas. Dan jika Rasulullah saw hadir hari ini, memiliki rumah dan kendaraan, beliau akan merawat rumah dan kendaraannya seperti pemilik rumah di atas.

Itu sebabnya, ketika kita diminta untuk merawat dapur, menyempurnakan denah dapur kita, mengasah pisau dapur kita, menservice rutin kendaraan kita, atau membersihkan kamar mandi kita, kita bukan sekedar diminta untuk menjadi pembersih, kita sedang diminta menjadi amanah. Ketika kita berperilaku amanah, kita akan menjaga apa yang diamanahi dengan baik; peralatan bangunan, mesin jahit, rumah, kendaraan, tubuh, dan lain sebagainya. Kita akan rawat dengan baik bukan karena kita cinta dunia atau lupa akhirat. Tapi kita merawatnya karena mensyukuri pemberian dan kemurahan Allah Swt kepada kita.

Ketika sifat amanah hadir dalam kalbu seseorang, tiba² ia akan menjelma menjadi "alien," dalam pengertian positif. Ia menjadi "alien" atau "asing" karena unggulnya perilakunya. Ia akan menjadi pembersih, perawat, peduli, profesional, pekerja keras, bekerja tuntas, itqan, bahkan mendekati perfeksionis. Itu sebabnya, perilaku bersih, profesional dan perfeksionis dalam bekerja itu penting. Karena ia bukan sekedar kebersihan. Ia adalah tentang amanah. Dan amanah itu adalah perintah langsung dari Tuhan Semesta Alam! Wallahua'lam.

YM Ustaz
6/02/2025
06.59 WIB

Sunday, January 26, 2025

Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah

*Mengaji Untuk Mengaji VS Mengaji Untuk Mengubah*

Setelah selesai menunaikan salat Jumat, coba tanya pada khatib yang tadi bertugas: "Mengapa anda berkhutbah?" Kira² apa jawaban yang akan kita dengar? Untuk memenuhi rukun salat Jumat, untuk menggugurkan kewajiban, karena ditugaskan pengurus masjid setempat, dan lain-lain. Adakah yang akan berkata: Karena saya ingin mengubah jamaah saya? Atau karena saya ingin mengurangi penderitaan hidup jamaah saya? Mungkin ada, tapi dari 100 orang seberapa banyak? Mungkin 5? Atau 3? Atau 1? Atau 0?

Tentu saja khutbah Jumat adalah ibadah wajib demi menunaikan perintah Allah, itu kita setuju. Tapi coba renungkan, apa alasan Allah Swt mensyariatkan wajibnya ada khutbah Jumat? Tentu saja untuk mengubah orang lain! Allah Swt menghendaki orang yang suka judi online berhenti, Allah Swt menghendaki orang yang biasa membelanjakan hartanya dengan boros berhenti, Allah Swt menghendaki seorang anak merasa damai di rumahnya karena kini ayahnya tidak pemarah lagi, dan seterusnya.

Pertanyaan berikutnya, coba tanyakan ustaz yang mengisi pengajian Isra Miraj, apa alasan dia berceramah? Apa jawaban yang mungkin akan kita terima? Pahala kah, mengharap berkah kah, atau jika jujur mungkin ada yang berkata karena dapat duit banyak kah. Yang pasti, akan kah kita mendengar jawaban seperti: Karena saya ingin mengubah? Mungkin sedikit. Atau tanyakan pada ustaz yang mengampu pengajian kitab kuning milik ulama zaman dulu; apa tujuan anda mengkaji kitab kuning? Apakah semata untuk mengaji, ataukah untuk mengubah orang lain?

Kita beralih ke kaum non-agama, tanyakan pada guru dan cikgu di sekolah, untuk apa anda mengajar? Untuk duit kah? Untuk mengisi waktu luang kah? Untuk menambah pengalaman kah? Tanyakan pada dosen dan pengajar di perkuliahan, untuk apa anda mengajar? Untuk gaji kah? Untuk mendapat rekomendasi pangkat lebih tinggi kah? Yang pasti: Nyaris tidak ada yang akan berkata saya mengajar untuk mengubah orang lain. Mengapa kita hanya memikirkan diri sendiri? Pahalaku, kewajibanku, ibadahku, uangku, duitku, gajiku, pangkatku, kenaikan pangkatku, hafalanku, kefasihan bahasa arabku, aku, aku dan aku. Kenapa ruang di kepala kita tidak banyak memikirkan kamu dan kita? 

Seorang khatib saat ia berceramah, sadar kah ia bahwa salah satu jamaahnya terjerat judi online dan telah merugikan banyak uang orangtuanya dan saat ini orangtuanya sedang berdoa supaya anaknya berubah? Seorang ustaz ketika berceramah Isra Miraj, sadar kah ia bahwa salah seorang jamaahnya adalah seorang ayah yang sangat pemarah sehingga tak membuatnya betah di rumahnya dan saat ini anak itu berdoa sampai menangis agar ayahnya berubah? Seorang pengampu kitab Ihya 'Ulumuddin sadar kah ia bahwa di pengajiannya hadir seorang istri yang sangat membebani suaminya dan suaminya begitu mengharap perubahan sang istri?

Pertanyaannya: Apakah kita peduli dengan pendengar kita? Atau bahkan sadar kah kita bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja? Ataukah kita lebih asyik dengan: Pahalaku, ibadahku, hafalanku, bahasa arabku, pemahamanku, dan seterusnya? Kita perlu sadar bahwa Islam diturunkan Allah Swt dengan tujuan untuk mengubah manusia dan kemanusiaan. Kita perlu sadar bahwa Rasulullah saw memulai sunnah mengaji demi mengubah orang lain. Kita perlu sadar bahwa tujuan agama itu mengubah. Kita perlu sadar bahwa tujuan keberadaan Alquran itu untuk mengubah.

Tidak masalah, bagus bahkan jika kita suka menghafal dalil Alquran maupun hadis. Tidak masalah bahkan bagus jika kita sangat menyukai kajian mendalam kitab Ihya' atau sejarah hidup Imam al Ghazali. Tapi perlu kita sadari bahwa keberadaan agama itu sendiri adalah untuk mengubah orang lain. Itu sebabnya; keasyikan dengan ilmu jangan sampai membuat kita lupa akan tujuan ilmu itu sendiri. Keasyikan kita mengaji jangan membuat kita lupa tujuan akhir dari mengaji itu sendiri: Mengubah diri sendiri dan orang lain.

Benar bahwa perubahan itu di Tangan Allah, Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya dan kita tiada daya, benar. Tetapi itu bukanlah alasan untuk tidak mempedulikan orang lain. Bayangkan: Orang yang berniat mengubah orang lain saja bisa gagal dalam ceramahnya, apalagi yang memang tidak ada niat mengubah sama sekali? Rasulullah saw yang amat berat baginya penderitaan orang lain dan amat menginginkan keimanan bagi kita itu pun masih bisa ditolak dakwahnya? Lantas bagaimana kita yang membuka forum kajian semata untuk mengupas kitab atau teks tanpa peduli dengan keimanan dan penderitaan orang lain? Wallahua'lam.

YM Ustaz
26/01/2025
06.58 WIB

Thursday, January 23, 2025

Sakinah Sebelum Mawaddah Warahmah

Sakinah Sebelum Mawaddah Warahmah

Sebenarnya apa arti kalimat samawa (sakinah mawaddah warahmah) dan apa relevansinya dengan pernikahan? Sakinah itu ketenangan. Mawaddah itu cinta yang datang dari ketertarikan fisik pada lawan jenis. Rahmah itu artinya kasih sayang yang mendatangkan kemaafan. Soal mawaddah dan rahmah itu definisinya ada begitu banyak dan beda ulama beda pula definisinya; begitulah hasil pencarian saya di internet.

Tapi satu hal yang pasti semua sepakat, sakinah itu artinya ketenangan dan kedudukannya lebih awal (dan mungkin lebih utama) dibanding mawaddah dan rahmah. Apa tujuan pernikahan? Jangan tanyakan pada lajang yang belum menikah. Tanyakan pada yang sudah menjalani 10 tahun lebih. Tanyakan pada yang sudah menjalani 20an tahun lebih. Saya menduga mereka akan menjawab: "Mencari ketenangan." Masalahnya, apakah yang sudah 10 atau 20 tahun menikah itu mendapat ketenangan? ๐Ÿ˜€

Yang pasti: Sakinah atau ketenangan itu akibat. Sebabnya adalah akhlak mulia masing² suami dan istri. Suami atau istri yang kurang pemarah, kurang kasar, kurang cinta dunia, kurang panjang angan-angan, kurang suka uang, kurang mewah, dan seterusnya pasti lebih tenang hidupnya dan lebih menenangkan pasangannya. Sebaliknya, suami atau istri yang pemarah, kasar, cinta dunia, panjang angan-angan, suka uang, mewah, dan seterusnya pasti kurang tenang hidupnya dan kurang menenangkan pasangannya.

Betapa banyak suami² merasakan kegelisahan saat pulang ke rumah, atau saat istrinya hadir di dekatnya karena istrinya bukan main pemarah dan banyak angan. Sebaliknya betapa banyak istri² yang merasakan terancam di rumahnya karena suami yang pemarah dan kasar. Ini suasana dimana "sakinah" tidak hadir. Dan ketika "sakinah" tidak hadir, ketertarikan fisik hilang, rasa ingin bersama hilang. Ketika sakinah tiada, mawaddah warahmah mustahil hadir!

Namun rumah tangga tak sakinah itu dipertahan-tahankan karena anak sudah banyak, aset rumah atau rekening bank atas nama bersama, bisnis dirintis bersama, malu pada masyarakat, dan lain-lain sebagainya. Dalam rumah tangga yang tidak ada ketenangan; bahagia pasti tiada. Tak peduli seberapa cantik istrinya, seberapa ganteng suaminya, seberapa besar rumah mereka, seberapa banyak simpanan duit mereka, mereka tak akan bahagia. Orang lain mungkin melihat istrinya cantik bagai bidadari, tapi si suami melihatnya menyeramkan bagai kuntilanak. Orang lain melihat si suami gagah bagai hercules, tapi si istri melihat suaminya memuakkan bagai sandal jepit.

Itu sebabnya jangan sekedar berdoa agar rumah tangga dikekalkan. Berdoalah rumah tangga kekal dalam akhlak mulia. Persatuan itu akibat. Cinta kasih itu akibat. Rasa ingin bersama itu akibat. Penyebabnya adalah akhlak mulia. Penyebabnya adalah sedikitnya marah, sedikitnya angan-angan, kesederhanaan menjalani hidup, salat 5 waktu, kecintaan pada Allah dan RasulNya, sedikitnya membanding-bandingkan, tidak materialistik, tidak memboros, santun berkata-kata, dan seterusnya.

Kebersamaan tanpa akhlak mulia itu penderitaan. Jika pernikahan dijalani tanpa akhlak mulia dari kedua pihak, hanya akan ada 2 kemungkinan hasil: Menderita atau cerai. Kedua²nya tidak enak. Itu sebabnya betapa benarnya konsep "sakinah mawaddah warahmah" itu. Sakinah (ketenangan) itu mendahului rasa suka dan rasa cinta. Tanpa ketenangan, suka dan cinta tiada. Pernikahan, bahkan perkumpulan apapun akan punah jika tiada ketenangan. Dan azas dari ketenangan itu tak lain adalah kebaikan hati.

Akhirnya kita berkaca, betapa kelirunya cara kita mencari pasangan. Coba tanyakan kenapa dulu kita menikah? Kenapa dia yang kita pilih? Saya bertaruh hampir 100% menjawab karena suka, cinta, atau tertarik. Dengan perkataan lain; kita mencari pasangan dan memasuki pernikahan dengan "mawaddah warahmah" dan menomortigakan "sakinah." Orang memasuki pernikahan tanpa mempertimbangkan akan kah kita tenang jika menjalani dengannya nanti? Satu²nya yang dipikirkan ialah: "Aku akan gelisah kalau calonku ini direbut orang lain."

Akhirnya, pengabaian terhadap konsep sakinah dibayar dengan pernikahan tak bahagia atau perceraian. Penderitaan dan perceraian itu adalah denda (fine) yang dibayar karena kita tidak membayar pajak (tax) bernama sakinah. Di negara, jika tidak ingin kena denda (fine) bayarlah pajak (tax). Dalam rumah tangga jika tidak ingin mendapat denda penderitaan dan perceraian; pedulikanlah sakinah, wujudkanlah ketenangan, kerjakanlah akhlak mulia. Setelah itu, semuanya mengalir. Wallahua'lam.

Monday, October 21, 2024

Tauhid Di Akhir Hayat

*Tauhid Di Akhir Hayat*

Bayangkan: Sekiranya saat ini Tuhan memperkenankan untuk kita, mewujudkan apapun keinginan kita. Apa yang akan kita minta dariNya? Apakah cita-cita kita yang telah lama kita pendam? Apakah harta benda yang telah lama kita impikan? Ataukah istana megah di surga berisikan bidadari-bidadari nan jelita rupawan? Alangkah indahnya jika kita berkata pada Tuhan: "Wahai Tuhan, hanya Engkau yang ku maksud, dan hanya keridhaanMu yang hamba tuntut." (Ilahi anta maqsudi waridhaka matlubi).

Demikianlah sikap Rasulullah saw di akhir hayat beliau; ketika ditawarkan antara 2 pilihan; 1. Keabadian dunia-akhirat tanpa hilangnya keridhaanNya, 2. Segera menemuiNya, beliau memilih yang ke-2 sambil tersenyum, "Aku memilih yang Maha Hidup," kata Beliau. Sebenarnya, mindset, ucapan dan sikap Rasulullah saw itu lah hakikat dari meniadakan (menafikan) dan menetapkan (mengisbatkan) Tiada Tuhan selainNya; tiada yang dituju selainNya, tiada yang dicinta selainNya, itulah di antara esensi mengucap Laa Ilaha Illallah. Maka, untuk mengupayakan akhir hayat mengucap "Laa Ilaha Illallah," upayakanlah untuk menuju hanya kepadaNya, mencintai hanya Dia, dan mengharapkan hanya keridhaanNya.

YM Ustaz
24/5/2022
04:48 WIB

Sunday, July 28, 2024

Bisa Diajarin (Teachable)

*Repost Fatwa YM* 
-----------------------------
*Ustadz.*
-------------

*Bisa Diajarin (Teachable)*

Steve Jobs, mantan CEO Apple, yang dipandang sebagai salah satu tokoh teknologi terbesar di zamannya pernah mengungkapkan ungkapan yang begitu indah: "Stay Hungry, Stay Foolish." Yang kalau secara harfiah (literal) berarti "Tetaplah lapar dan tetaplah bodoh." Adapun konteks pernyataan tersebut ialah: Jangan berhenti belajar. Maulah diajarin. Jadilah bisa diajarin. Become teachable. 

Kalau saya ingin menambahkan ungkapan Steve Jobs: "Stay young. Stay Junior." Atau, "Tetaplah muda dan jadilah junior selamanya." Ketika kita masih muda, junior dan baru belajar; kita siap dimarahi, siap letih, siap bekerja keras, dan siap untuk belajar dari pengalaman. Itu sebabnya, jangan merasa senior, karena biasanya senior itu malas belajar dan nggak mau diajarin (unteachable)! Karena merasa dirinya serba tau dan serba cukup! Itu sebabnya biasanya orang gagal dalam kehidupan itu merasa senior padahal ilmu dan pengalamannya sedikit!

Salah satu ciri orang sukses adalah bisa diajarin, teachable. Karena, walau banyak pun pengalaman kita, selalu ada pengalaman baru menanti. Seberapa mendalam pun ilmu kita, tetap ada ilmu baru yang menanti. Seberapa lama pun kita hidup, tetap ada yang belum kita ketahui. Akhirnya, ciri orang mau belajar? Antusias, siap salah, siap belajar, siap mendengar. So, stay hungry, stay foolish, stay young, stay junior. Selalulah lapar, bodoh, muda, dan junior.

YM Ustaz
7/6/2022
23:05 WIB

Saturday, June 22, 2024

*Berani Tampil Sama*

*Berani Tampil Sama*

Berani tampil beda, adalah doktrin yang sangat mendunia di dunia 20 tahun belakangan ini (atau mungkin lebih). Di antara akibat dari cara berpikir ini adalah lahirnya orang-orang yang suka mencari sensasi; berpakaian, berbicara, berpikir dengan cara yang tidak lazim. Untuk apa? "Supaya beda", tidak jelas juga untuk apa sebenarnya. Perlu kah tampil beda? Bila kita hadapkan kepada Alquran, yang penting bukanlah menjadi berbeda, yang penting adalah *menjadi baik.*

Di Medan, ada istilah populer "Jangan Cuman Jago Kandang", yakni jangan hebat hanya di kandang. Pernah YM. Abu mengomentari statement ini, beliau bertutur, kira² seperti ini: "Memangnya kalau jago kandang kenapa rupanya? *Kita tidak ingin jago, kita hanya ingin bermanfaat.* Tidak penting apakah kita jago kandang, jago tandang, ataupun tidak jago keduanya, yang penting adalah menjadi orang baik."

Harus senantiasa dikumandangkan pertanyaan: "Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan menyakiti? Apakah ini tulus?" Bisa dipastikan, bila semua orang benar-benar bertanya akan hal ini sebelum melakukan apapun, populasi pencari sensasi, ataupun jumlah orang aneh di dunia akan menurun. Ketika diri hanya dibebani untuk menjadi orang berbakti pada Tuhan, kebutuhan akan pujian, hasrat tampil beda akan menurun drastis, dan dia tidak akan keberatan untuk menjadi tak berbeda.

Kalu kita lihat Nabi saw, sebenarnya demikian juga, disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa jika ada orang yang baru masuk Islam, orang tidak tau yang mana Nabi saw, karena Nabi saw tidak mencolok; duduknya bersama-sama, bergurau bersama, berpakaian dan makan yang sama, dst. Satu-satunya hal yang membuat Nabi saw mencolok dari orang lain pada zamannya adalah Keislaman beliau, yang itu sendiri pun merupakan tuntutan Tuhan untuk menyebarkan Islam. Bisa diperkirakan, Nabi saw adalah orang yang memilih untuk tidak mencolok, dengan perkataan lain, tidak ingin tampil beda, hanya ingin berbuat baik, memilih menjauh dari popularitas, *berani tampil sama.*

YM Ustaz
10/07/2020
20.43 WIB

WAG Diskusi AFAS

Sunday, June 2, 2024

Penghormatan Status

Penghormatan Status

You see the world as you are. Kita mempersepsikan dunia sebagaimana kita mempersepsikan diri kita sendiri; bila kita pemarah, kita pun akan menyangka orang pemarah pada kita. Kita menuduh orang sebagaimana kita menuduh diri kita sendiri; bila kita licik, kita akan mudah menduga orang lain licik pula pada kita. Dan kita menghormati orang lain berdasarkan apa yang kita hormati dari diri kita sendiri; bila kita memandang kekayaan, gelar dan piala itu penting, kita pun akan mengukur nilai orang lain berdasarkan kekayaan, gelar dan piala mereka. 

Itu sebabnya, bila ingin memperlakukan orang lain secara lebih baik, mulailah dengan memandang diri sendiri secara lebih benar. Bagaimana mungkin kita akan menghormati orang lain karena akhlak dan kebaikannya jika kita memandang gelar dan status itu penting? Sebaliknya; sudah pasti kita tidak mempedulikan status dan kekayaan orang lain, bila kita memandang karakter dan kebaikan hati itu yang utama. Maka, evaluasilah diri kita; adakah aku ingin memperkenalkan diri melalui pangkatku? Boss, jendral, professor, dan sebagainya? Ataukah aku lebih ingin memperkenalkan diriku sebagai si fulan saja? 

Satu hal yang pasti: Tuhan tidak memandang status kita, Tuhan itu jujur. Di dalam kubur bukan piala atau sertifikat kita yang ditanyai, tetapi kebeningan hati dan perbuatan baik kita yang ditanyai? Itu sebabnya, memandang status secara berlebihan pastilah merugi di akhirat, dan juga di dunia. Manusia yang terlalu memandang status adalah manusia yang tidak jujur dan hidup di dalam ilusi yang diciptakan masyarakat. Ia menjadi pengemis status dan hamba kekayaan; ia rela mengemis dan bersujud pada mereka yang lebih tinggi kedudukannya dan lebih tebal simpanan uangnya. Baginya kehidupan ini tak lebih dari transaksi demi eskalasi status. 

Kelak jika ia memiliki anak atau pasangan pun, akan ia perlakukan layaknya piala saja. "Nanti kalau jumpa dengan si fulan teman papa dahulu, kamu nyanyi ya!" Betapa banyak orangtua menuntut begitu pada anaknya, tanpa menanyakan apakah anaknya mau bernyanyi atau tidak, seakan-akan anak-anaknya hanya piala; gelas yang terbuat dari emas, tak berjiwa, yang fungsinya adalah untuk dipertontonkan kepada saudara/i-nya yang dari dulu sudah ia benci dan sudah ingin dia kalahkan. Apa akar dari situasi ini? Melihat segala sesuatu dari status, bukan substansi. 

Maka renungkanlah sekali lagi: "Apakah aku ingin dihormati karena status, gelar dan kekayaanku? Ataukah aku ingin dihormati karena aku adalah aku? Tanpa embel-embel dan status apapun yang melekat padaku?" Hendaknya, pandanglah diri sebagai seorang fulan, manusia biasa, sehingga kita optimal mempercantik akhlak, bukan memperpanjang gelar. Dan hanya dengan begitu lah; kita akan mampu menghargai orang lain (termasuk anak dan pasangan kita) sebagai sebuah jiwa, sebagai manusia, bukan sebagai status, gelar dan tebal-tipis rekening banknya. Wallahua'lam!


YM Ustaz
Kamis, 9 Mei 2024
22.09 WIB

Tuesday, March 12, 2024

Tidak Melakukan Apapun

*Tidak Melakukan Apapun*

Baru² ini di youtube saya mendapatkan nasehat luar biasa dari seorang pemain game profesional. Dia menuturkan, ada situasi dalam game, anda terasa buntu/stuck karena tidak tau apa yang dilakukan dan musuh begitu dominan. Dalam situasi buntu/stuck seperti ini, apa yang harus dilakukan? *Tidak melakukan apapun.*

Ada seorang gamer profesional, tiap mengalami kebuntuan, ia benar² tidak melakukan apapun. Dan itu bisa berlangsung selama 2 menit lamanya, dan itu adalah sangat lama menurut ukuran game tersebut. Apa yang ia lakukan dalam 2 menit itu? Menjauhi musuh, membaca rencana musuh, introspeksi kelemahan team; membaca permainan.

Nyaris dalam tiap permainan dia lakukan ini. Lalu apa yang sering terjadi setelah dia lakukan ini? Mereka melakukan serangan balik, kemudian membalikkan keadaan dan seringkali justru memenangkan pertandingan. Dia adalah salah satu gamer profesional kelas dunia yang sangat ditakuti lawan²nya. Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil?

Saya pernah bertanya pada YM. Abu, "Apa yang Papa lakukan jika sedang bingung menghadapi masalah besar?" Dengan ringan beliau menjawab, "Tidur." Saya tanya balik, "Kenapa tidur? Kan berbahaya jika masalah serius dibiar-biarkan begitu saja?" Beliau menjawab, "Ya Papa kan sudah pikirkan jalan keluarnya, tapi belum dapat, jadi ya tidur dulu. Dan biasanya nanti dapat sendiri jawabannya." Dan begitulah cara beliau menghadapi masalah seumur hidupnya.

Kadang-kadang, masalah menjadi semakin buruk bukan karena kita tidak melakukan apapun, tapi justru karena kita terlalu banyak melakukan hal-hal yang tidak perlu. Kadang-kadang, tidak melakukan apapun, belajar, menyimak, memahami lebih dalam, dan meminta pertolongan Tuhan itu lebih ampuh daripada melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berguna, atau latah melakukan hal-hal yang malah memperburuk keadaan.

Mari kita sederhanakan lagi: Jadilah orang sabar. Tidak semua masalah harus diatasi segera. Tidak semua misteri harus terungkap segera. Tidak semua pertanyaan harus dijawab segera. 

*"Bukan kah hidup ada perhentian? Tak harus kencang terus berlari? Kuhelakan nafas panjang, untuk siap berlari kembali, melangkahkan kaki, menuju cahaya."*
*(Padi - Sang Penghibur)*

YM Ustaz
29/09/2023
03.23 WIB

GPS TRACKER




GPS EV02
#ORIGINAL WANWAYTECH


 LUANGKAN WAKTU UNTUK MEMBACA SEBENTAR  

free aplikasi 1 tahun 





FREE SERVER PREMIUM 
1 AKUN BISA BANYAK DEVICE TANPA BATASAN (tidak di miliki server gratisan seperti ruh*nvik)
SERVER STABIL TIDAK PERNAH GANGGUAN 




OPEN RESELLER 
keuntungan menjadi reseller kami 
✓ mendapatkan akun disributor untuk mengolah semua pelanggan anda 
✓konsultasi gratis dengan admin kami 
✓bisa membuat akun untuk pelanggan sendiri 
dll 
✓harga kami kompetitif
✓ di ajari sampai sukses

FIKTUR
- LACAK 
-MATIKAN MESIN 
-PEMBATAS AREA
-HISTORY 100 HARI KEBELAKANG
-NOTIFIKASI AKI DI LEPAS
- NOTIFIKASI MESIN ON/OFF
- ALARM GETARAN 
unit super slim sehingga cocok di taruh di tempat yang sulit di jangkau
perangkat berteknologi tinggi sehingga cocok untuk mendukung usaha anda

GRATIS SERVER
garansi 1 tahun 

Info Pemasangan : 081311454536

Shopee Affiliate Program

Yuk, gabung Shopee Affiliates Program di tim-ku buat dapat komisi PULUHAN JUTA!
Daftar Shopee Affiliate
Kode Tim : 2L6HMLV

Friday, January 5, 2024

Obsesi Yang Tidak Sehat

*Kutipan Fatwa YMU*

*Obsesi Yang Tidak Sehat*

10-20 tahun yang lalu (mungkin sampai sekarang masih), tanyakanlah anak² muda usia 15an, apa cita² mereka? 
 _Kebanyakan akan berkata memiliki badan kekar, menjadi penyanyi, musisi, pemimpin, dan sebagainya._ 

Sebenarnya, apakah cita² itu yang sungguh mereka inginkan, ataukah popularitas, uang dan pengikut yang mereka impikan?

Khususnya menjadi pemimpin, begitu banyak hari ini orang muda maupun tua terobsesi sangat ingin memimpin, untuk apa?
 *Bukan kah pemimpin itu pelayan?* 
Normalnya, tidak ada orang yang terobsesi menjadi pelayan. 

 *Namun, bukan pelayanan yang menjadi obsesi banyak manusia,* 
obsesi mereka lagi² hanyalah popularitas, uang, pengikut dan puja-puji. 
*Obsesi yang tidak sehat!* 

Sebuah pengingat, Habib Umar bin Hafiz pernah menyatakan lebih kurang: Sekiranya saya merasa lebih baik dari murid saya, akan saya tutup sekolah saya ini. 

Karena Da'i/Ulama yang merasa dirinya lebih baik/mulia dibanding muridnya/orang lain, sesungguhnya ia bukanlah Da'i/Ulama tapi ia adalah *setan.* 

Tanyakan pada diri kita: 
Apakah obsesi memimpin itu merupakan obsesi untuk menjadikan diri merasa lebih baik dan mulia dari orang lain? Jika ya, sungguh, kita sedang *bercita-cita ingin menjadi setan.* Na'udzubillah.

Maka: Jangan niatkan memimpin. Jangan niatkan punya pengikut. Jangan niatkan banyak uang. Jangan niatkan popularitas. Jangan niatkan kemuliaan. Jangan niatkan puja-puji. 

Niatkan saja *melayani manusia* . 
Niatkan saja *mengagungkan Allah.* 

 *Tuju saja hanya ridha Allah.* Tidak lebih, tidak kurang.

*YM Ustadz*
*Jumat, 17 Maret 2023*

Saturday, October 22, 2022

Sidra Bank

*WARGA MUSLIM, AYO DUKUNG TERBANGUNNYA ISLAMIC DIGITAL BANK PERTAMA DI DUNIA ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช*
Komunitas dan Ekosistem SIDRA dibentuk dengan cara membagikan koin digital (Crypto) SIDRA secara gratis kepada calon pemilik koin (Holder) di seluruh dunia. Manfaat koin adalah untuk transaksi perbankan SIDRA dan dapat ditukar ke Rupiah maupun ke mata uang kripto lainnya melalu Exchanger. Supply SIDRA hanya 21 juta keping saja, sehingga akan sangat mahal di masa mendatang.

Miliki _2 koin SIDRA_ setiap hari secara gratis dengan cara Registrasi ke official website SIDRA, pada alamat berikut:

๐ŸŒˆ *REGISTERASI GRATIS disini*๐Ÿ‘‡⬇️⬇️
Daftar SidraBank

Join di group komunitas SIDRA Indonesia pada alamat berikut:

Grup Telegram
https://t.me/KomunitasSidraBankIndonesia

Official web info
https://sidrabank.com/

Wednesday, October 19, 2022

MENUNDA SHOLAT


MENUNDA SHOLAT               
(Jangan dibaca jika tak kuat)

Ada seorang wanita bertanya kepada'' mufti :"Bagaimana caranya membangunkan anak-anak saya yang sedang tertidur nyenyak untuk sholat Subuh ?" Mufti menjawab dengan balik bertanya kepada wanita tersebut :"Apa yang akan kamu lakukan jika rumahmu terbakar dan pada saat itu anak-anakmu sedang tidur nyenyak ?" Wanita tersebut berkata :"Saya pasti akan membangunkan mereka dari tidurnya." Mufti menjawab :"Bagaimana jika mereka sedang tertidur nyenyak sekali ?" .

Wanita itu kemudian menjawab :"Demi ALLAH! Saya akan membangunkan mereka sampai bener-benar bangun, jika mereka tidak bangun juga, saya akan menarik menyeret mereka sampai keluar dari rumah." Mufti kemudian menjawab :"Jika itu yang kamu akan lakukan untuk menyelamatkan anak-anakmu dari api dunia, lakukanlah hal yang sama untuk menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat kelak." Dari : Abuya As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki

AKIBAT SUKA SHOLAT DI UJUNG WAKTU

Para Malaikat menyeretnya melewati orang banyak, menuju ke arah api neraka yang menyambar-nyambar.

Dia menjerit sekuat tenaga dan bertanya-tanya barangkali ada orang yang mampu membantunya.

Dia menjerit lagi sambil menyebutkan semua kebaikan yang telah dia lakukan; bagaimana dia sering membantu orangtuanya. Bagaimana dia tidak pernah tertinggal puasanya, tidak pernah meninggalkan shalatnya, selalu bersedekah dan rajin membaca al-Quran.

Dia terus menjerit lagi, namun tidak  ada seorangpun yang tampil membantunya.

Para malaikat terus menyeret dia. Dan … mereka semakin dekat dengan kawah api neraka.

Dia menoleh ke belakang dan ini harapannya yang terakhir. Dia teringat …

Tidak! Rasulullah pernah bersabda:

“Bagaimana bersihnya seseorang yang mandi di sungai lima kali sehari dari kotoran, begitu juga bersihnya orang yang melaksanakan shalat lima kali sehari dari dosa-dosa mereka”

Dia menjerit lagi sekuat tenaga:

“Solat saya? Solat saya? Doa saya?”

Kedua malaikat tidak berhenti, dan terus menyeretnya ke tepi jurang neraka. Kembang api neraka yang membubung terasa menyambar mukanya.

Dia menoleh ke belakang lagi, tapi matanya telah kering dari setiap harapan dan dia tidak memiliki apa-apa lagi yang tinggal di dalam dirinya.

Salah satu malaikat menolak dia dan memasukan ke kawah neraka.

Dia mandapati dirinya terus melayang dan akhirnya jatuh ke dalam kawah api neraka yang menjulang tinggi selama 70 tahun.

Setelah 70 tahun sengsara dibakar api, tiba-tiba terasa tangannya diraih oleh satu lengan.

Dia ditarik kembali ke atas.

Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat seorang pria yang sangat tua dengan jenggot putih yang panjang memegang tangannya.

Pria itu kelihatannya sangat daif.

Sambil menyapu debu di tubuhnya dia bertanya pada pria tua itu:

“Siapakah anda?”

Orang tua itu menjawab: “Akulah sholat anda”

“Mengapa kamu begitu terlambat bantu saya? Wahai shalatku, saya telah terjerumus ke dalam api neraka selama 70 tahun! Kenapa setelah tubuh saya hangus dan hampir hancur baru kamu datang selamatkan saya ? kenapa …?.”

Orang tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata:

“Apakah kau lupa? Selama hidup di dunia dulu kamu selalu laksanakan saya pada saat-saat akhir !!”

“Setiap kali Maghrib kamu fokus pada sinetron tv dulu ..

“Dzuhur kamu lewat, kamu lebih mementingkan kerja daripada saya. Sholat ashar dan subuh juga selalu diujung waktu.

“Kamu ingatkah itu semua ??”

Penjelasan pria tua itu mengejutkannya dari tidur …

Dia terjaga dan mengangkat kepalanya dari tidur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat ketakutan …
Ya Allah.. Aku mimpi…

Tapi seperti nyata ..
Ketika itu juga ia mendengar suara adzan di kumandangkan menandai masuknya waktu shalat ashar.
Dia bangun dengan cepat dan mengambil wudhu. Dia berjanji tidak akan melalaikan shalat lagi. Dia menyadari kesalahannya sekarang. Dia telah mendapat petunjuk yang maha benar.
Sebarkan kisah ini kepada keluarga dan kawan-kawan anda. Mungkin anda dapat membantu mereka agar mulai sekarang mau menunaikan sholat tepat waktu.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak

Rasulullah bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari)

Tuesday, May 24, 2022

Islam Yang Bernuansa Sukacita

Islam Yang Bernuansa Sukacita



Dalam pandangan saya, salah satu masalah umat Islam saat ini adalah kegemaran pada menangis. Akhirnya, segala hal berbau Islam cenderung dekat dengan air mata, bahkan cenderung dipicu untuk menangis. Ketika para ustaz berceramah misalnya, seringkali penekanan dan berlama-lama di bagian azab; azab kubur, hari kiamat, siksa neraka, dan seterusnya. Atau lihat saja video ceramah para ustaz di youtube, seringkali diberikan backsound (musik pengiring) yang bernuansa sedih, padahal ceramahnya bertemakan bahagia pun, musik pengiringnya tetap sedih!

Menurut saya ini adalah masalah; kita memberikan apresiasi yang terlalu besar pada kesedihan. Efeknya adalah, kita menjadi umat yang lesu dan kurang semangat berjuang khususnya dalam berbuat kebaikan dan memperjuangkan hal duniawi. Rasulullah saw itu adalah sosok yang selalu tersenyum dan penuh semangat dalam bekerja, bahkan dalam mencari nafkah. Masalah lainnya adalah, seringkali air mata yang tumpah dari kaum kita adalah air mata buatan atau tidak organik (tidak alami). Karena melihat orang lain menangis saat mendengar ceramah, kita pun ikut²an menangis. Kira² air mata mana yang Tuhan apresiasi? Apakah air mata partisipatif (ikut²an menangis) ataukah air mata organik (alami karena takut padaNya). Bukan kah salah satu dari 7 golongan yang dinaungi Tuhan di hari kiamat, adalah orang yang menangis secara bersendirian, dan air mata-nya adalah organik (alami) karena takut padaNya?

Kita perlu mengubah image Islam yang penuh derai air mata partisipatif itu, ubahlah citra Islam sedih itu, agaknya di masa sekarang ini kita perlu membina sebuah bentuk Islam yang bernuansa sukacita. Bersukacita karena banyaknya rahmat Allah Swt. Sukacita yang mengantarkan umat pada semangat dalam produktifitas dan berbuat kebajikan; tentunya juga semangat dalam menjalani ibadah mahdah. Para penceramah, berhentilah memancing-mancing isak tangis yang tidak alami dari para jamaahnya. Para editor video ceramah; cobalah sesuaikan musik pengiring (backsound) dengan nuansa ceramahnya, jangan paksakan semua musik pengiring harus yang sedih. Dan kita para umat, cobalah memupuk sebanyak-banyaknya rasa syukur hingga ia meluap-luap, hingga ia menghantarkan kita pada sukacita yang produktif, pada syukur yang mem-profesional-kan. Di waktu hendak menangis, menangis lah. Di waktu tidak hendak menangis, jangan tarik-tarik keluar air mata itu! Senyum harus lebih mewarnai umat dibanding tangis!

YM Ustaz
24/4/2022
07:06 WIB

Tuesday, May 17, 2022

DIBALIK KISAH MARMER PENYERAP PANAS YANG ada di MASJIDIL HARAM dan MASJID NABAWI

*INSPIRASI* :
*DIBALIK KISAH MARMER PENYERAP PANAS YANG ada di MASJIDIL HARAM dan MASJID NABAWI*

Banyak yang bertanya mengapa lantai Masjidil Haram dan Nabawi tidak panas meskipun dihantam cuaca 50-an derajat celsius, bahkan selalu sejuk ?!

Berbagai macam asumsi pun lahir. 
Ada yang mengatakan bahwa di bawahnya ada mesin pendingin cuaca sehingga menyebabkan tetap sejuk dan tidak panas.

Akan tetapi, faktanya, bahwa lantai-lantai tersebut terbuat dari Marmer termahal dan terbagus yakni tipe Thassos dari daerah Yunani. 
Kerajaan Saudi sengaja membelinya untuk mencukupi lantai-lantai dua masjid suci dan halamannya. 
Semua itu demi kenyamanan Jamaah haji dan umroh.

Pasalnya, marmer tipe Thassos ini mampu menyerap kelembapan pada malam hari serta memantulkan terik mentari yang begitu menyengat. 
Itulah rahasia mengapa lantai-lantai di dua masjid suci tetap adem dan sejuk meskipun kita berjalan di bawah terik mentari tanpa alas kaki. 
Termasuk di antara nikmat dari Allah bagi tamu-tamu-Nya.

Tahukah anda siapakah Pria yang mendesain Masjidil Harom Mekkah & Masjidil Nabawi Madinah ?

Ya, Dia adalah seorang Insinyur dan Arsitek Mesir yang lebih suka menjauh dari pusat perhatian publik, tidak diketahui banyak orang dan bernama Muhammad Kamal Isma'eel (1908-2008)

------
Muhammad Kamal Ismaeel adalah :

✅ Seorang Termuda dalam sejarah Mesir yang Memperoleh Ijazah sekolah menengah

✅ Seorang Termuda yg mendaftar di Royal School of Engineering dan menjadi Wisudawan Termuda pula..

✅ Seorang Termuda yang dikirim ke Eropa untuk mendapatkan 3 gelar Doctor dalam Arsitektur Islam..

✅ Seorang Termuda yang mendapatkan *Syal Nil* dan *Pangkat Besi* dari Raja Saudi Arabia.

✅ Dia adalah Insinyur pertama yang melakukan Perencanaan dan Implementasi proyek perluasan Masjidil Haramain (Mekkah dan Madinah).

Dan Dia juga yang menolak menerima bayaran untuk Desain Teknik dan Pengawasan Arsitekturalnya kedua Mesjid tersebut....

Meskipun diketahui ada upaya dari Raja Fahd dan perusahaan Bin Laden untuk membayar berapapun yang dia tuliskan dalam selembar cek..

------
Ketika Kamal mengembalikan cek kosongnya, dia mengatakan kepada Bakar Bin Laden :

๐Ÿ”ธ"Mengapa saya harus menerima uang (untuk pekerjaan saya) di 2 Masjid Suci (Mekkah & Madinah)"

๐Ÿ”ธ "Bagaimana saya akan menghadapi Allah (pada Hari Pengadilan nanti?)."

------
Kamal menikah pada usia 44 tahun..

Istrinya melahirkan seorang putra, tetapi kemudian meninggal, dan setelah itu ia pun tetap melajang dan mengabdikan seluruh waktunya hanya untuk menyembah Allah Ta'ala hingga wafat...

Waktu yang dihabiskannya untuk melayani 2 Masjid Suci tersebut lebih dari 100 tahun dan jauh dari pusat perhatian baik media massa, ketenaran bahkan uang sekalipun...๐Ÿ’—

-------
Kamal Sang Jenius ini memiliki kisah yang luar biasa pada saat pembangunan kedua mesjid ini..

Yaitu tentang marmer atas (karya)nya di Masjidil Harom... 

Ia ingin menutupi lantai Masjidil Harom bagi mereka yg melakukan thowaf...

Dan marmer ini berfungsi khusus untuk menyerap panas, dan adanya hanya di gunung kecil di Yunani...

------
Saat itu Kamal pun melakukan perjalanan ke Yunani dan menandatangani kontrak untuk membeli marmer dalam jumlah yang banyak untuk Masjidil Haram (marbling), yakni hampir setengah dari gunung marmer itu...

Ia menandatangani perjanjian dan kembali ke Mekah, sampai marmer putih itu tiba di Mekkah.

Kemudian ia pun Memulai dan Mengawasi proses pemasangan marmer putih di lantai Masjidil Haram di Mekkah sampai selesai..

-------
Setelah 15 tahun kemudian, pemerintah Saudi memintanya kembali untuk menggunakan jenis marmer yang serupa agar dipasang di Masjidil Nabawi di Madinah..

Insinyur Muhammad Kamal pun berkata, 

๐Ÿ”ธ"Ketika Raja meminta untuk menggunakan jenis marmer yang sama untuk Masjid Nabawi, saya sangat bingung",

Kenapa ?
Karena hanya ada 1 tempat di bumi ini yang terdapat marmer jenis ini, yaitu di Yunani, dan saya sudah membeli 1/2 dari deposit marmer yang ada di gunung tersebut..."

------
Kamal pun pergi ke perusahaan yang sama di Yunani dan bertemu CEO tersebut... 

Ia bertanya kepada CEO Marmer tersebut tentang deposit marmer yg tersisa 15 tahun yang lalu ...

------
CEO marmer tersebut menjelaskan bahwa setengah dari deposit marmer itu telah mereka jual segera setelah Kamal pergi 15 tahun yang lalu..

Kamal pun menjadi amat sedih....

Kamal meninggalkan pertemuan, dan ketika meninggalkan kantor mereka, dia bertemu dengan Sekretaris Kantor marmer tersebut dan memintanya untuk mencari informasi keberadaan orang yang telah membeli sisa deposit marmer itu..

Sekretaris Kantor mengatakan bahwa hal itu akan sulit diketahui jika tidak membuka arsip karena proses bisnis nya telah lama berlalu..

Namun atas permintaan Kamal, dia berjanji untuk mencari datanya di arsip tersebut...

Kamal pun memberikan alamat dan nomor kamar hotelnya, serta berjanji akan mengunjungi kembali keesokan harinya..

------
Pada hari berikutnya, 

Beberapa jam sebelum berangkat ke bandara, Kamal menerima panggilan telepon dari sekretaris yang mengatakan bahwa dia telah menemukan alamat pembeli...

Kamal pun segera menuju kantor yang dimaksud, ternyata pembelinya adalah sebuah perusahaan di Saudi Arabia..

------
Kemudian Kamal terbang ke Arab Saudi pada hari yg sama dan pada saat kedatangan, dia langsung pergi ke kantor perusahaan tersebut dan bertemu dengan Direkturnya..

Kamal pun bertanya kepadanya bagaimana kondisi marmer yang dia telah beli 15 tahun lalu dari Yunani..? 

Direktur itu berkata, dia tidak ingat..

Namun ia segera menghubungi bagian stok (perusahaan) dan bertanya kepada mereka tentang marmer putih dari Yunani, dan mereka mengatakan kepada nya bahwa semua marmer masih ada, dan tidak pernah digunakan.. 
Allahu Akbar !

Kamal mulai menangis seperti bayi, dan selanjutnya menceritakan kisah lengkapnya kepada pemilik perusahaan..

------
Kamal segera menyodorkan cek kosong (tanpa menulis besaran nilai transaksi) kepada pemilik marmer, dan memintanya menuliskan jumlah yang inginkan, berapa pun besarnya..

Ketika Pemilik marmer mengetahui bahwa marmer itu untuk pembangunan Masjid Nabawi di Madinah, dia berkata : 

๐Ÿ”ธ"Saya tidak akan menerima 1 Riyal pun..."

๐Ÿ”ธ"Allah lah yang membuat saya membeli marmer ini dan melupakannya, itu artinya marmer ini memang sudah ditakdirkan oleh Allah harus digunakan untuk Masjid Nabawi.."

Masya Allah...

Mari kita doakan Semoga Allah memberkati Kamal tempat mulia di Jannah, Aamiin....

_Ditulis oleh:_
Dr. Zaglool Al Najjar
seorang Ilmuwan Bumi.